Connect with us

Motivasi Lifestyle

Ibu adalah Guru Terbaik

Ternyata ada yang lebih hebat dan lebih dari segalanya yang mampu memberikan pendidikan terbaik sejak anak kita bayi hingga memasuki fase sekolah. Dialah ibu.

Ibu Adalah Guru Terbaik, Selamat hari Ibu

Altermedia.idBanyak orang yang memberikan pendidikan kepada anak-anaknya dengan mengirim ke sekolah-sekolah yang mahal dan yang terbaik. Mereka berharap anaknya akan menjadi pribadi yang cerdas dalam berbagai ilmu pengetahuan. Mereka rela melakukan apa saja demi memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Ternyata ada yang lebih hebat dan lebih dari segalanya yang mampu memberikan pendidikan terbaik sejak kita bayi hingga memasuki fase sekolah. Dialah ibu. Secara psikologis, ibu lebih dengat dengan anak. Ibu lebih pandai memikat hati anak.

Karena kedekatan itu, apa yang diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya adalah pelajaran yang sangat baik. Tidak ada satu alasan pun untuk tidak mengatakan bahwa ibu adalah guru terbaik bagi anak-anaknya.

Mungkin kita acap kali mengabaikan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk karakter anak. Ibu bukan hanya mampu mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Lebih dari itu, ibu adalah seorang guru yang memiliki kecintaan, kehangatan, kelembutan, kebaikan, keceriaan, cinta dan kasih sayang yang sangat besar bagi anaknya.

Secara tidak langsung, sifat-sifat yang dimiliki ibu merupakan ciri sejati seorang guru yang mampu melahirkan generasi terbaik.

Kontribusi seorang ibu dalam perkembangan dan pendidikan anak sangatlah kuat. Maka, peran seorang ibu di kemudian hari mampu menumbuhkan anak yang berkepribadian baik dan generasi yang cerdas pula.

Baca juga:  8 Film Kartun yang Mendidik untuk Anak-Anak

Peran besar seorang ibu dalam mendidik anak yang cerdas dan berkepribadian baik dapat dilihat dan dirasakan dari kedekatannya dengan anak. Jadi alangkah baiknya bila kita menjadikan ibu sebagai guru terbaik dan guru pertama bagi anak.

Dengan menjadikan ibu sebagai guru terbaik, ketika benar-benar memasuki fase sekolah, sang anak benar-benar siap dan mampu mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari dari seorang ibu.

Dengan demikian, layaklah kita berharap anak, yang telah mendapatkan pendidikan terbaik sejak dini oleh ibunya, mampu menciptakan ruang lingkup yang cerdas dalam bermasyarakat dan mampu menjadi pemimpin hebat di kemudian hari. Bagaimana relasi dengan ibu kalian, Sobat Alter?

Share And Like This Article:
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Motivasi Lifestyle

Ernest Prakasa, dari Seorang Komika Menjadi Sineas Andal

Keberhasilan Ernest Prakasa menjadi seorang komika hingga sutradara sukses tidaklah terlepas dari mimpinya.

Photo Credit: Instagram

Nama Ernest Prakasa sepertinya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi milenial. Ya, pria kelahiran 29 Januari 1982 ini memang bisa dibilang sukses menekuni dunia industri kreatif dan hiburan Tanah Air. Kiprahnya mulai dari menjadi seorang penyiar radio, komika, aktor hingga kini menjadi seorang sutradara. Tidak mengherankan bila dia juga disebut-sebut sebagai sineas andal di masa mendatang. Bagaimana perjalanan kariernya selama ini?

Mengawali karier sebagai penyiar radio

Tak banyak orang yang mengetahui latar belakang maupun karier Ernest Prakasa sebelum sukses menjadi seorang komika. Ketika masih duduk di bangku kuliah, tepatnya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Ernest Pakasa sudah menekuni profesi sebagai pelaku dunia hiburan. Hal ini dia buktikan dengan menjadi seorang penyiar radio swasta.

