Connect with us

Tokoh Inspiratif

Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal sampai Jadi Duta Besar

Siapa yang menyangka jika seorang berandal jalanan pun bisa sukses? Harimawan Suyitno membuktikan lewat perjuangan hidupnya hingga menjadi Duta Besar. Begini kisahnya.

Altermedia.id – Sekolah kehidupan selalu mengajarkan seseorang menjadi lebih baik, terutama jika orang tersebut bisa memetik pelajaran dari titik-titiknya. Itu inti kisah Harimawan Suyitno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka dan Maladewa. Berawal dari seorang berandalan di Jakarta, Harimawan ditempa oleh kota yang keras menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.

Awalnya, Harimawan bermimpi menjadi arsitek kenamaan. Akan tetapi, keuangan keluarganya tidak mencukupi. Harimawan dibesarkan dalam keluarga yang besar. Ia memiliki 10 saudara kandung. Selepas SMA, akhirnya ia memilih untuk mengambil pendidikan di program Akademi Sandi Negara yang ketika itu diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri.

“Zaman itu dulu kami susah. Ayah saya hanya PNS departemen perdagangan, pensiunan militer pangkat rendah. Jadi, kami cari jalan sendiri-sendiri untuk bisa berhasil,” ujarnya mengenang masa-masa muda.

Ternyata pilihannya ketika itu tidak salah. Perlahan tapi pasti, Harimawan meniti kariernya di Kementerian Luar Negeri. Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka. Harimawan menunaikan tugasnya hingga 2017 dan memasuki masa pensiun.

“Tanpa kesulitan yang pernah dijalankan, kita pernah bisa sukses. Dengan kesulitan yang ada, hidup harus bisa mengikuti keadaan,” kenangnya lagi.

Pengalamannya jatuh bangun dengan 10 kakak beradik kandung, membuat Harimawan sangat menghargai keluarga. Baginya, harta yang paling berharga adalah keluarga. Ini pula yang ia ajarkan kepada ketiga anaknya.

Baca juga:  Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

Simak cerita lengkapnya di channel video kami

Inspiring other people
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tokoh Inspiratif

Drone Tidak Selalu Mahal, Irendra Radjawali Berhasil Membuktikannya

Tidak mahal, drone buatan Irendra Radjawali bisa membantu melindungi alam Indonesia.

altermedia indonesia
Photo: Doc Altermedia Indonesia

Perkembangan teknologi pesawat tanpa awak atau drone saat ini menjadi buah bibir bagi masyarakat di dunia. Jika awalnya drone digunakan untuk kepentingan militer, kini penggunaannya lebih meluas hingga dapat digunakan untuk memetakan kondisi alam. Namun, harga drone yang mahal menjadi masalah dalam penelitian mengenai kondisi alam. 

Inilah yang membuat Irendra Radjawali menciptakan drone alternatif dengan harga murah yang dapat digunakan untuk menjaga alam Indonesia. Bagaimana kisah pria kelahiran Malang, 8 September 1974 ini mengembangkan inovasinya? 

Belajar rakit drone di Jerman

Kisah Irendra Radjawali bermula pada 2011 lalu ketika dirinya yang menjadi staf pengajar di Fakultas Ekologi Politik Universitas Bonn, Jerman, akan melakukan sebuah riset pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Kapuas, Kalimantan Barat. Selama penelitian tersebut, satu per satu masalah muncul. Mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga aksesibilitas yang cukup menyulitkan. 

Sedangkan jika menggunakan citra satelit, gambar yang dihasilkan tidaklah mendetail. Radja, sapaan akrab pria ini, pun perlahan menemui jalan keluar dengan dibantu oleh tim peneliti dari Swandiri Institute. Salah satu alternatif solusi menangani kendala dalam penelitian tersebut adalah dengan menciptakan drone. Namun, tim peneliti bersama Radja ingin teknologi drone ini disederhanakan.

