Connect with us

Motivasi Lifestyle

Siti Sumiati, Bidan Apung Kepulauan Seribu yang Sukses Mendunia

Siti Sumiati menjadi sosok bidan populer yang namanya mendunia berkat keberhasilannya menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia

ALTERMEDIA
Photo: Pexels

Alih-alih memilih menjalani masa pensiunnya dengan berkumpul bersama keluarga, Siti Sumiati justru memilih untuk tetap mengabdi sebagai bidan. Bahkan ia rela menjadi seorang bidan apung di Kepulauan Seribu.

Wanita kelahiran tahun 1950 itu kini memang sudah pensiun dari profesinya. Akan tetapi, jasa-jasanya sebagai bidan bagi para ibu hamil di sekitar kawasan Kepulauan Seribu masih terkenang.

Seperti apa kisah selengkapnya? Yuk, cari tahu di sini, Sahabat Alter!

Menjadi petugas kesehatan sejak 1970-an

Siti Sumiati atau yang lebih akrab disapa Bidan Sum ini merupakan sosok wanita tangguh dengan hati yang begitu tulus. Ia akan berjuang sepenuh jiwa dan raga tanpa membeda-bedakan warga yang membutuhkannya.

Sejak tahun 1970-an, ia sudah ditugaskan sebagai bidan di kecamatan
setempat. Namun, karena keterbatasan petugas kesehatan, maka Bidan Sum juga harus berkeliling Pulau Seribu untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Mengabdi dengan sepenuh hati

Meski tinggal di kawasan Pulau Pramuka, Siti Sumiati tidak pernah mengeluh untuk menyeberang ke pulau-pulau lain, mulai dari Pulau Panggang hingga Pulau Sebira, yang harus ditempuh dengan speedboat puskesmas keliling yang membutuhkan waktu selama kurang lebih tujuh jam perjalanan.

Selama lebih dari 38 tahun, Bidan Sum sudah membantu persalinan ibu hamil meski dengan fasilitas yang terbatas. Tak mengherankan jika banyak masyarakat sekitar Pulau Seribu selalu menantikan kehadiran Bidan Sum setiap harinya.

Baca juga:  Deretan CEO Dunia dengan Gaji yang Bikin Kamu Ngiler

Menurunkan angka kematian ibu melahirkan

Keberadaan Siti Sumiati sebagai bidan apung yang bertugas di kawasan Pulau Seribu ternyata juga berdampak cukup besar pada keselamatan persalinan di sana. Tercatat setidaknya sejak ada Bidan Sum, angka kematian ibu melahirkan bisa menurun hingga 0% di Kepulauan Seribu. Pencapaian ini tentu tidak terlepas dari kerja keras, perjuangan, dan keikhlasan Bidan Sum dalam melayani ibu-ibu hamil yang membutuhkan pertolongannya saat melahirkan.

Terpilih jadi wakil Indonesia di Kongres Bidan Sedunia

Sosok Siti Sumiati mencuri perhatian dunia lewat perjuangannya menyelamatkan banyak ibu melahirkan. Bahkan pada Juni 2008 silam, ia terpilih menjadi satu-satunya perwakilan bidan dari Indonesia yang hadir di Kongres Bidan Sedunia di Glasgow, Skotlandia.

Bidan Sum yang sudah mendunia ini pun tidak lantas berpuas diri dan menjadi tinggi hati. Sepulangnya dari kongres internasional tersebut, ia tetap bersemangat memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat di Kepulauan Seribu.

Mendapat penghargaan internasional

Selain diundang secara khusus untuk menghadiri Kongres Bidan Sedunia, rupanya Bidan Sum pulang tidak dengan tangan kosong. Ia berhasil membawa pulang dua penghargaan internasional yang membanggakan. Dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Bidan Sum diberi gelar “Penyelamat Ibu Melahirkan”. Sementara itu, Pemerintah Kuba juga memberikan piagam penghargaan untuk pencapaian Siti Sumiati menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Baca juga:  Profesi Make Up Artist (MUA) Jenazah

Dua penghargaan internasional ini tentu tidak akan didapatkan tanpa kerja keras dan kesungguhannya.