Karier awal sebagai penyiar radio inilah yang membuatnya bergabung dengan label rekaman terbesar di Indonesia, Universal Music dan Sony Music. Di dunia industri musik, karier Ernest Prakasa bisa dibilang moncer dan sukses selama enam tahun.

Sukses sebagai komika

Sukses dalam industri musik Tanah Air membuat Ernest Prakasa tidak membuatnya berhenti menjajal pengalaman baru. Kali ini, dia pun mencoba memasuki dunia komedi dengan menjadi seorang komika. Hal ini dia buktikan dengan mengikuti seleksi Stand-Up Comedy yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Ernest Prakasa juga dinyatakan lolos dengan menduduki tiga besar dalam ajang tersebut. Inilah yang menjadi batu loncatannya untuk menjadi seorang komika sukses.

Baca juga:  5 Fakta di Balik Kata "Menikah Membuka Pintu Rezeki"

Prestasinya di dunia komika pun cukup membuatnya melejit. Bersama Raditya Dika dan beberapa kawan komika lain, dia mendirikan komunitas Stand-Up Indo. Dalam komunitas tersebut, Ernest Prakasa didaulat sebagai ketua pertama hingga Juni 2013. Selama menjadi seorang komika, Ernest Prakasa menjalani tur komedi tunggalnya pada 2012 lalu di beberapa kota di Indonesia. Turnya sendiri diberi tajuk nama yang cukup unik yakni “Tur Merem Melek”.

Menjadi aktor

Bukan Ernest Prakasa namanya jika tidak mencoba pengalaman baru. Setelah sukses di dunia komika, dia pun lantas terjun ke dalam dunia akting dan perfilman. Beberapa film layar lebar pun telah dia bintangi bersama para aktor dan aktris senior Tanah Air lainnya. Sebut saja film ‘Comic 8’ yang dirilis pada 2014 lalu.

Ernest pun sukses bermain peran di film tersebut bersama sederet komika lainnya. Film lainnya yang juga tak kalah sukses dia bintangi adalah ‘Kukejar Cinta ke Negeri Cina’, ‘CJR The Movie’, ‘Ngenest’, ‘Rudy Habibie’, hingga ‘Cek Toko Sebelah’.

Sempat dianggap proyek aji mumpung

Terjunnya Ernest Prakasa dalam dunia akting sempat dianggap aji mumpung oleh para warganet alias netizen. Menanggapi hal tersebut, dia pun lantas membuktikannya dengan segudang prestasi. Selain menjadi aktor, Ernest Prakasa juga menjadi penulis skenario. Bahkan dirinya pernah memenangi penghargaan dalam gelaran film bergengsi, seperti Festival Film Indonesia dan Piala Maya, sebagai penulis skenario Terbaik. Tiga film yang menjadikanya sukses menjadi penulis skenario terbaik adalah ‘Ngenest’, ‘Cek Toko Sebelah’, dan ‘Susah Sinyal’.

Baca juga:  Lakukan Ini untuk Gali Ide Creativepreneur!

Kini, Ernest Prakasa menjadi seorang penulis skenario dalam dunia perfilman. Dia pun membentangkan sayap dengan menjadi seorang sutradara muda. Menjadi sutradara ini juga membawanya ke tampuk pencapaian karier nan gemilang. Sebagai sineas muda, kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Beberapa kali dia mendapat penghargaan sebagai sutradar film terbaik yang dia tangani sendiri. Film yang masuk  Box Office Indonesia yang dia tangani adalah ‘Milly dan Mamet’ dan juga sebagai spinoff dari film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’.

Keberhasilan Ernest Prakasa menjadi seorang komika hingga sutradara sukses tidaklah terlepas dari mimpinya. Sebagaimana dia ceritakan kepada Kapanlagi.com, dia berkeinginan seperti stand up comedian Hollywood yang juga sukses dalam dunia perfilman, khususnya sebagai aktor sekaligus sutradara.