Radja pun akhirnya mempelajari semua teknik merakit drone di Cologne, Jerman. Tahun 2012 merupakan prestasi terbaiknya dengan menciptakan drone berharga murah. Setahun kemudian, tepatnya pada 2013, dia kembali ke Indonesia dan melanjutkan risetnya. Tentu saja riset ini berjalan dengan dibantu oleh drone rakitannya tersebut. Tak ayal, kisah Radja dalam menciptakan drone murah ini pun menjadi pembicaraan publik Tanah Air.

Baca juga:  Drone Tidak Selalu Mahal, Irendra Radjawali Berhasil Membuktikannya

Ciptakan drone kayu

Biaya perakitan dan harga drone untuk sebuah penelitian sangatlah mahal. Oleh karena itu, Radja dan tim peneliti dari Swandiri Institute mencoba memecahkan masalah tersebut dengan menciptakan drone berbahan dasar kayu. Keunggulan drone ini yang paling terasa adalah dari segi harga. Jika harga drone pada umumnya berkisar ratusan juta rupiah, maka dengan berbahan kayu, drone berharga antara Rp10 juta hingga Rp15 juta.

Drone murah yang dirakit oleh Swandiri Institute ini kini menghadirkan dua jenis, yakni jenis multicoper dan fixed wing. Drone ini memiliki kemampuan hingga 50 kilometer untuk sekali terbang. Untuk sehari saja, drone dapat terbang hingga lima kali. Lewat drone kayu ini juga diketahui bahwa wilayah DAS Kapuas ternyata memiliki danau-danau hidrolik lain selain Danau Sentarum yang tak banyak diketahui khalayak.

Dapat digunakan bagi masyarakat pedesaan

Drone murah hasil rakitan Radja dan tim peneliti juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi masyarakat desa. Kontribusi itu antara lain memungkinkan peran serta masyarakat dalam memperkuat pemetaan partisipatif. Untuk tata guna lahan pun dapat dipotret dengan baik. Selain itu, bisa juga sebagai sarana pengawasan lahan yang berkaitan dengan Undang-Undang Desa.

Sementara itu, segi harga akan memungkinkan setiap desa untuk memiliki drone ini. Mengingat harganya yang berada di kisaran Rp 10-15 juta, maka diharapkan setiap desa mampu membelinya bila dibandingkan dengan drone konvensional yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Baca juga:  Teknologi Milenial Untuk Menjaga Lingkungan (Hutan)

Prestasi membanggakan

Kesuksesan drone kayu yang murah ini pada akhirnya meningkatkan animo masyarakat pedesaan. Radja dan Swandiri Institute pun akhirnya mendirikan sekolah drone yang para siswanya adalah warga desa di pedalaman Kalimantan Barat. Dari sekolah inilah Radja semakin dikenal luas di Indonesia.

Dia pun bahkan pernah mendapatkan prestasi membanggakan dengan mendapatkan Wismilak Diplomat Success Challenge (DSC) pada 2015 lalu. Kini, Irendra Radjawali juga disibukkan dengan berbagai proyek bersama Kementerian Pekerjaan Umum RI dan Balai Sabo, terutama dalam hal mitigasi bencana longsor dan letusan gunung berapi dengan menggunakan fitur drone.

Kehadiran teknologi memang sudah seharusnya memberi manfaat bagi kehidupan, tidak terkecuali untuk alam. Berkat kepiawaiannya, Irendra Radjawali berhasil memaksimalkan teknologi drone demi melindungi alam Indonesia. Kalau kamu, sudah melakukan apa saja untuk alam tercinta ini?

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Teknologi Milenial Untuk Menjaga Lingkungan (Hutan)

Teknologi jaman sekarang banyak yang merusak dan tidak menghiraukan lingkungan sekitar, bagaimana kalau teknologi tersebut ternyata dapat menyelamatkan lingkungan?