Pengabdian Siti Sumiati layak menjadi inspirasi bagi Sahabat AlterMenjadi sosok wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah memang bukan hal yang gampang. Namun, dengan tekad dan ketulusan hati, kamu juga bisa meniru keberhasilan Bidan Sum dalam mengabdikan diri untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Melihat pengabdian Siti Sumiati, sudah tentu Sahabat Alter semakin terinspirasi. Menjadi sosok wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah memang bukan hal yang gampang. Namun, dengan tekad dan ketulusan hati, kamu juga bisa meniru keberhasilan Bidan Sum dalam mengabdikan diri untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Terlepas dari apa pun bidang keilmuan yang kamu tekuni, pastikan bahwa nantinya kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Inspiring other people
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Motivasi Lifestyle

Setelah ‘Hijrah’, Zaskia dan Shireen Sungkar Sukses Jadi Enterpreneur Muda

Zaskia dan Shireen Sungkar memutuskan untuk hijrah dan perlahan meninggalkan dunia keartisan dan kompak membangun kerajaan bisnis di berbagai sektor industri

Photo: Instagram Zaskia Sungkar

Fenomena ‘Hijrah’ sedang populer di kalangan selebritas Indonesia. Beberapa yang memutuskan hijrah adalah kakak-adik Zaskia-Shireen Sungkar. Kedua putri pasangan selebritas Mark Sungkar dan Fanny Bauty kini kompak membangun rumah tangga sesuai dengan ajaran agama Islam. Setelah sama-sama menikah, Zaskia dan Shireen Sungkar bahkan memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang telah memopulerkan nama mereka.

Lantas, bagaimana cara Zaskia dan Shireen Sungkar mengumpulkan pundi-pundi uang setelah keluar dari dunia keartisan? Berikut kisah lengkap perjalanan hijrah yang dilakukan keduanya dalam membangun kerajaan bisnis.

Pernah dipaksa memakai hijab oleh sang ayah

Terlahir dari keluarga keturunan Yaman yang sangat Islami, Zaskia dan Shireen Sungkar ternyata pernah dipaksa oleh sang ayah, Mark Sungkar, untuk memakai hijab saat masih sekolah dulu. Keduanya bahkan pernah dipaksa untuk melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren. Karena belum merasa siap, maka baik Zaskia maupun Shireen Sungkar pada akhirnya melepas jilbab dan terjun ke dunia keartisan sebagai seorang penyanyi dan pemain sinetron.

Sebuah sekolah TK jadi lahan bisnis pertama

Kakak beradik yang pernah mempopulerkan lagu berjudul Jauh di Mata Dekat di Hati ini sudah mulai menekuni dunia bisnis sejak 2011 lalu. Bisnis pertama yang didirikan oleh Zaskia dan Shireen Sungkar ini adalah sebuah Taman Kanak-kanak di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Dinamakan TK Khalifah, sekolah tersebut juga bernapaskan Islam dengan pendidikan akidah dan mengutamakan enterpreneurship.

Pelopor bisnis fashion hijab di kalangan artis

Sejak memutuskan untuk lebih dulu berhijab pada 2013, Zaskia Sungkar yang punya minat dan bakat di bidang fashion berhasil menciptakan ladang bisnis yang menguntungkan. Bahkan disebut-sebut sosoknyalah yang menjadi pelopor bisnis fesyen hijab di kalangan artis ibu kota. Terbukti hingga saat ini setidaknya Zaskia Sungkar sudah memiliki tiga brand populer atas namanya sendiri, yaitu KIA, ZASHI, dan Zaskia Sungkar Jakarta.

Baca juga:  Deretan CEO Dunia dengan Gaji yang Bikin Kamu Ngiler

Tidak ingin kalah dari sang kakak, Shireen Sungkar pun membangun sebuah brand fesyen muslim untuk anak-anak dan keluarga bernama Gerai Hawa. Bersama suaminya, Teuku Wisnu, Shireen berhasil membuka beberapa cabang Gerai Hawa di luar Jakarta, seperti Batam, Banjarmasin, dan Makassar.

