Connect with us

Motivasi Bisnis dan Karir

Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal sampai Jadi Duta Besar Indonesia

Siapa yang menyangka jika seorang berandal jalanan pun bisa sukses ber-karier duta besar indonesia. Pak Harimawan Suyitno membuktikan lewat perjuangan hidupnya hingga menjadi Duta Besar. Begini kisahnya.

Altermedia.id – Ber-karier sebagai Duta Besar Indonesia tidak pernah terbayangkan oleh beliau yang pada mudanya adalah berandal di bilangan Jakarta Selatan. Banyak tokoh yang membantu Beliau dalam pencarian jati diri, rintangan dan halangan yang di hadapinya sehingga sekarang pensiun dan menikmati hidup di Jakarta.

Berikut kisah cerita Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal sampai Jadi Duta Besar Indonesia

Sekolah Kehidupan

mantan duta besar pensiun 2017

Sekolah kehidupan selalu mengajarkan seseorang menjadi lebih baik, terutama jika orang tersebut bisa memetik pelajaran dari titik-titiknya. Itu inti kisah Harimawan Suyitno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka dan Maladewa. Berawal dari seorang berandalan di Jakarta, Harimawan ditempa oleh kota yang keras menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.

Awalnya, Harimawan bermimpi menjadi arsitek kenamaan. Akan tetapi, keuangan keluarganya tidak mencukupi. Harimawan dibesarkan dalam keluarga yang besar. Ia memiliki 10 saudara kandung. Selepas SMA, akhirnya ia memilih untuk mengambil pendidikan di program Akademi Sandi Negara yang ketika itu diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri.

“Zaman itu dulu kami susah. Ayah saya hanya PNS departemen perdagangan, pensiunan militer pangkat rendah. Jadi, kami cari jalan sendiri-sendiri untuk bisa berhasil,” ujarnya mengenang masa-masa muda.

Petik buah Manis dari Sebuah Perjuangan

Pnesiun Duta Bear RI 2017

Ternyata pilihannya ketika itu tidak salah. Perlahan tapi pasti, Harimawan meniti kariernya di Kementerian Luar Negeri. Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka. Harimawan menunaikan tugasnya hingga 2017 dan memasuki masa pensiun.

“Tanpa kesulitan yang pernah dijalankan, kita pernah bisa sukses. Dengan kesulitan yang ada, hidup harus bisa mengikuti keadaan,” kenangnya lagi.

Pengalamannya jatuh bangun dengan 10 kakak beradik kandung, membuat Harimawan sangat menghargai keluarga. Baginya, harta yang paling berharga adalah keluarga. Ini pula yang ia ajarkan kepada ketiga anaknya.

Simak cerita lengkapnya di channel video kami

Copyright © 2020 Altermedia.id