Photo: Altermedia Indonesia Doc

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas area 7,81 juta kilometer persegi. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan per September 2017, sekitar 74 persen di antaranya adalah lautan. Dengan proporsi seperti itu, Indonesia pun kaya akan sumber daya alam: maritim, pertambangan, kehutanan, dan flora-fauna.
Namun, ekosistem darat Indonesia tak dapat diabaikan. Salah satu alasan daratan Indonesia sangat penting adalah hutannya. Dengan 62 persen dari daratan, atau sekitar 16 persen dari total wilayah Indonesia, berupa hutan, wajar bila hutan hujan tropis Indonesia merupakan yang ketiga terbesar di dunia.

Image: PT Eidara Matadata Presisi

Ekosistem hutan ini tentu turut menjadikan Indonesia negara yang kaya sumber daya alam, teristimewa flora. Akan tetapi, hutan, sebagai sebuah ekosistem, lebih dari sekadar tumbuhan atau pepohonan. Di dalamnya ada ekosistem lain seperti fauna dan manusia.
Yang patut disayangkan, banyak orang tak memerhatikan manfaat masif hutan terhadap kehidupan mereka. Padahal, hutan merupakan paru-paru bumi. Pohon-pohon hutan mengubah udara kotor penuh karbon menjadi udara bersih, yang bisa dirasakan ke wilayah lain sampai ke perkotaan.
Menjaga hutan seharusnya menjadi kewajiban manusia. Namun, perkembangan zaman dan peradaban tidak hanya kerap mengabaikan hutan, tapi juga menyebabkan kerusakan ekosistem penting tersebut.

Image: PT Eidara Matadata Presisi

Seiring mulai meningkatnya keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan hidup hutan, Indonesia, sebagai negara berkembang dengan hutan yang luas, mulai memikirkan pencegahan kerusakan lebih lanjut sekaligus perbaikan ekosistem. Tak terelakkan, Indonesia perlu mencoba memanfaatkan teknologi yang memungkinkan pencapaian dua tujuan tersebut.
Yang menggembirakan terkait tujuan tersebut, kini mulai bermunculan pihak-pihak seperti pelaku bisnis digital rintisan (startup) yang mengedepankan teknologi dengan kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Kampanye untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia kepada hutannya hidup kembali. “Kami ingin masyarakat Indonesia sadar akan hutan negerinya dan bahkan menjadikan hutan sebagai identitas negara,” tutur Andre Christian, Ketua Umum Hutan Itu Indonesia, salah satu lembaga yang gencar menggiatkan kecintaan itu. Andre menyayangkan pula bahwa banyak orang yang tidak menyadari manfaat besar hutan dalam menyediakan udara bersih. Untuk itu, mereka berniat melibatkan masyarakat dan badan-badan (enterprise) lain dalam pelestarian hutan.
Sejumlah startup mencoba berangkat dari pemahaman bahwa satu hal yang sangat penting dalam penggunaan teknologi adalah data. Basis data menjadi hal pendukung teknologi yang tengah digalakkan untuk berbagai keperluan, termasuk pelestarian lingkungan hidup ini. Pembuatan keputusan terkait pelestarian lingkungan pun mesti berdasarkan data, bukan lagi intuisi semata.
Dalam era Industri 4.0 seperti yang dikatakan The Economist ini, data merupakan bahan bakar baru. “Siapa yang menguasai data akan mengerti dunia ini. Kami berangkat dari pemahaman itu, dan mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan berdasarkan data itu,” ucap Irendra Radjawali dari Eidara Matadata Presisi.
Terdapat sejumlah tahap yang perlu dijalani untuk mendapatkan basis data yang valid. Pertama, pengambilan atau akuisisi data. Berikutnya, analisis data dengan memanfaatkan algoritma. Ketiga, artikulasi agar data siap disajikan untuk setiap pihak yang berkepentingan. Pada perkembangannya, data akan menjadi informasi. Informasi akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan akan menjadi pemahaman. Pada akhirnya, pemahaman akan menjadi kebijakan.
Semua tingkatan pegiat sampai pembuat kebijakan pun dapat memanfaatkan data-data tersebut untuk menghasilkan aksi dan kebijakan yang tepat. Data pula yang memungkinkan keberlangsungan (sustainability) proses pelestarian alam ini.