Mencetuskan bisnis kue kekinian artis

Meski sudah jarang muncul di layar televisi, Zaskia dan Shireen Sungkar tidak kehilangan pundi-pundi penghasilan karena bisnis-bisnis yang dimiliki. Selain bergerak di bidang fashion, keduanya juga merambah di dunia kuliner. Mereka mencetuskan bisnis oleh-oleh kekinian kue artis Malang Strudel, disusul kemudian dengan Surabaya Snow Cake, Rain Cake Bogor, hingga Napoleon Cake.

Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi menginspirasi terbentuknya Jannah Corp yang didirikan oleh Zaskia Sungkar dan Irwansyah. Perusahaan manajemen ini menggabungkan beberapa bisnis kue kekinian milik artis-artis lain, seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Vidi Aldiano, Prilly Latuconsina, dan Melly Goeslaw.

Bisnis tour and travel tidak dilewatkan begitu saja

Melengkapi perjalanan ‘hijrah’ untuk memperdalam ilmu agama, Zaskia dan Shireen Sungkar juga mendirikan sebuah Taman Pendidikan Alquran di TK Khalifah. Di samping itu, banyaknya jamaah umroh dan haji di Indonesia membuat Zaskia Sungkar dan suaminya, Irwansyah, tertarik untuk mendirikan bisnis tour and travel yang khusus untuk haji dan umroh. Dinamakan Jannah Tour and Travel, bisnis ini juga cukup diminati oleh masyarakat Indonesia.

Baca juga:  Kebiasaan Harian CEO Berikut Ini Wajib Kamu Tiru

Perjalanan hijrah yang harus dilalui oleh Zaskia dan Shireen Sungkar memang tidak mudah, terlebih meninggalkan panggung hiburan yang sudah membawa namanya melambung. Namun, dengan berbekal tekad dan jiwa enterpreneurship yang kuat, kedua artis cantik ini sukses membangun kerajaan bisnis setelah berhijrah. Sahabat Alter juga tertarik untuk memulai bisnis seperti mereka? Semoga berhasil, ya!

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Sosok-sosok di Balik Keputusan Deddy Corbuzier Mualaf

Deddy Corbuzier sudah secara resmi memeluk agama Islam dan menjadi mualaf setelah berguru dengan Gus Miftah dan rutin mendatangi kajian Cak Nun

Altermedia.id
Photo: instagram @masterCorbuzier

Mengawali karier di panggung hiburan sebagai seorang magician dan mentalis, kini sosok Deddy Corbuzier juga populer sebagai host untuk program talkshow bertajuk Hitam Putih. Tidak berhenti sampai di situ saja, berbagai iklan televisi dan film pernah dibintangi oleh pria 42 tahun tersebut. Dikenal sebagai sosok cerdas dengan pemikirannya yang begitu kritis, Deddy Corbuzier mengejutkan publik dengan keputusannya memeluk agama Islam beberapa waktu lalu.

Terlatih menghadapi bullying sejak kecil

Jauh sebelum menjadi sosok sukses seperti saat ini, semasa kecilnya Deddy sering kali menjadi korban bullying dari teman-teman di sekolah. Hal ini terjadi lantaran latar belakang keluarga sederhana, sementara ia masuk sekolah elite dengan teman-temannya yang terbilang jauh lebih mampu secara ekonomi. Di samping itu, Deddy kecil juga memiliki tubuh yang cukup gemuk, sehingga lengkap sudah bahan ejekan yang bisa diberikan untuknya di masa itu. Inilah yang membuat Deddy cukup “tahan banting” dengan komentar warganet alias netizen di media sosial pribadinya.

Tidak naik kelas karena disleksia

Meski berhasil meraih gelar master psikologi di Universitas London, Inggris, ternyata Deddy pernah tidak naik kelas saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, kondisi disleksia ini baru disadari saat sudah berada di SMA. Semasa sekolah, Deddy mengaku sulit mengikuti pelajaran, mengingat nama teman, hingga menghapal rute jalan dari rumah ke sekolah. Bahkan sampai saat ini, selama memandu acara talkshow, timnya harus menyiapkan tulisan nama bintang tamu pada sebuah papan tulis yang diletakkan persis di depannya.