Share And Like This Article:
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Mengenal Hasmi, Kreator Tokoh Gundala Putra Petir

Bicara Gundala Putra Petir, tak bisa dipisahkan dari penciptanya yakni Hasmi.

Photo Credit: Wikimedia Common

Berbicara sejarah komik Tanah Air tidak bisa lepas dari sosok Harya Suryaminata yang akrab disapa Hasmi. Dirinya adalah pencipta tokoh karakter sekaligus komik ‘Gundala Putra Petir’. Pria yang lahir bertepatan dengan Hari Natal 25 Desember 1946 ini memiliki segudang pengalaman dan kisah inspiratif bagi para generasi penerus, khususnya dalam dunia seni kreatif dan komik Indonesia. Berikut ini kisah singkat Hasmi.

Tak hanya Gundala

Masyarakat Indonesia mungkin mengenal Hasmi lewat karya Gundala saja. Lebih dari itu, Hasmi juga telah menciptakan banyak tokoh dalam karyanya. Sebut saja tokoh Maza, Pangeran Mlaar, Sembrani, Merpati, Jin Kartubi, Kalong, Pengkor, Ghazul, hingga karakter Ki Wilawuk. Untuk komik Gundala sendiri, sepanjang 1969 hingga 1982, ada sekitar 23 judul komik yang sudah terbit.

Dalam dunia komik, Hasmi setidaknya telah menerbitkan 50 judul komik dengan 200 episode, yang merupakan pencapaian komik terbanyak di kalangan para komikus lokal. Hasmi juga sempat banting setir menjadi seorang penulis skenario. Bahkan sesekali dirinya tampil sebagai bintang tamu dalam sebuah sinetron.

Beberapa skenario film yang dia tulis di antaranya adalah ‘Kelabang Sewu’ yang disutradarai Imam Tantowi. Kemudian ada film ‘Lorong Sesat’ dan ‘Harta Karun Rawa Jagitan’. Hasmu juga menulis skenario untuk acara kesenian, salah satunya ketoprak di TVRI.

Suka seni sejak usia muda

Kecintaan Hasmi terhadap dunia komik bukanlah tanpa alasan. Dirinya memang suka menggambar sejak masih duduk di bangku SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Awalnya, dia sempat ingin menjadi seorang insinyur dan mendaftar di Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal melewati tes masuk. Tak patah semangat, Hasmi pun akhirnya mendaftar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1967. Di ASRI, ia hanya bertahan dua tahun karena lebih memilih keluar untuk fokus pada serial Gundala yang sangat digemari di era 1970-an.

Baca juga:  Siti Sumiati, Bidan Apung Kepulauan Seribu yang Sukses Mendunia

Kecintaannya pada dunia komik tidak luntur seiring bertambahnya usia. Pada 2003 lalu misalnya, dirinya menjadi salah satu pendiri dari PT. Bumilangit. Cita-citanya bersama perusahaan yang didirikannya ini adalah ingin membangkitkan kembali industri kreatif di Tanah Air, khususnya dalam dunia komik.

Didapuk sebagai Cretive Director, Hasmi juga ingin meletakkan dasar-dasar pengembangan maupun pembaharuan dalam karakter komik yang nantinya dikelola PT. Bumilangit. Dalam hal ini termasuk juga tokoh Gundala.

Tutup usia

Pada 6 November 2016 lalu, Hasmi tutup usia di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Hasmi tutup usia di umurnya yang ke-70. Sebelumnya, menurut sang anak, Hasmi sempat menjalani operasi usus sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Kepergian Hasmi meninggalkan istri bernama Mujiyati dan dua orang putri bernama Ainun Anggamukti dan Bathari Sekar Dewangga.

Para rekannya mengenang Hasmi sebagai sosok yang humoris dan ramah serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh pengamat budaya, Arswendo Atmowiloto. Menurutnya, Hasmi tidak hanya piawai menciptakan humor dalam karyanya saja, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat sosoknya menjadi semakin dikenang oleh siapa saja.