Baca juga:  Teknologi Milenial Untuk Menjaga Lingkungan (Hutan)
Data: Jejak.in

Startup-startup yang terlibat pun tidak perlu berjalan sendirian. Teknologi-teknologi yang tengah dijalankan memungkinkan partisipasi masyarakat hampir secara langsung. Masyarakat tidak harus berada di hutan untuk mengetahui perkembangan hutan, tapi cukup dengan memantau dari gawai (gadget) di genggaman tangannya.
Salah satu teknologi terbaru yang memungkinkan pemantauan secara visual adalah drone. Perangkat canggih ini akan berfungsi mengangkat sensor-sensor, yang akan menjadi data-data yang dibutuhkan. Dalam hal pelestarian hutan ini, drone digunakan untuk memetakan hutan yang akan direservasi. Eidara Matadata Presisi, menyebut bahwa sebuah drone dapat memetakan 1.000 hingga 1.500 hektar dalam 2 jam.
Masyarakat bahkan bisa turut serta melestarikan alam menggunakan drone ini tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat canggih tersebut. Seperti disebut Eidara Drone, masyarakat awal dapat membuat sendiri perangkat ini dengan biaya yang tidak mahal. Teknologi itu bisa diadakan sendiri, do it yourself (DIY), dan dilakukan bersama yang lain, do it with others (DIWO). Coba intip aktivitas menarik Eidara Matadata Presisi di https://instagram.com/eidaramatadata?igshid=1synxpw81yhxd.
Fungsi drone ini akan terasa misalnya dalam program adopsi pohon yang tengah dijalankan Hutanitu.id. Pengadopsi dapat memantau dengan bantuan GPS tracking di pohon yang mereka adopsi dalam aplikasi di ponsel. Startup lain seperti jejak.in menyediakan aplikasi di web atau gawai, hingga menyiapkan QR Code di pohon-pohon yang diadopsi. Eidara Drone menyediakan aplikasi Hiber Droners yang bisa diunggah di Google Play Store tanpa biaya.
Dipadukan dengan kamera beresolusi tinggi, pemantauan hutan dapat menjadi lebih tajam secara visual dan mampu menggali data secara presisi pula. “Orang tua asuh” dapat mengikuti perkembangan pohon yang ia adopsi, mulai dari lokasi sampai perkembangan ketinggian. Terdengar menyenangkan, bukan?
Yang masih sangat kurang tentu jumlah masyarakat yang berpartisipasi. Jumlah pengadopsi pohon baru sampai pada angka ribuan. Kolaborasi gagasan antara startup yang satu dengan yang lain sekiranya membuat pelestarian hutan ini semakin menggairahkan masyarakat pula.
Kapan kamu ambil bagian di dalamnya, Sobat Alter?

Baca juga:  Denny Ertanto, Anak Bangsa di Balik Film-film Blockbuster Marvel

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Denny Ertanto, Anak Bangsa di Balik Film-film Blockbuster Marvel

Film Marvel selalu diminati oleh masyarakat Indonesia. Tapi apakah kamu tahu ada anak bangsa yang ikut ambil bagian dalam pembuatan film tersebut?

marvel studio
Photo: instagram @dennyert

Setiap manusia pastinya memiliki potensi yang bisa muncul dengan berbagai macam pengalaman sekaligus pembelajaran di dalam kehidupan mereka. Kalau Sobat Alter melihat dunia luar, maka pasti akan melihat berbagai macam individu yang memiliki prestasi hebat, bahkan hingga ke dunia internasional.

Jika melihat dalam lagi, Indonesia sangat jelas memiliki banyak anak bangsa yang secara diam-diam tapi pasti membuktikan kualitas karyanya di luar negeri, termasuk dari bidang efek visual dan animasi. Salah satu anak bangsa yang berhasil sukses di sana adalah Denny Ertanto.

