Carolina Septerita wardah

Perjalanan Karier MakeUp Artis Carolina Seperita

Awal Karier

Altermedia.id Carol, sapaan akrab bagi wanita yang berusia 40 tahun ini, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Memiliki adik laki-laki dengan jarak usia yang lumayan jauh, yakni 4 tahun, membuat kedua orang tuanya lebih fokus menabung untuk membiayai kuliah adiknya.

“Orang tua saya memang sedang menabung untuk biaya kuliah adik saya. Maklum, yang diprioritaskan adalah anak laki-laki karena anak laki-laki kan yang akan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Jadi, saat itu memang laki-laki yang dinomorsatukan. Jadi saya harus membantu, setidaknya dapat meringankan beban orang tua dengan punya penghasilan sendiri,” begitu ucapnya.

Carol mengawali karier mejadi SPG. Ia pun sempat menjadi waitress dan BA. Ia berkisah pernah bergaji di bawah UMR, bahkan di bawah lima ratus ribu rupiah. Carol menilai, apa pun yang ia jalani, yang terpenting tidak merepotkan orang tua.

Mengurangi beban dan bisa memberikan orang tua sebagian hasil upahnya menjadi mindset utama bagi Carol dalam bekerja. Hanya, ternyata upah minimum tidak cukup untuk diberikan ke orang tua dan sebagian untuk kebutuhan kerja dan lain-lain. Akhirnya, ia berpikir tidak dapat membantu adiknya untuk kuliah kalau terus bekerja dengan upah kecil.

rumah carolina seperita
rumah carolina seperita di bilangan jakarta barat

Perubahan karier

Perubahan karier makeup artis Carol berawal dari mengambil brosur-brosur make up yang ada di pusat perbelanjaan. Kemudian ia mulai bekerja di salah satu merek lokal kosmetik yang baru saja meluncurkan produknya. Posisi awalnya adalah menjadi BA, lalu ia mengalami beberapa kenaikan posisi. Setelah BA, Carol menjadi koordinator promosi, field controller, sales and promotion supervisor, trainer, sampai terakhir menjadi make up artist.

Carol sempat pula merasa cukup bekerja selama 9 tahun mengingat gaji yang tidak kunjung naik. Padahal, menurut Carol, pekerjaannya banyak banget sehingga terasa tidak sesuai dengan jabatan.

Carolina Septerita wardah
Berfoto di tengah kunjungan kerja New York Fashion Week. foto akun instagram Beliau

Pada 2004, Carol memutuskan untuk move on karena melahirkan anak pertamanya, Khofifah Albena Akbar. Sempat berhenti bekerja hingga 2007 ternyata tidak bisa membuatnya mudah melupakan dunia kerja.

Pada 2007, Carol bekerja di PT. Paragon yang membawahi produk kecantikan dengan merek Wardah. Saat awal masuk ke Wardah, ia menjadi kordinator BA. Pada saat itu, Wardah pun masih baru. Struktur organisasinya belom sekuat produsen kosmetik-kosmetik lain.

Pada 2007 hingga 2009, Carol mendapat tugas mengurusi penjualan, promosi-promosi di mal, pasar tradisional, pasar modern, sampai memberikan kursus kecantikan di institusi-institusi.

Menuai benih dari hasil kerja keras

Tanda-tanda kesuksean Carol dan Wardah sudah terlihat pada 2009. Saat itu, Carol diberikan tugas membentuk team art. Ia kemudian menyewa MUA untuk promosi di televisi-televisi nasional.

Momentum merebaknya hijaber yang tak luput dari perhatian Wardah. Kesuksesan itu tak luput dari peran Carolina Septerita. Hingga sekarang, Wardah tetap konsisten memberikan yang terbaik untuk para konsumennya.

carolina seperita
foto dokumen pribadi beliau dari perjalanan karier di luar negeri

Meledaknya iklan TVC yang dibintangi oleh Dewi Sandra pada 2013
memberikan kesempatan bagi Wardah untuk ekspansi ke luar negeri. Tugas berat menanti.

sandra dewi wardah
iklan TVC yang dibintangi oleh Dewi Sandra pada 2013

“Butuh waktu, ketelitian, kesabaran untuk membangun perusahaan yang baru. Apalagi, Wardah merupakan produk kosmetik halal pertama di Indonesia. Enggak gampang memberikan edukasi tentang halal product ke
masyarakat.