Sahabat sekaligus seniman Butet Kartaredjasa juga menuturkan hal yang sama. Bahkan Hasmi bercita-cita, sebelum meninggal, ingin karyanya ‘Gundala Putra Petir’ difilmkan. Namun, sayangnya Hasmi belum sempat melihat karyanya difilmkan hingga dia berpulang. Almarhum Hasmi dimakamkan di Makam Seniman Imogiri, Bantul selang satu hari setelah dirinya meninggal dunia.

Baca juga:  5 Fakta di Balik Kata "Menikah Membuka Pintu Rezeki"

Kisah Hasmi sebagai seorang pelopor komikus di Indonesia memang patut diapresiasi. Meski sosoknya telah berpulang dua tahun lalu, setidaknya karya dan dedikasinya dalam dunia komik bisa menjadi pemantik semangat bagi komikus Indonesia masa kini untuk terus berkarya.

Share And Like This Article:
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Karier Raisa Andriana: Dari Paduan Suara ke Penyanyi Idola

Dari kisah Raisa, Sobat Alter bisa belajar bahwa idealisme yang disesuaikan dengan realita pun bisa membawamu menuju kesuksesan.

Photo Credit: Instagram Raisa

Jika Sobat Alter mendapat pertanyaan siapa penyanyi wanita terbaik di Indonesia saat ini, nama Raisa Andriana mungkin akan jadi salah satu nama yang sering disebutkan. Penyanyi asal Jakarta ini memang bisa dibilang sebagai penyanyi yang naik daun. Meski begitu, kesuksesan tersebut tidak diraihnya secara instan. Raisa perlu perjalanan karier yang panjang untuk bisa meraih popularitasnya saat ini. Seperti apa?

Hobi menyanyi

Raisa kecil memiliki hobi menyanyi. Sosok ibu merupakan inspirasi pertamanya untuk bernyanyi. Untuk menyalurkan hobinya, saat duduk di bangku sekolah, ia pun mengikuti ekstrakurikuler paduan suara. Saat itu, guru musiknya menilai suara Raisa cukup bagus dan tidak terdengar fals. Fakta tersebut kemudian membuat Raisa sering ditunjuk menyanyi solo.

Menurut Raisa, menyanyi merupakan sebuah hal yang menyenangkan. Dengan bernyanyi, ia merasa dapat mengekspresikan perasaannya. Berkaca dari para idolanya, Brian McKnight, Alicia Keys, dan Joss Stone, ia ingin melantunkan lagu yang enak didengar juga bisa membuat orang lain merasa bahagia. Menyanyi menurutnya bisa menyalurkan kebahagiaan.

“Ngamen” di kafe

Perjalanan karier Raisa tidak langsung dimulai dengan langkah yang mudah. Sebelum menjadi penyanyi yang terkenal seperti sekarang, Raisa sempat ngamen. Ia bahkan rutin menyanyi dari kafe ke kafe. Dalam beberapa kesempatan, Raisa juga menyanyi di acara pernikahan kenalannya.

Saat itu, ia tidak terlalu mementingkan bayarannya. Asal bisa menyanyi dan tampil di hadapan banyak orang, menurutnya sudah menjadi bayaran yang berharga. Menyanyi secara rutin di hadapan banyak orang adalah salah satu caranya untuk melatih skill.

Bergabung dengan band

Hingga akhirnya ia diajak bergabung dalam band yang dibentuk Kevin Aprilio, Andante. Di grup band yang kemudian berganti nama menjadi Vierra ini, Raisa ditunjuk menjadi vokalis. Sayangnya, di tengah jalan ia memutuskan untuk berhenti. Perbedaan visi misi dengan personel lain dan calon label membuat Raisa kesulitan menemukan musikalitas yang diinginkannya.