Apakah Sobat Alter pernah membaca tentang Denny di internet? Jika belum, di bawah ini ada penjelasan lengkap siapa Denny Ertanto dan apa yang telah dia lakukan hingga layak disebut sebagai anak bangsa prestasi di dunia internasional. Berikut kisahnya.

Seniman efek visual yang andal

Bagi orang awam, memberikan efek visual adalah bidang yang rumit dan hanya orang-orang yang telah berkecimpung dalam waktu sekian lama saja yang bisa melakukannya. Tentu saja anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Jika ingin bisa bekerja di bidang ini hingga taraf internasional, maka memang diperlukan usaha yang jauh lebih keras lagi.

Hal ini dibuktikan oleh Denny yang menjadikan seniman efek visual sebagai profesinya dengan berkuliah di Amerika Serikat dalam bidang seni film. Berangkat dari sana, Denny mulai magang di berbagai tempat untuk mengasah kemampuan sekaligus menunjukkan apa yang dia miliki kepada industri film Negeri Paman Sam itu.

Baca juga:  Denny Ertanto, Anak Bangsa di Balik Film-film Blockbuster Marvel

Selama ini, Denny bertugas di divisi digital compositor yang menyatukan video hasil syuting dengan teknologi CGI. Jika Sobat Alter tahu teknologi green screen atau blue screen yang dipakai untuk memasukkan unsur CGI, di sanalah tugas Denny selama bekerja di industri ini. Ternyata apa yang Denny kerjakan selama ini tidaklah sia-sia. Beberapa perusahaan film besar tertarik menggunakan jasanya, termasuk Marvel.

Terjun di Hollywood sejak 2011

Ketika mulai terjun di gemerlapnya industri film Hollywood pada 2011, Denny mulai mengetahui pula bagaimana serunya kerja di sana. Keseruan itu mulai terasa ketika dia bisa ikut ambil bagian dalam film Fantastic Beasts yang merupakan spin-off dari Harry Potter itu.

Selain itu, masih ada banyak film yang pernah dikerjakan Denny. Di antaranya adalah Mortal Engines, Avengers: Infinity War, Maze Runner: The Death Cure, War for the Planet of the Apes, Fantastic Beasts and Where to Find Them, Fantastic Four, X-Men: Days of Future Past, Star Trek Into Darkness, dan lainnya.

Namun, jika ingin berbicara mana prestasi yang paling besar, tentu saja ketika dia bisa turut andil dalam membuat film-film Marvel menjadi lebih indah di mata penonton dunia, termasuk Indonesia. Ya, seperti yang sudah ditulis di atas, Denny sudah cukup banyak mengurus film garapan Marvel, termasuk film Avengers: Endgame yang sangat diminati ini.

Baca juga:  Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

Ikut mengerjakan adegan penting film Avengers: Endgame

Bagi Sobat Alter yang sudah menonton Avengers: Endgame, pastinya mengingat dua adegan yang sangat penting di dalam film ini. Pertama, ketika adegan penyerangan Thanos kepada Avengers Headquarter setelah Hulk menggunakan enam infinity stones dan melakukan jentikan jari agar bisa mengembalikan apa yang telah dihapus oleh Thanos. Kedua, ketika Tony Stark sedang berjuang mempertahankan hidupnya setelah mengorbankan diri dengan menjentikkan jarinya menggunakan enam infinity stones

Dari dua adegan penting dan keren itu, Denny menjadi salah satu orang yang menggarapnya agar terlihat semakin dramatis. Dengan kepercayaan yang telah diberikan pihak Marvel kepada Denny dan hasilnya, maka tidak aneh jika Sobat Alter melihat sepak terjangnya lebih jauh lagi pada waktu mendatang.