Baca juga:  Kisah Dede Oetomo, Perjuangkan Hak-Hak Kaum LGBT di Indonesia

Jadi pesulap di Dunia Fantasi

Jauh sebelum menjadi pesulap yang populer dan punya banyak penggemar, di usianya yang masih 12 tahun, pemilik nama lengkap Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo ini pernah mempertunjukkan aksi sulapnya di Dunia Fantasi (Dufan). Saat itu, ia bahkan hanya menerima bayaran sebesar Rp50.000 untuk satu kali tampil. Baru pada 1998 ia mendapat kesempatan tampil di layar televisi. Tampilan unik dan nyentrik ala Kaisar Ming membuat sosoknya mudah dikenali oleh masyarakat luas sejak saat itu.

Tertarik dengan Islam sejak bertemu Gus Miftah

Gus Miftah, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, untuk kali pertama bertemu dengan Deddy Corbuzier saat menjadi bintang tamu di acara Hitam Putih. Keakraban mulai terjalin karena obrolan-obrolan yang nyambung, termasuk banyak pertanyaan Deddy Corbuzier tentang Islam. Keduanya bahkan sempat beberapa kali melakukan kolaborasi di channel YouTube. Muncullah pengakuan Deddy bahwa ia ingin berguru dengan Gus Miftah dan belajar banyak hal terkait Islam di kajian-kajian Cak Nun.

Mantap menjadi mualaf

Setelah delapan bulan wira-wiri mempelajari agama Islam, Deddy akhirnya mantap memeluk agama Islam dan menjadi seorang mualaf. Prosesi perpindahan agama ini berlangsung pada 21 Juni 2019 di Masjid Al-Mbejaji yang masih berada satu kompleks dengan Pondok Pesantren Ora Aji, Yogyakarta, yang diasuh oleh Gus Miftah. Setelah melalui prosesi tersebut, K.H. Ma’ruf Amin menyarankan agar Deddy menambahkan nama Islam tanpa perlu mengganti nama aslinya. Meski sempat galau, nama Ahmad Deddy Cahyadi akhirnya dipilih oleh pria berkepala plontos tersebut.

Baca juga:  Cara Menghadapi Orang Tua yang Terkena Post Power Syndrome

Sobat Alter, keputusan Deddy Corbuzier menjadi mualaf masih menuai pro dan kontra sampai saat ini. Beberapa pihak memberi dukungan, sementara tidak sedikit pula netizen yang mengaitkan hal ini dengan hubungan Deddy dan tunangannya, Sabrina Chairunnisa, mantan finalis Puteri Indonesia 2011 yang beragama Islam. Bagaimana kalau menurut pendapatmu?

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Tokoh Pejuang Kelautan dan Perikanan Indonesia yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Ayo berkenalan dengan tiga tokoh yang membuat kelautan dan perikanan Indonesia bisa tetap kuat dan semakin berkembang hingga detik ini.

ALTERMEDIA
Photo: Pexels

Sebagai negara dengan wilayah perairan yang luas, julukan negara maritim disematkan kepada Indonesia. Hal ini tentu saja wajar karena kekayaan laut Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia dan bisa menarik perhatian dunia.

Ya, kekayaan laut Indonesia yang melimpah membuat sosok-sosok berikut ini bisa memperkenalkan negara ini kepada dunia. Mereka memperjuangkan kelautan dan perikanan Indonesia. 

Apakah Sobat Alter penasaran? Jika penasaran, ayo berkenalan dengan tiga tokoh yang membuat kelautan dan perikanan Indonesia bisa tetap kuat dan semakin berkembang hingga detik ini.

Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid 
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia pertama yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal sebagai Gus Dur. Jika mendengar nama beliau, pastinya banyak yang tidak menyangka bahwa pada masa kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 ini, Gus Dur menciptakan Departemen Eksplorasi Laut yang merupakan cikal bakal Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ya, ketika pada masa sebelumnya sama sekali tidak ada yang peduli atau memfokuskan satu pemimpin di kabinet pemerintahan untuk mengurus kelautan dan perikanan, Gus Dur malah melihat faktor ini harus dipimpin oleh seorang menteri.

Ide brilian ini terus dieksekusi secara perlahan-lahan, walaupun awalnya sempat mengalami kesulitan juga. Bahkan ketika sudah tidak menjabat sebagai presiden, Gus Dur masih tetap membantu para nelayan tentang kebijakan penggunaan jaring batu yang hanya menguntungkan perusahaan besar saja pada 2006. Dari sikap dan dedikasi Gus Dur dalam kelautan dan perikanan Indonesia, sudah sangat jelas beliau layak masuk ke dalam daftar ini.

