Connect with us

Tokoh Alter Media

Teknologi Milenial Untuk Menjaga Lingkungan (Hutan)

Teknologi jaman sekarang banyak yang merusak dan tidak menghiraukan lingkungan sekitar, bagaimana kalau teknologi tersebut ternyata dapat menyelamatkan lingkungan?

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas area 7,81 juta kilometer persegi. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan per September 2017, sekitar 74 persen di antaranya adalah lautan. Dengan proporsi seperti itu, Indonesia pun kaya akan sumber daya alam: maritim, pertambangan, kehutanan, dan flora-fauna.
Namun, ekosistem darat Indonesia tak dapat diabaikan. Salah satu alasan daratan Indonesia sangat penting adalah hutannya. Dengan 62 persen dari daratan, atau sekitar 16 persen dari total wilayah Indonesia, berupa hutan, wajar bila hutan hujan tropis Indonesia merupakan yang ketiga terbesar di dunia.

Image: PT Eidara Matadata Presisi

Ekosistem hutan ini tentu turut menjadikan Indonesia negara yang kaya sumber daya alam, teristimewa flora. Akan tetapi, hutan, sebagai sebuah ekosistem, lebih dari sekadar tumbuhan atau pepohonan. Di dalamnya ada ekosistem lain seperti fauna dan manusia.
Yang patut disayangkan, banyak orang tak memerhatikan manfaat masif hutan terhadap kehidupan mereka. Padahal, hutan merupakan paru-paru bumi. Pohon-pohon hutan mengubah udara kotor penuh karbon menjadi udara bersih, yang bisa dirasakan ke wilayah lain sampai ke perkotaan.
Menjaga hutan seharusnya menjadi kewajiban manusia. Namun, perkembangan zaman dan peradaban tidak hanya kerap mengabaikan hutan, tapi juga menyebabkan kerusakan ekosistem penting tersebut.

Image: PT Eidara Matadata Presisi

Seiring mulai meningkatnya keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup hutan, Indonesia, sebagai negara berkembang dengan hutan yang luas, mulai memikirkan pencegahan kerusakan lebih lanjut sekaligus perbaikan ekosistem. Tak terelakkan, Indonesia perlu mencoba memanfaatkan teknologi yang memungkinkan pencapaian dua tujuan tersebut.
Yang menggembirakan terkait tujuan tersebut, kini mulai bermunculan pihak-pihak seperti pelaku bisnis digital rintisan (startup) yang mengedepankan teknologi dengan kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Kampanye untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia kepada hutannya hidup kembali. “Kami ingin masyarakat Indonesia sadar akan hutan negerinya dan bahkan menjadikan hutan sebagai identitas negara,” tutur Andre Christian, Ketua Umum Hutan Itu Indonesia, salah satu lembaga yang gencar menggiatkan kecintaan itu. Andre menyayangkan pula bahwa banyak orang yang tidak menyadari manfaat besar hutan dalam menyediakan udara bersih. Untuk itu, mereka berniat melibatkan masyarakat dan badan-badan (enterprise) lain dalam pelestarian hutan.
Sejumlah startup mencoba berangkat dari pemahaman bahwa satu hal yang sangat penting dalam penggunaan teknologi adalah data. Basis data menjadi hal pendukung teknologi yang tengah digalakkan untuk berbagai keperluan, termasuk pelestarian lingkungan hidup ini. Pembuatan keputusan terkait pelestarian lingkungan pun mesti berdasarkan data, bukan lagi intuisi semata.
Dalam era Industri 4.0 seperti yang dikatakan The Economist ini, data merupakan bahan bakar baru. “Siapa yang menguasai data akan mengerti dunia ini. Kami berangkat dari pemahaman itu, dan mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan berdasarkan data itu,” ucap Irendra Radjawali dari Eidara Matadata Presisi.
Terdapat sejumlah tahap yang perlu dijalani untuk mendapatkan basis data yang valid. Pertama, pengambilan atau akuisisi data. Berikutnya, analisis data dengan memanfaatkan algoritma. Ketiga, artikulasi agar data siap disajikan untuk setiap pihak yang berkepentingan. Pada perkembangannya, data akan menjadi informasi. Informasi akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan akan menjadi pemahaman. Pada akhirnya, pemahaman akan menjadi kebijakan.
Semua tingkatan pegiat sampai pembuat kebijakan pun dapat memanfaatkan data-data tersebut untuk menghasilkan aksi dan kebijakan yang tepat. Data pula yang memungkinkan keberlangsungan (sustainability) proses pelestarian alam ini.

Baca juga:  Pelopor Bisnis Kopi Coffee Shop Di Desa Batur
Data: Jejak.in

Startup-startup yang terlibat pun tidak perlu berjalan sendirian. Teknologi-teknologi yang tengah dijalankan memungkinkan partisipasi masyarakat hampir secara langsung. Masyarakat tidak harus berada di hutan untuk mengetahui perkembangan hutan, tapi cukup dengan memantau dari gawai (gadget) di genggaman tangannya.
Salah satu teknologi terbaru yang memungkinkan pemantauan secara visual adalah drone. Perangkat canggih ini akan berfungsi mengangkat sensor-sensor, yang akan menjadi data-data yang dibutuhkan. Dalam hal pelestarian hutan ini, drone digunakan untuk memetakan hutan yang akan direservasi. Eidara Matadata Presisi, menyebut bahwa sebuah drone dapat memetakan 1.000 hingga 1.500 hektar dalam 2 jam.
Masyarakat bahkan bisa turut serta melestarikan alam menggunakan drone ini tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat canggih tersebut. Seperti disebut Eidara Drone, masyarakat awal dapat membuat sendiri perangkat ini dengan biaya yang tidak mahal. Teknologi itu bisa diadakan sendiri, do it yourself (DIY), dan dilakukan bersama yang lain, do it with others (DIWO). Coba intip aktivitas menarik Eidara Matadata Presisi di https://instagram.com/eidaramatadata?igshid=1synxpw81yhxd.
Fungsi drone ini akan terasa misalnya dalam program adopsi pohon yang tengah dijalankan Hutanitu.id. Pengadopsi dapat memantau dengan bantuan GPS tracking di pohon yang mereka adopsi dalam aplikasi di ponsel. Startup lain seperti jejak.in menyediakan aplikasi di web atau gawai, hingga menyiapkan QR Code di pohon-pohon yang diadopsi. Eidara Drone menyediakan aplikasi Hiber Droners yang bisa diunggah di Google Play Store tanpa biaya.
Dipadukan dengan kamera beresolusi tinggi, pemantauan hutan dapat menjadi lebih tajam secara visual dan mampu menggali data secara presisi pula. “Orang tua asuh” dapat mengikuti perkembangan pohon yang ia adopsi, mulai dari lokasi sampai perkembangan ketinggian. Terdengar menyenangkan, bukan?
Yang masih sangat kurang tentu jumlah masyarakat yang berpartisipasi. Jumlah pengadopsi pohon baru sampai pada angka ribuan. Kolaborasi gagasan antara startup yang satu dengan yang lain sekiranya membuat pelestarian hutan ini semakin menggairahkan masyarakat pula.
Kapan kamu ambil bagian di dalamnya, Sobat Alter?

Baca juga:  Inspirasi Carolina Septerita, dari SPG sampai Chief of Art Wardah Cosmetics

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id