Itulah Denny Ertanto yang ikut andil dalam film-film Marvel. Semoga cerita ini bisa menginspirasi Sobat Alter dan menjadi anak bangsa yang berprestasi di mata dunia. Denny Ertanto berhasil membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kamu mau berusaha keras.

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Nanda Ivens: Belajar Hal Baru Setiap Hari

The First Indonesian to be an APAC CEO of any multinational company. CEO XM GRAVITY/MIRUM dan sekarang QANDEO Asia Consulting.

mirum, xm gravity, unicaorn indonesia
Photo: Doc Altermedia.id

Altermedia.id – Pada suatu sore, tim Altermedia disambut hangat di kediaman Nanda Ivens, CEO Qandeo Asia Consulting. Sapaan hangat dan canda tawa membuka pintu lebar bagi kami untuk ngobrol santai mengenai kehidupan, inspirasi bisnis, dan motivasi kehidupan. Suguhan teh dan camilan ringan yang disajikan langsung oleh tuan rumah membuat kami bertanya, ke mana asisten rumah tangga (ART) beliau?

Dengan senyuman hangat, Nanda menjawab, “Kami tidak menggunakan ART. Di dalam rumah ini, kedua anak, saya dan istri mempunyai tugas masing-masing yang sudah terjadwal untuk mengeloka rumah. Saya bangun kebiasaan tersebut sedari muda.”

Lulusan Political Science, Boston University pada 1997 ini memegang prinsip bahwa sebagai seorang pebisnis harus bisa displin dan konsisten. Karena disiplin adalah fondasi dari sebuah kesuksesan, disiplin waktu, kesehatan, dan komitmen melatih kita memenuhi janji kepada klien, keluarga, tim, teman-teman, dsb.

Kata-kata inspiratif tersebut membuat kami tahu lebih dalam lagi mengenai tokoh digital yang sudah berpengalaman kurang lebih 25 tahun. Banyak inspirasi hidup dan bisnis yang beliau dapatkan dari membaca buku, konten-konten digital dan pembelajaran dari kehidupan. “You can never stop learning. The day you stop learning is the day that you die,” kata Nanda mengingat ucapan mendiang kakeknya.

Pengalaman Nanda sudah tidak diragukan lagi. Pun demikian, Nanda masih menemukan hal-hal baru seperti layaknya harta karun terpendam yang menunggu ditemukan. Tentu untuk menemukan hal tersebut, Nanda memiliki cara pandang dan pengalaman yang luas. Nanda juga belajar mendengar dan menyediakan waktu untuk siapa pun. Prinsip Nanda ini diterapkan kepada siapa pun untuk memperluas pandangan dan jangkauan pembelajaran.

Baca juga:  Denny Ertanto, Anak Bangsa di Balik Film-film Blockbuster Marvel

“I listen to learn, I learn to listen,” ujar The First Indonesian to be an APAC CEO of any multinational company.

Father Figure

Nanda akrab dipanggil Papi oleh anak-anak didiknya di beberapa agensi digital. Panggilan itu muncul karena Nanda adalah seseorang yang egaliter dan memegang prinsip open door policy yang ia terapkan kepada seluruh anggota tim. Nanda seperti seorang ayah yang care kepada seluruh anggota timnya dan menjadikan ruang kerjanya sebagai tempat mencurahkan isi hati dan kepala, berkeluh kesah dan bersandar ketika sedang patah semangat.

Nanda juga tidak segan untuk berbagi kebahagiaan dengan anggota timnya, sekadar kongkow dan bercanda. Cerita-cerita lucu pengalaman Nanda juga menjadi pembahasan hangat di tengah padat dan besarnya beban seorang CEO XM GRAVITY/MIRUM dan sekarang QANDEO Asia Consulting.

“Ada saatnya saya menjadi leader bagi mereka, ada saatnya saya menjadi teman bagi mereka,” ungkap Nanda. Tidak jarang anggota timnya datang untuk membicarakan hal-hal pribadi yang berhubungan dengan percintaan, masalah keluarga, ataupun masalah dengan orang tua. Nanda selalu menaruh posisi mereka sebagai keluarga kedua. “I am a servent of my troops. Saya bukan bos mereka, tapi saya adalah pelayan mereka,” imbuhnya.