Baca juga:  Hotman Paris, Sosok Pengacara Dermawan

Keputusan tersebut justru membuat Raisa sadar bahwa ia ternyata tidak cocok berada dalam sebuah grup. Ia merasa bahwa ia lebih cocok menyanyi solo. Dengan bernyanyi solo, ia bisa tetap menjaga idealismenya.

Debut karier profesional

Setelah gagal debut bersama grup band, pada 2009 Raisa memutuskan untuk menggarap album. Rekan kuliahnya yang sekaligus personel RAN, Asta Andoko, bersedia menjadi produser. Berbeda saat masih berada di band, ia merasa ada kesamaan visi dan misi dengan Asta.

Walau begitu, proses pembuatan album tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Kesibukan Raisa untuk menamatkan pendidikannya dan Asta yang sibuk berkarier dengan RAN membuat album debutnya baru bisa dirilis pada 2011.

Beruntung, sambutan masyarakat sangat positif. Single debut solonya, “Serba Salah”, langsung banyak dibicarakan orang. Videonya saat pertama menyanyikan single tersebut bahkan memiliki banyak viewers dalam waktu singkat, meski sebenarnya video tersebut hanyalah rekaman biasa yang direkam tanpa edit.

Singkat cerita, Raisa kini telah berhasil menjadi satu penyanyi wanita sukses di Indonesia. Karya-karyanya didengar banyak orang, bahkan dijadikan inspirasi. Namun, ternyata kesuksesan memang tidak bisa datang secara instan. Dari kisah Raisa, Sobat Alter bisa belajar bahwa idealisme yang disesuaikan dengan realita pun bisa membawamu menuju kesuksesan. Semoga kisah di balik kesuksesan karier Raisa ini bisa menginspirasi Sobat Alter, ya!

Baca juga:  8 Film Kartun yang Mendidik untuk Anak-Anak

Share And Like This Article:
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Yayan ‘Mad Dog’ Ruhian, Bawa Bela Diri Silat hingga Hollywood

Yayan “Mad Dog” Ruhian, berperan besar dalam mengenalkan bela diri pencak silat hingga mancanegara.

Photo: Instagram Yayan Ruhian

Bela diri pencak silat merupakan olahraga asli Indonesia. Meski merupakan produk lokal, pencak silat ternyata kini juga dikenal hingga kancah internasional. Selain karena peran para atlet Indonesia yang mengharumkan nama bangsa melalui kompetisi olahraga internasional, beberapa tokoh lain juga ambil andil.

Salah satunya adalah Yayan Ruhian. Sobat Alter mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan “Mad Dog”. Pria yang kini berprofesi sebagai aktor tersebut ternyata punya peran besar dalam mengenalkan bela diri pencak silat hingga mancanegara. Seperti apa perannya?

Perjalanan karier sebagai aktor

Nama Yayan Ruhian mulai dikenal masyarakat saat membintangi film The Raid (2011). Dalam film tersebut, Yayan memerankan karakter algojo “Mad Dog”. Dalam film besutan Gareth Evans tersebut, ia banyak mendapat pujian. Dengan keahlian bela dirinya, karakter “Mad Dog” seolah benar-benar sulit untuk ditaklukkan.

Rupanya film tersebut membuka peluang Yayan Ruhian untuk terjun lebih dalam ke dunia perfilman. Pada 2014, ia kembali untuk sekuel The Raid, yakni The Raid 2: Berandal. Yayan kembali menjadi karakter algojo bertangan baja dalam film tersebut.

Seiring dengan kesuksesan film The Raid dan ketenarannya yang mencapai kancah internasional, nama Yayan Ruhian pun semakin berkibar. Tak tanggung-tanggung, pada 2015, ia mendapat tawaran untuk berperan dalam film Jepang dan Hollywood sekaligus. Debut film Jepang pertamanya adalah Yakuza Apocalypse. Sedangkan film Hollywood pertamanya adalah episode terbaru Star Wars, The Force Awakens.

