Connect with us

Tips Inspiratif

Ini Keindahan Yang Dimiliki Gereja Tuan Ma – Larantuka

Gereja Tuan Ma – Larantuka terletak di Kabupaten Flores Timur, tepatnya di daerah Larantuka. Sedangkan Tuan Ma adalah nama patung yang terletak di Pantai Larantuka yang biasa digunakan untuk upacara kerohanian suci umat Katolik. Sebuah upacara kerohanian suci ini tak dilakukan sembarang orang dan ada sejarah yang panjang di balik upacara ini dan munculnya patung Tuan Ma.

Sejarah Gereja Tuan Ma – Larantuka

Cerita sejarah yang menyertai gereja dan patung yang berada di Pantai Larantuka ini tak lepas dengan masa penjajahan oleh bangsa Portugis pada zaman dahulu kala. Bisa dikatakan juga, adalah bangsa Portugis yang membawa ajaran agama Katolik di Pulau Flores dan segala penjuru Nusa Tenggara Timur.

Namun, mayoritas ajaran agama ini terasa di beberapa daerah seperti di Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Lembata, dan Flores bagian timur lainnya. 

Sejarah menceritakan pada zaman penjajahan dulu orang Portugis membawa orang yang merupakan warga asli Larantuka untuk belajar agama ke Malaka. Orang ini menurut sejarah adalah Resiona. Resiona sendiri diketahui adalah orang yang menemukan patung Mater Dolorosa. Patung Mater Dolorosa adalah sebuah patung bunda yang sedang bersedih saat terdampar di pantai daerah Malaka.

Setelah usai belajar agama, Resiona kembali ke asalnya dengan membawa ilmu agama dan peralatan keagamaan yang siap disebarkan ke penduduk sekitar. Adapun yang ia bawa ini antara lain sebuah patung Bunda Maria dan liturgis yang diartikan sebagai peralatan upacara rohani. Ia juga membawa sebuah badan organisasi yang disebut sebagai Conferia. 

Tak hanya itu saja, ajaran politik pernikahan juga ia ajarkan. Ajaran politik ni berupa politik kawin mawin yang dilakukan antara penduduk Larantuka dengan bangsa Portugis. Ajaran ini terus berkembang hingga adanya Gereja Tuan Ma – Larantuka

Baca juga:  Mengenal Jenis-Jenis Kosmetik yang Biasa Digunakan

Kemudian pada tahun 1886, raja kesepuluh Larantuka yaitu Raja Don Lorenzo Usineno ke II menjadikan Bunda Maria sebagai ratu untuk Larantuka. Karena kejadian ini pula daerah Larantuka mendapat sebutan Reinha Rosari. 

Sejarah dilanjutkan dengan kejadian pada tahun 1954, yang mana seorang uskup melakukan penyiraman pada Hati Maria yang Tak Ternoda atau Tak Bernoda. Adalah Uskup Mgr Gabriel Manek sebagaimana uskup pertama Larantuka yang melakukan hal ini. Karena kejadian ini, hingga sampai sekarang prosesi atau upacara sakral yang suci terus dilakukan sebagaimana apa yang terjadi pada empat abad yang lalu.

Upacara Adat Di Gereja Tuan Ma – Larantuka

Aktivitas di Gereja Tuan Ma yang terus dilakukan sejak kejadian empat abad silam ini bernama upacara “Muda Tuan”. Upacara ini umumnya berupa sebuah pembukaan peti yang mana telah ditutup selama satu tahun lamanya. Pembukaan ini dilakukan oleh petugas Conferia, sebagaimana badan organisasi yang telah diusung oleh Resiona yang telah dibahas di atas. 

Conferia merupakan badan organisasi yang khusus mengurus gereja dan segala upacara yang ada di gereja di Larantuka ini. Pada prosesi ini pula patung Tuan Ma akan dimandikan, dibersihkan, dan diberi sebuah busana yang menyatakan perkabungan. Busana perkabungan ini berupa sebuah mantel berwarna biru, ungu, dan hitam. 

Saat ini pula para umat Katolik berdoa bersama, sujud, memohon berkat, kepada Tuhan Jesus melalui perantara Bunda Maria. Itulah sejarah dan upacara suci yang selama ini terus dilakukan di Gereja Tuan Ma – Larantuka, hal ini semua dilakukan tak lain untuk menghormati leluhur dan sebagai media berdoa kepada Tuhan Jesus bagi para pemeluk agama Katolik. Yuk Cari Alternative liburan sambil belajar sejarah Indonesia, supaya kita makin cinta dan menghargai Indonesia. Salam Alternative!

Baca juga:  Sekolah Cara Racik Kopi yang Benar

Blad bread dude with mind full of curiosity. A student of life decide to learn by listening story of million minds of others precious thoughts

Advertisement

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id