Di situlah PR bagi saya. Awalnya produk kami memang untuk muslimah, tetapi makin ke sini, orang-orang sudah mulai aware dengan halal product. Jadi sebenarnya produk halal itu aman dan nyaman untuk digunakan.

warda kosmetik
salah satu banner acara Indonesia Fasion Week 2018

Dari proses pembuatan hingga pengemasannya pun mendapat sertifikat dari MUI”, begitu penjelasan dari Carol. Di balik kesuksesan ibu satu anak ini dalam meniti kariernya, ada hal yang membuatnya tersentuh, yaitu ketika disinggung tentang anak.

Ketika siang itu Alter mendatangi rumahnya, ia membagikan kisah hidupnya dari sisi lain. Yang terlihat ceria dan riang, belum tentu ia
setegar batu karang. Begitulah kira-kira yang dapat digambarkan untuk
seorang Carolina Septerita.

Ketika ditanya tentang anak, langsung matanya berkaca-kaca.

carolina seperita
dokument interview altermedia.id di kediaman beliau

“Saya memang suka melankolis kalau sudah disinggung soal anak. Pekerjaan promosi itu bisa membuat saya pulang malam terus. Hampir setiap hari saya punya hanya sedikit waktu untuk quality time dengan anak. Jadi, saya merasa kurang waktu bersama anak dan kehilangan momen-momen berharga waktu dia kecil,” pungkasnya.

Khofifah Albena Akbar, gadis kecil cantik keturunan Belanda Jerman, adalah penyemangat hidup bagi Carol. Bagi wanita kebanyakan, menjadi ibu sekaligus wanita karier tidaklah mudah untuk dijalani.

Karier dan keluarga seharusnya seimbang. Carol sebagai ibu pastilah
menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Sejak kecil, Ofi, panggilan si kecil, selalu diajak ke toko buku untuk belajar membaca atau bermain setiap minggunya.

Khofifah Albena Akbar (Ofi) anak dari carolina seperita
Khofifah Albena Akbar (Ofi)

Hingga sang putri tumbuh menjadi gadis remaja pun Carol selalu mengajaknya ke toko buku. Sampai-sampai ketika Carol berpergian ke luar negeri, buku menjadi oleh-oleh untuk anaknya.

Siapa yang menyangka, anak cantik yang mungil dan tumbuh menjadi remaja ini pernah mendapatkan perlakuan bullying. “Waktu itu kan Ofi masih kecil,. Saya tuh seneng banget melihat anak gemuk.

Jadilah saya selalu kasih dia makan. Saat ada pertanyaan, hadiahnya pun makanan. Nah, sampai pada waktu kelas 4 SD, Ofi overweight.

Beberapa temannya merundung dengan sebutan-sebutan yang gak pantas didengar. Saya enggak tahu, sampai akhirnya mendapati Ofi lagi di dalam selimut sambil menangis. Ketika ditanya, dan dengar langsung penjelasannya, langsung saya menangis.

Khofifah Albena Akbar (Ofi)
Dokumen altermeida.id di kediaman Ofi

“Ternyata salah. Ibu tidak boleh egois dengan mendesakkan keinginannya untuk anaknya sehingga terlihat baik di matanya. Orang lain akan melihat dengan cara yang berbeda,” terangnya.

Sejak saat itu, Carol selalu berusaha memberikan waktu berkualitas termasuk sharing kepada anaknya. Ia juga memiliki trik yang jitu, yaitu mengikuti kemauan anak tanpa harus memaksanya, dan memberikan kepercayaan pada anak.

“Yang penting anak tetap dalam pengawasan meskipun kita bebaskan,” tambahnya.

carolina seperita

Tips lainnya adalah menggali potensi yang ada dalam diri anak. Itu ternyata lebih bagus dibanding memaksa anak untuk mempelajari apa yang menjadi kelemahaan dalam pelajarannya.