Kenalkan pencak silat lewat film

Keunikan Yayan Ruhian saat bermain film adalah karakternya selalu digambarkan pandai bela diri, terutama pencak silat. Mulai dari Merantau (2009) hingga film terbarunya, John Wick: Chapter 3 Parabellum, ia selalu berperan sebagai karakter yang pandai bela diri pencak silat.

Baca juga:  Efek Negatif Perceraian Orang Tua bagi Anak

Ciri khas ini kemudian membuat Yayan Ruhian selalu diingat penonton. Penonton yang belum familiar dengan pencak silat tentu akan merasa tertarik dengan gerakan pencak silat yang berbeda dengan bela diri lain seperti karate atau kung fu.

Tanpa disadari, lewat film-filmnya, Yayan Ruhian telah mengenalkan pencak silat yang merupakan bela diri khas Indonesia kepada dunia. Terlebih dengan karakter Yayan dalam film yang selalu digambarkan kuat dan sulit dikalahkan, pencak silat pun jadi terlihat lebih menarik.

Pascaketerlibatannya dalam sejumlah film, selain mendatangkan undangan untuk casting, Yayan juga sering diundang untuk melatih bela diri pencak silat di berbagai negara. Ia dengan senang hati menjawab undangan tersebut agar pencak silat semakin populer. Jadi, bisa dibilang, ke mana Yayan Ruhian melangkah, pencak silat akan selalu dibawanya.

Aslinya seorang pelatih pencak silat

Bisa dikatakan bahwa terjunnya Yayan Ruhian ke dunia perfilman adalah berkat kenekatan. Ia sama sekali tidak punya background di bidang akting. Kesehariannya adalah melatih bela diri di kampung tempat tinggalnya di Tasikmalaya.

Ya, Yayan merupakan seorang pelatih pencak silat profesional dan berlisensi. Ia menekuni bela diri pencak silat sejak duduk di bangku SMA. Yayan remaja tergabung dalam PTSD Indonesia. Ketertarikannya pada pencak silat pun karena alasan yang sederhana, karena menonton film Jaka Sembung. Siapa sangka, ternyata ketertarikan kecil tersebut mengantarkannya kepada kesuksesan dan kepopuleran seperti saat ini.

Baca juga:  Jenis Asuransi yang Ada di Indonesia

Dari perjalanan Yayan Ruhian sebagai aktor sekaligus pelatih pencak silat, Sobat Alter bisa belajar banyak hal. Cerita Yayan membawa pencak silat hingga ke Hollywood bisa menjadi teladan bahwa untuk mengharumkan nama bangsa bisa dengan banyak cara. Sedangkan kisahnya menekuni pencak silat adalah contoh nyata bahwa passion dan ketekunan bisa membawa kita menuju kesuksesan.

Share And Like This Article:
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Kisah Achmad Zaky Jatuh Bangun Dirikan Startup Unicorn

Kesuksesan Achmad Zaky membangun Bukalapak bukan tanpa halangan. Sempat bangkrut dan ditinggal rekan bisnis adalah deretan hal yang membuat dirinya sukses.

Photo: Twitter @achmadzaky

Bukalapak.com sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia sebagai salah satu platform jual beli online terbesar. Kesuksesannya tidak terlepas dari kerja keras sang CEO, Achmad Zaky, dalam membangun bisnis ini. Meski begitu, Achmad Zaky harus jatuh bangun mengembangkan platform tersebut menjadi startup unicorn di Indonesia. Bagaimana kisah Achmad Zaky tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

Pernah jadi juara Olimpiade Sains

Ketertarikan Achmad Zaky terhadap dunia teknologi komputer berawal saat dirinya masih di sekolah dasar. Pada 1997, dia mendapat buku mengenai pemrograman komputer dari seorang pamannya. Ketertarikannya semakin berlanjut ketika dirinya memasuki bangku SMA. Dia pun mendapatkan kesempatan mewakili SMA Negeri 1 Solo saat itu dan berhasil menyabet gelar juara di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) pada bidang komputer.