Baca juga:  Sosok-sosok di Balik Keputusan Deddy Corbuzier Mualaf
Rokhmin Dahuri
Rokhmin Dahuri
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia kedua yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Rokhmin Dahuri. Jika Sobat Alter masih asing mendengar namanya, Rokhim adalah Menteri Eksplorasi Kelautan yang kemudian berganti menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2001 hingga 2004. Sejak kecil, beliau sudah sangat dekat dengan dunia laut dan perikanan Indonesia.

Kedekatan itu dikarenakan beliau lahir dengan ayah seorang nelayan tradisional dan ibu seorang pedagang ikan pasar. Perjalanan kariernya pun dibangun berdekatan dengan dunia yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Bahkan ketika masih menjadi Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil saat Gus Dur masih memerintah, Rokhmin terus mengemukakan perjuangannya kepada pemerintahan. Berkat usahanya ini, Rokhmin berhasil naik menjadi menteri di pemerintahan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia ketiga yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Susi Pudjiastuti. Jika Sobat Alter tidak mengikuti sepak terjang beliau selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Kerja, maka sangat disayangkan.

Ya, pernyataan di atas tidaklah berlebihan. Wanita yang akrab dipanggil Bu Susi ini terlihat sangat jelas memperjuangkan hak nelayan yang semakin terganggu para pengusaha besar. Nama beliau tidak hanya terkenal di Indonesia saja. Ia tersohor hingga ke dunia internasional berkat salah satu kebijakannya yang dianggap kontroversial, tapi sangat didukung masyarakat Indonesia, yaitu menenggelamkan kapal asing pencuri ikan.

Baca juga:  Kisah Dede Oetomo, Perjuangkan Hak-Hak Kaum LGBT di Indonesia

Dengan kebijakannya yang ingin menjaga kekayaan laut dan perikanan Indonesia dari pihak asing, Bu Susi tidak pernah setengah hati menjalankan tugasnya dan menjadi menteri yang dicintai oleh rakyat Indonesia yang senang melihat tugasnya selama ini.

Bagaimana? Apakah Sobat Alter sudah kenal dengan tiga tokoh di atas? Demi bisa menjaga kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia, Sobat Alter jangan lupa untuk turut ikut andil agar julukan negara maritim semakin kuat sepanjang waktu.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Dandhy Laksono: Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Dokumenter

Mengenal Dandhy Laksono, sosok di balik Sexy Killers yang membuat banyak film dokumenter bertemakan isu lingkungan di Indonesia.

ALTERMEDIA
Photo: Instagram @dandhy_laksono

Nama Dandhy Laksono mencuat menjelang pelaksanaan pemilu pada April 2019 lalu. Hal yang menyebabkannya tiba-tiba populer di kalangan masyarakat adalah film dokumenternya yang mengangkat topik kondisi lingkungan dan alam Indonesia. Sexy Killers, film garapan Dandhy Laksono dan Ucok Suparta, ditonton sebanyak 21 juta kali oleh masyarakat Indonesia. Film dokumenter ini menjadi fenomenal karena tanggal perilisannya yang dekat dengan pelaksanaan pemilu. Beragam komentar dan tanggapan dilayangkan pada film dokumenter Dandhy ini. 

Bagaimanakah sosok Dandhy Laksono yang sebenarnya? Dan apa alasan terbesar Dandhy membuat film dokumenter Sexy Killers? 

Di balik Sexy Killers Dandhy Laksono

Pria dengan nama lengkap Dandhy Dwi Laksono ini memang menunjukkan kecintaannya terhadap film dokumenter sejak lama. Sexy Killers bukanlah film dokumenter pertamanya. Film ini hanya satu dari dua belas film yang digarap Dandhy Laksono dengan Ucok Suparta. Film yang resmi dirilis di YouTube pada 13 April 2019 ini merupakan secuil kisah perjalanan yang dilakukan Dandhy Laksono saat mengelilingi Indonesia, dalam Ekspedisi Indonesia Biru sepanjang 2015. 