“Ofi itu suka sekali dengan bahasa. Jadi saya mendukung penuh. Contohnya dengan mengikutkannya dalam lomba speech. Dia suka speech, dan pertama kali ikut lomba speech Ofi menang se-Al Azhar Jabodetabek. Di situ saya merasa bangga banget. Sekarang bahasa Inggris Ofi sudah casciscus. Ia juga bisa bahasa Belanda, tapi belum casciscus. Kemampuannya bisa ditambah lagi. Sekarang ia sedang mengikuti les bahasa Mandarin,” sambungnya ketika diwawancara oleh team Alter.

Ketika Ofi mengalami perundungan (bullying), Carol sangat terpukul dan berusaha untuk tetap ada di sampingnya. Untuk menebus momen-momen yang terlewatkanpada waktu Ofi kecil, sekarang Carol membalasnya dengan curahan kasih sayang kepada anak semata wayangnya tersebut.

“Sekarang, setiap Ofi mau tidur, aku selalu minta maaf dan membisikkan
ke telinganya, ‘I love you so much‘. Aku enggak pernah merasa malu
atau gengsi untuk mengungkapkan perasaanku. Kalau memang salah
aku selalu minta maaf. ‘Maafin mama, ya nak’.

Saya juga enggak pernah gengsi untuk bilang terima kasih. Intinya, kalau kita salah, kita minta maaf. Kalau dia membantu, kita juga mesti berterima kasih. Ungkapan itu memang harus diutarakan. Jadi, ketika anak salah, dia juga akan meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Saya sebisa mungkin buat dia merasa nyaman. Kayak teman saja. Jadi enggak ada yang ditutup-tutupin.” Begitu penjelasannya saat ditemui di kediamannya.

Tantangan terberat bagi Carol adalah ketika anak mulai kritis dan
banyak bertanya. Sebisa mungkin ia memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak.

Anak tidak bisa ditakut-takuti, apalagi dengan mitos-mitos yang tidak baik bagi perkembangannya. Sedini mungkin, orang tua juga harus memberikan pemahaman tentang sex education. Banyak kasus pelecehan seksual terjadi karena sex education dinilai masih tabu.

“Kita tidak tahu remaja sekarang. Semua bisa diakses lewat internet. Kita sebagai orang tua tidak dapat mengawasi anak 24 jam. Daripada dia penasaran, aku kasih tahu dan enggak ada yang aku tutup-tutupi. Yang penting anak juga harus terus terang kepada kita. Makanya Saya berusaha untuk menjadi teman juga untuk Ofi,” sambungnya saat ditanya tentang tantangan terberat pada saat memiliki anak yang tumbuh remaja.

Sebagai penutup, Carol berkata bahwa saat ini apa yang ia lakukan adalah berbuat baik kepada siapa pun. Ia berpendapat bahwa apa yang dilakukan akan kembali kepada dirinya. Namun, Carol berkata pula bahwa untuk setiap kebaikan yang ia lakukan saat ini, ia berharap akan kembali ke anaknya.

“Semua, apa pun yang saya lakukan buat anak, perbuatan baik, saya minta kepada Allah semoga berkahnya kembali untuk anak. Aku tuh sayang banget sama dia,” tutupnya dengan berlinang air mata.

Nah, Sobat Alter, kita bisa memetik pelajaran dari satu pengalaman baik yang kita dapat. Apa pun yang kita lakukan, apa pun yang kita perbuat akan kembali ke diri kita. Berbuat baiklah agar kebaikan itu tumbuh dalam
diri kita sehingga kita dapat menuai kebaikan lagi dari semesta.

Catatan: Carolina Septerita telah meninggal dunia pada 30 Mei 2019. Semoga arwahnya mendapatkan kedamaian abadi di akhirat. Semoga keluarganya diberikan ketabahan dan penghiburan. Perjalanannya semasa hidup niscaya akan tetap menjadi inspirasi bagi kita.

    Tinggalkan Balasan