Selepas lulus dari SMA, Zaky melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung pada 2004 dengan mengambil jurusan Teknik Informatika. Sama seperti masa SMA-nya, Zaky kembali berhasil menjuarai kompetisi teknologi informatika nasional. Salah satunya adalah juara II Indosat Wireless Inovation Contest 2007. Dia juga membuat sebuah software MobiSurveyor untuk membantu proses pemilu.

Tidak sampai di situ, Zaky juga pernah mendapat penghargaan Merit Award dalam kompetisi INAICTA pada 2008. Prestasi gemilangnya membuat Zaky berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjalankan studi di Oregon State University pada 2008 lalu.

Baca juga:  8 Film Kartun yang Mendidik untuk Anak-Anak

Sempat bangkrut bisnis kuliner

Kesuksesan yang diraih oleh Achmad Zaky bukanlah tanpa kegagalan. Salah satu kegagalannya yang pernah dia rasakan adalah ketika memulai bisnis pertamanya. Bisnis tersebut adalah berjualan mi ayam di kawasan kampus ITB. Modal usaha dari memenangi lomba itu banyak tersedot untuk membangun bisnis mi ayam tersebut. Kemudian, karena faktor kurang mendalami bisnis kuliner dan sepinya pelanggan, usaha mi ayam Zaky mengalami kebangkrutan. Usia bisnis mi ayam ini tidak lama, hanya enam bulan. Bisnis itu gulung tikar ketika dirinya masih menginjak kuliah tingkat kedua pada 2006 silam.

Namun, baginya kegagalan tersebut bukanlah merupakan batu sandungan untuk bergelut dalam dunia bisnis. Justru kegagalan bisnis kuliner tersebut menjadikan dia tahu dan tidak mengulangi kegagalan yang sama. Di samping itu, kegagalan bisnis mi ayam tersebut juga menjadi batu loncatan untuk terus belajar. Zaky juga tidak ingin gegabah saat ingin memulai bisnis kembali.

Sukses mendirikan Bukalapak

Tak lama berselang dari kegagalan bisnis kulinernya, Zaky melihat peluang baru dalam berbisnis. Ia menyadari mulai banyak masyarakat yang berbelanja online, yang bisa menjadi keran bisnis baru. Hal ini dia lakukan pada Januari 2010 dengan mendirikan Bukalapak. Awalnya, Bukalapak dia dirikan bersama seorang temannya dan modalnya hanya Rp 500 ribu untuk beli domain dan hosting. Beberapa teman kuliahnya dulu yang sempat dia rekrut pun banyak yang hengkang karena menilai tidak ada prospek.

Baca juga:  Hotman Paris, Sosok Pengacara Dermawan

Perlu waktu 1,5 tahun baginya untuk jatuh bangun dan situs Bukalapak dikunjungi banyak orang. Setelah itu, barulah perlahan pengunjung mulai naik sampai sepuluh ribu orang per harinya. Kemudian, angin segar tiba saat mendapat tawaran dari investor Jepang. Adanya bantuan suntikan modal membuat Bukalapak sukses hingga kini menjadi platform jual beli online terbesar di Indonesia. Dari yang awalnya hanya dua orang karyawan, kini memiliki 320 karyawan. Visi dari Bukalapak sendiri adalah mengubah hidup banyak orang dengan memajukan UMKM lewat internet. Kisah Achmad Zaky membuktikan bahwa kegagalan bukanlah pertanda kamu harus berhenti mencoba meraih mimpi. Sebaliknya, melalui kegagalan, kamu jadi tahu apa yang harus kamu lakukan secara optimal selanjutnya agar bisa sukses. Jadi, bagi yang saat ini sedang menemui hambatan dalam mengejar mimpi, jangan menyerah ya!

Share And Like This Article:
Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id