Connect with us

Tokoh Alter Media

Drone Tidak Selalu Mahal, Irendra Radjawali Berhasil Membuktikannya

Tidak mahal, drone buatan Irendra Radjawali bisa membantu melindungi alam Indonesia.

altermedia indonesia
Photo: Doc Altermedia Indonesia

Perkembangan teknologi pesawat tanpa awak atau drone saat ini menjadi buah bibir bagi masyarakat di dunia. Jika awalnya drone digunakan untuk kepentingan militer, kini penggunaannya lebih meluas hingga dapat digunakan untuk memetakan kondisi alam. Namun, harga drone yang mahal menjadi masalah dalam penelitian mengenai kondisi alam. 

Inilah yang membuat Irendra Radjawali menciptakan drone alternatif dengan harga murah yang dapat digunakan untuk menjaga alam Indonesia. Bagaimana kisah pria kelahiran Malang, 8 September 1974 ini mengembangkan inovasinya? 

Belajar rakit drone di Jerman

Kisah Irendra Radjawali bermula pada 2011 lalu ketika dirinya yang menjadi staf pengajar di Fakultas Ekologi Politik Universitas Bonn, Jerman, akan melakukan sebuah riset pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Kapuas, Kalimantan Barat. Selama penelitian tersebut, satu per satu masalah muncul. Mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga aksesibilitas yang cukup menyulitkan. 

Sedangkan jika menggunakan citra satelit, gambar yang dihasilkan tidaklah mendetail. Radja, sapaan akrab pria ini, pun perlahan menemui jalan keluar dengan dibantu oleh tim peneliti dari Swandiri Institute. Salah satu alternatif solusi menangani kendala dalam penelitian tersebut adalah dengan menciptakan drone. Namun, tim peneliti bersama Radja ingin teknologi drone ini disederhanakan.

Radja pun akhirnya mempelajari semua teknik merakit drone di Cologne, Jerman. Tahun 2012 merupakan prestasi terbaiknya dengan menciptakan drone berharga murah. Setahun kemudian, tepatnya pada 2013, dia kembali ke Indonesia dan melanjutkan risetnya. Tentu saja riset ini berjalan dengan dibantu oleh drone rakitannya tersebut. Tak ayal, kisah Radja dalam menciptakan drone murah ini pun menjadi pembicaraan publik Tanah Air.

Baca juga:  Rustica Cucina Italiana: Serasa Berada Di Italia

Ciptakan drone kayu

Biaya perakitan dan harga drone untuk sebuah penelitian sangatlah mahal. Oleh karena itu, Radja dan tim peneliti dari Swandiri Institute mencoba memecahkan masalah tersebut dengan menciptakan drone berbahan dasar kayu. Keunggulan drone ini yang paling terasa adalah dari segi harga. Jika harga drone pada umumnya berkisar ratusan juta rupiah, maka dengan berbahan kayu, drone berharga antara Rp10 juta hingga Rp15 juta.

Drone murah yang dirakit oleh Swandiri Institute ini kini menghadirkan dua jenis, yakni jenis multicoper dan fixed wing. Drone ini memiliki kemampuan hingga 50 kilometer untuk sekali terbang. Untuk sehari saja, drone dapat terbang hingga lima kali. Lewat drone kayu ini juga diketahui bahwa wilayah DAS Kapuas ternyata memiliki danau-danau hidrolik lain selain Danau Sentarum yang tak banyak diketahui khalayak.

Dapat digunakan bagi masyarakat pedesaan

Drone murah hasil rakitan Radja dan tim peneliti juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi masyarakat desa. Kontribusi itu antara lain memungkinkan peran serta masyarakat dalam memperkuat pemetaan partisipatif. Untuk tata guna lahan pun dapat dipotret dengan baik. Selain itu, bisa juga sebagai sarana pengawasan lahan yang berkaitan dengan Undang-Undang Desa.

Sementara itu, segi harga akan memungkinkan setiap desa untuk memiliki drone ini. Mengingat harganya yang berada di kisaran Rp 10-15 juta, maka diharapkan setiap desa mampu membelinya bila dibandingkan dengan drone konvensional yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Baca juga:  Teknologi Milenial Untuk Menjaga Lingkungan (Hutan)

Prestasi membanggakan

Kesuksesan drone kayu yang murah ini pada akhirnya meningkatkan animo masyarakat pedesaan. Radja dan Swandiri Institute pun akhirnya mendirikan sekolah drone yang para siswanya adalah warga desa di pedalaman Kalimantan Barat. Dari sekolah inilah Radja semakin dikenal luas di Indonesia.

Dia pun bahkan pernah mendapatkan prestasi membanggakan dengan mendapatkan Wismilak Diplomat Success Challenge (DSC) pada 2015 lalu. Kini, Irendra Radjawali juga disibukkan dengan berbagai proyek bersama Kementerian Pekerjaan Umum RI dan Balai Sabo, terutama dalam hal mitigasi bencana longsor dan letusan gunung berapi dengan menggunakan fitur drone.

Kehadiran teknologi memang sudah seharusnya memberi manfaat bagi kehidupan, tidak terkecuali untuk alam. Berkat kepiawaiannya, Irendra Radjawali berhasil memaksimalkan teknologi drone demi melindungi alam Indonesia. Kalau kamu, sudah melakukan apa saja untuk alam tercinta ini?

Blad bread dude with mind full of curiosity. A student of life decide to learn by listening story of million minds of others precious thoughts

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id