Family Man

Menjadi kepala keluarga bagi Nanda Ivens berarti menjadi seseorang yang dapat mengayomi dan ikut terlibat dalam kegiatan rumah tangga. Kepala keluarga mesti dapat memberikan rasa aman, memberikan contoh yang baik, memberikan contoh displin dalam membersihkan rumah, dan mencontohkan bagaimana mengungkapkan kasih sayang kepada satu sama lain.

Baca juga:  Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

Lebih lanjut, kepala keluarga juga harus bisa membangun komunikasi yang baik antarorang tua dan anak. Mengantar anak hanya satu contoh tanggung jawabnya. Sebagai kepala keluarga, ia berusaha menjaga tradisi keluarga seperti kumpul dalam sebuah pertemuan atau makan malam untuk sekedar saling bertukar cerita tentang keadaan atau sekadar membahas peraturan rumah, rencana liburan dan lain-lain. Hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun keluarga besar Ivens. Ayah Nanda Ivens mengajarkan hal tersebut.

“Menjadi kepala keluarga itu seperti menjadi leader. Di agama Islam disebutnya sebagai imam. Banyak orang lupa dengan hal tersebut,” ungkapnya. Prinsip ini dipegang betul oleh Nanda. Karenanya, Nanda punya banyak keluarga di rumah, di kantor, dan bahkan keluarga yang terbentuk dari teman-teman kecilnya

Naluri Bisnis

Pengalaman Nanda Ivens menjadi konsultan bisnis sudah teruji dalam dunia profesional selama kurang lebih selama 25 tahun. Bakat ini ditumbuhkan dan dilatih oleh orang tua beliau yang menyekolahkan Nanda di St. Mary’s International School, Tokyo ketika Nanda berusia 14 tahun. Setiap Nanda memiliki permintaan untuk keperluan sekolah seperti laptop dan barang lainnya, Nanda harus membuat proposal yang detil dan rinci berikut manfaat barang yang dibutuhkan tersebut.

Ketika duduk di bangku kuliah, Nanda mulai mendapatkan latihan yang lebih mendalam soal intuisi bisnis tersebut. Nanda mencari uang jajan tambahan dengan mengadakan House Party yang mendapatkan profit yang bagus. Dari beragam pengalamannya, Nanda menyimpulkan bahwa setiap orang harus mempunyai business acumen, sebuah prinsip yang harus diterapkan untuk menjaga perkembangan bisnis.

Baca juga:  Drone Tidak Selalu Mahal, Irendra Radjawali Berhasil Membuktikannya

Bisnis itu bukan sekadar mengambil barang, kemudian dinaikkan harganya, dan dijual lagi sehingga menjadikan profit. Bisnis bagi Nanda harus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi banyak orang, paling tidak bagi ketiga anggota keluarganya.

Simak Video Motivasi & Inspirasi Bisnis dari Bpk. Nanda Ivens diatas

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

Awalnya, Andre hanya menjalani begitu saja hobby fotografi-nya. Tapi, semakin dijalani, kecintaannya pada seni membuatnya jatuh semakin dalam.

Andre Wiredja
Photo: Doc Altermedia.id

Altermedia.id – Anak pertama dari dua bersaudara, lahir di Bandung pada 1986, sejak kecil, Andre diasuh oleh Omanya. Meskipun terpisah dari kedua orang tua, Andre tidak lantas kehilangan pengajaran dan pendidikan dari orang tua. Oma yang membesarkannya mengenyam pendidikan Belanda, sehingga menempa Andre dengan kedisiplinan, kemandirian, ketepatan waktu, dan tanggung jawab.