Sebelum resmi dirilis melalui kanal berbagi video gratis Youtube, film Sexy Killer sudah ratusan kali ditonton oleh jutaan pasang mata melalui acara nonton bareng di 476 titik di kota-kota seluruh Indonesia pada rentang 5-11 April 2019. Bahkan setelah dirilis di Youtube pun, Sexy Killers masih ditonton dalam acara nobar yang dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga pesantren. 

Baca juga:  Sosok-sosok di Balik Keputusan Deddy Corbuzier Mualaf

Alasan pemilihan judul Sexy Killers dan tema lingkungan yang diangkat

Sebagai penonton, mungkin Sobat Alter bertanya-tanya apa alasan pemilihan judul Sexy Killers untuk sebuah film dokumenter yang mengangkat tema pertambangan batu bara di Indonesia. Jika dilihat sekilas, memang judul Sexy Killers tidak menggambarkan film dokumenter tentang pertambangan batu bara. Namun, Dandhy Laksono memiliki pandangan sendiri tentang judul dan tema filmnya.

Film yang berlatar belakang pertambangan batu bara di Kalimantan Timur ini merupakan satu dari sekian banyak cerita perjalanan Dandhy Laksono dalam Ekspedisi Indonesia Biru. Dalam perjalanan tersebut, Dandhy Laksono menemukan banyak sekali cerita masyarakat terkait isu sosial yang dihadapi dan tidak pernah diangkat ke permukaan. Sebagai seorang jurnalis, Dandhy Laksono ingin Sobat Alter dan masyarakat lain mengerti bahwa ada banyak sekali masalah sosial di Indonesia. 

Menurut Dandhy Laksono, judul Sexy Killers digunakan untuk menggambarkan batu bara sebagai komoditas yang murah, masif, mudah, terjangkau, dan menghasilkan banyak keuntungan. Secara bisnis, batu bara ini dianggap seksi. Maka dari itu, diberikanlah judul Sexy Killers untuk film dokumenter yang mengangkat isu pertambangan batu bara. 

Mengenal sosok Dandhy Laksono dan rumah produksi WatchDoc 

Bagi yang tidak tahu, mungkin kamu akan bertanya-tanya siapa Dandhy Laksono dan bagaimana sepak terjang kariernya di bidang pembuatan film dokumenter hingga berhasil membuat film yang memukau jutaan masyarakat Indonesia. 

Baca juga:  Hotman Paris, Sosok Pengacara Dermawan

Dandhy Laksono awalnya dikenal sebagai salah satu jurnalis senior dan profesional di sebuah media massa. Ia pernah bekerja di media cetak, online, televisi, dan radio. Ia adalah wartawan, aktivis, sekaligus pendiri rumah produksi film dokumenter WatchDoc. Setelah bertahun-tahun menjalani profesi sebagai jurnalis, Dandhy Laksono ingin lebih mengangkat tema dan isu sosial di Indonesia yang masih tersimpan rapat dan tidak pernah dibawa ke ruang publik. 

Dengan mendirikan rumah produksi WatchDoc, Dandhy Laksono membuat 125 episode film dokumenter dan 540 feature televisi, bersama sesama rekan mantan wartawan, Andhy Panca Kurniawan. Sebanyak 40 karya Dandhy Laksono yang dibuat di WatchDoc pernah mendapat berbagai macam penghargaan. 

Bisa dikatakan, hampir seluruh karya Dandhy Laksono di WatchDoc mengangkat isu lingkungan dan sosial Indonesia. Ini karena sebagai seorang jurnalis, Dandhy Laksono ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa masih banyak sekali hal yang tidak Sobat Alter ketahui. Melalui film dokumenternya, Dandhy Laksono ingin mengajak Sobat Alter dan masyarakat agar tidak menutup mata pada masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. 

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Belajar Jadi “Orang Bodoh” yang Sukses dari Bob Sadino

Ada banyak pelajaran dan motivasi yang bisa dipetik dari kehidupan pengusaha sukses Bob Sadino. Termasuk jadi “orang bodoh” yang sukses!

altermedia indonesia
Photo: Wikipedia bahasa Indonesia

Pengusaha sukses asal Lampung, mendiang Bob Sadino, memang memiliki kisah hidup yang selalu menarik untuk dibahas. Selain penampilannya yang selalu terlihat nyentrik, Bob Sadino juga punya kiat-kiat nyeleneh agar bisa menjadi seorang yang sukses secara finansial. Tertarik untuk bisa sukses seperti Bob Sadino? Simak perjalanan hidup beserta wejangan-wejangan dari mendiang Bob Sadino berikut ini, Sobat Alter!