Oma juga mengajarkan Andre menjadi anak yang cinta pada alam dan lingkungan sekitar. “Dulu Oma sering ajak gue ke pasar menemaninya belanja. Kadang Oma juga mengajak mencari lokasi wisata alam dan keluar kota,” kenangnya. Pengalaman-pengalaman itu membuatnya jadi banyak pengetahuan tentang tempat-tempat yang unik untuk berlibur.

Setiap kali Andre kangen pada pengalaman tersebut, Andre menyempatkan diri untuk berlibur jauh dari keramaian kota Jakarta atau sekadar pulang ke Bandung untuk bertemu teman-teman semasa kecil. Andre selalu tertawa geli ketika menceritakan masa kecilnya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu memiliki teman yang sama. “Kita rasanya enggak naik kelas. Temennya ini-ini aja,” ujarnya. Teman-teman itu pula yang membuatnya selalu merindukan pulang ke Bandung.

Oma membuat peraturan yang ketat yang mengatur kapan waktunya bermain dan kapan waktunya belajar. Meskipun begitu, Andre masih diizinkan untuk bermain video games di rumah temannya. “Bisa tiga sampai empat kali seminggu gue main video games,” kenangnya. Peraturan yang dibuat Oma membuatnya terbiasa berdisiplin, tepat waktu, tanggung jawab, dan selalu berusaha keras.

Baca juga:  Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

“Jangan pernah puas. Begitu kita puas, kita akan berhenti berkarya,” kata Andre mengutip prinsip hidupnya menempa diri.

Andre memulai hobinya pada fotografi secara tidak disengaja. Ketika itu, salah satu teman kuliahnya membawa kamera digital, dan kemudian Andre tertarik untuk mengulik kreativitasnya menggunakan kamera tersebut. Masa awal Andre mengenal fotografi adalah masa saat Andre mencari jawaban atas kecintaannya pada seni. Kala itu, Andre sedang mengeksplorasi seni menggambar. Langkahnya mendalami seni sempat terhenti, sampai ketika ia menemukan ‘waktu’ eksplorasi seni fotografi.

Andre kecil memiliki kesukaan pada buku-buku ensiklopedia. Sering ia tenggelam dalam buku-buku. Ketika mulai mengeksplorasi seni fotografi, Andre banyak membaca buku dan majalah fotografi. Lanskap, potret, fesyen, dan banyak subkategori fotografi ia pelajari dan coba satu per satu hingga akhirnya menemukan fotografi fesyen sebagai salah satu jalannya.

Sayangnya, ketika itu di Bandung belum banyak memiliki tempat belajar mengenai fotografi fesyen. Karenanya, Andre memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari tempat belajar fotografi secara profesional sekaligus mencari pengalaman kerja. Berbekal referensi dari seorang teman dan portofolio yang ia kumpulkan, Andre memulai karier pertamanya di salah satu majalah fashion kenamaan di Jakarta. Dalam waktu 5 bulan, Andre mengasah dan menempa diri.

Sandra, salah satu mantan atasannya, kemudian menawarkan lowongan magang di NPM Studio milik Nicoline P. Malina. Dengan dukungan dari Sandra, Andre pun mendapatkan pekerjaan di NPM Studio. “Nicoline itu adalah orang yang memiliki persistence dan perseverance,” ungkapnya menggambarkan Nicoline. “Karena Nicoline, saya menjadi seperti saya yang sekarang ini,” tambahnya lagi. Berulang kalimat itu diucapkan selama wawancara dengan tim Altermedia.

Baca juga:  Motivasi Robby Firlian untuk Go International

Andre berharap akan semakin banyak fotografer muda di Indonesia. “Jangan panas di awal-awal. Harus terus mencari jati diri, eksplorasi terus, karena fotografi itu luas. Banyak yang harus dipelajari dan dipraktikkan,” ujarnya berbagi tips. Semua teori itu bagus, tapi orang itu sendiri yang harus menemukan jalan atau karakternya di fotografi, tutupnya.

Inspiring other people
Continue Reading

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id