Lahir dari keluarga berkecukupan

Sebenarnya Bob Sadino lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan. Warisan dari orang tuanya yang didapat saat ia berusia 19 tahun bahkan mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Namun, alih-alih memilih hidup tenang dengan harta warisan, Bob justru memilih untuk berkeliling dunia.

Setelah puas menjelajah dunia, Bob memutuskan untuk tinggal di Belanda dan bekerja untuk Djakarta Lloyd. Di sana ia kemudian memutuskan untuk menikahi Soelami Soejoed. 

Sembilan tahun berselang, Bob dan keluarga kecilnya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air pada 1967. Kepulangan Bob saat itu bisa dibilang sangat mewah karena ia juga mengangkut dua buah mobil Mercedes miliknya. Sesampainya di Tanah Air, ia bahkan membeli tanah di kawasan elite Kemang, Jakarta Selatan.

Keluar dari pekerjaan kantoran

Pulang ke Indonesia juga membuat Bob terbuka akan pemikiran-pemikiran baru. Salah satunya adalah keinginan untuk mulai merintis usaha sendiri dan berhenti menjadi karyawan. Ide tersebut pun ia jalani. Ia keluar dari perusahaan yang memberinya gaji besar dan memutuskan untuk menyewakan dua mobil mewahnya.

Baca juga:  Hotman Paris, Sosok Pengacara Dermawan

Sayang, pada suatu saat, mobil-mobil mewah tersebut harus mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan lagi. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, Bob pun tidak bisa memperbaiki mobilnya seperti sedia kala. Ia akhirnya memilih untuk menjadi seorang kuli bangunan dengan gaji Rp100 setiap hari.

Rintis bisnis baru tanpa pikir panjang

Perubahan karier dari seorang pekerja kantoran menjadi kuli bangunan tentu membuat mental Bob jatuh. Ia bahkan sempat merasa depresi di masa-masa itu.

Beruntung, seorang rekan menyarankan Bob Sadino untuk memulai bisnis telur ayam negeri. Bob, yang memang terkenal tidak suka membuat perencanaan, pun langsung mengiyakan ide tersebut. Dengan modal seadanya, ia mulai merintis bisnis telur ayam negeri untuk bersaing dengan telur ayam kampung yang populer saat itu.

Namun, lama-kelamaan bisnis nekat Bob mulai mendapat pasar tersendiri. Para ekspatriat dan orang Indonesia yang lama bermukim di luar negeri sangat menyukai telur dagangannya. Harga telur ayam negeri yang cukup bersahabat pun lama-kelamaan menarik lebih banyak pembeli lokal. Siapa sangka, kesuksesan tersebut dimulai dari pemikiran “bodoh” karena diambil dalam waktu singkat?

Segera kembangkan bisnis baru

Meski bisnis telur ayam negeri miliknya bisa dibilang tidak selalu mulus, Bob tidak kapok untuk memulai bisnis baru yakni berjualan daging ayam kampung. Pada awal-awal perluasan bisnis ini sudah bisa diduga. Bob selalu merugi karena orang-orang tidak terlalu tertarik dengan daging ayam negeri.

Baca juga:  Cara Menghadapi Orang Tua yang Terkena Post Power Syndrome

Namun, dalam buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, justru hal itulah yang dicarinya. Ia menganggap bahwa kerugian dan kegagalan adalah sebuah hal yang wajib dilalui sebelum mencapai kesuksesan. 

Sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan mendiang Bob Sadino. Namun, dari sini saja Sobat Alter bisa belajar bahwa pemikiran-pemikiran nyeleneh atau bahkan bodoh seperti mencari kegagalan pun bisa mendatangkan kesuksesan. Bagaimana, Sobat Alter, tertarik untuk mengikuti tips bisnis ala orang bodoh dari Bob Sadino?

Inspiring other people
Continue Reading

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id