Connect with us

Tips dan opini

Desa Penglipuran, Bangli, Bali.

Desa instragramable dapat kita temukan di kecamatan bangli, Bali. Desa yang terletak 2 jam dari kota Denpasar, Bali. Merupakan desa wisata yang penuh pesona dan asri oleh lingkungan sekitar dan budaya penduduk sekitar. Simak artikel berikut untuk

Desa instragramable di Bangli, Bali dapat kamu temukan dengan mudah menggunakan applikasi google map. Desa Penglipuran terkenal karena Arsitektur bangunan dan pengelolahan lingkungan yang masih mengikuti konsep Tri Hita Karana (Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan) dan filosofi masyarakat Bali mengenai keseimbangan hubungan antara Tuhan, Manusia dan lingkungannya. Maka dari itu masyarakat setempat masih menjalankan dan melestarikan budaya traditional di kehidupan sehari – hari.

papan desa penglipuran
Sewa warga terdaftar secara baik, terlihat dari papan di setiap pintu rumah

Arti Nama Penglipuran 

Nama Desa Penglipuran berasal dari Bahasa jawa “pengling pura” yang artinya Ingat Leluhur atau ada yang mengartikan “penglipur”, lipur yang berarti hibur ketidakbahagiaan. Menurut sensus pada tahun 2002 terdapat sebanyak 832 jiwa yang bermukin di desa adat ini, 425 orang laki – laki, 407 orang perempuan yang terkelompak menjadi 197 kepala keluarga dan 76 Pangayah (kepala keluarga dalam adat).

Tingkat pendidikan didesa ini masih di bawah rata – rata, dalam arti lebih banyak di desa ini hanya lulusan Sekolah Dasar, sebanyak 426 orang dan hanya 68 orang sampai jenjang perguruan tinggi. Pekerjaan yang populer di desa ini adalah sebagai petani, PNS/TNI pada peringkat kedua, kemudian di ikuti dengan pedagang, peternak, pengrajin dan terakhir buruh.

Perkawinan di desa ini termasuk unik nih, hampir di bilang perjodohan. Karena pernikahan di desa ini masih harus mengikuti adat desa, dengan cara memilih perempuan dari desa ini juga. Banyak dari hasil pernikahan ini masih terkait hubungan darah.

Pekerjaan Sehari – Hari

Keseharian penduduk Desa Penglipuran hidup dari hasil berdagang cendera mata, kopi, kue basah dan membuka warung makanan ringan didalam rumah warga.

Desa instragramable di Bangli Bali

Sama seperti struktur tata letak desa, struktur tata letak satu unit pekarangan juga mengikuti konsep Tri Mandala. Utama mandala di sebuah pekarangan akan berisi pura keluarga untuk menyembah dewa serta leluhurnya. Madya mandala akan digunakan untuk aktivitas kehidupan sehari-hari (dapur, kamar tidur, dan lain lain). Terakhir, nista mandala biasanya digunakan untuk mengeringkan baju dan penyimpanan hewan ternak. Salah satu bahan utama dari Seluruh bangunan adalah bambu. Mereka menggunakkan 4-5 lapisan bambu yang dikaitkan satu sama lain untuk membangun atap dan menganyam bambu untuk dijadikan dinding pembatas ruangan. Tetapi belakangan ini masyarakat penglipuran sudah mulai menggunakkan konstruksi modern karena banyaknya bambu yang ditebang. Pekarangan dapat dimasuki melalui dua sisi dengan pintu utamanya yang berbentuk gerbang dan bernama “angkul-angkul’.

Keunikan Desa Penglipuran

dapur rumah desa panglipuran
Foto model dapur di setiap rumah Desa Panglipuran. Bentuk dan Bahan Harus seragam di setiap rumah, telah di atur oleh pemerintah daerah setempat.

Pada tahun 1995, Desa Penglipuran mendapatkan penghargaan Kalpataru (Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia – wikipedia) dari Pemerintah Indonesia atas usaha penduduk melindungi Hutan Bambu di ekosistem lokal mereka.Masyarakat Penglipuran memercayai bahwa hutan tersebut tidak tumbuh sendiri melainkan di tanam oleh pendahulu mereka. Oleh sebab itu bambu dianggap sebagai simbol akar sejarah mereka. Hutan bambu yang tumbuh di Desa Adat Penglipura mempunyai luas sebesar 37.7 ha (sebelumnya 50 ha) dan terdiri dari 15 spesies bambu yang seluruhnya berstatus milik desa. Sebagian dari hutan tersebut dikelola langsung dibawah Adat Desa sebagai Laba Pura (diperuntukan untuk pemeliharaan bangunan pura) sedangkan sebagian dikelola oleh beberapa penduduk dengan status hak pakai. Bambu juga dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran sebagai bahan untuk membuat bangunan maupun rumah. Berikut adalah beberapa bangunan yang dibangun menggunakan bambu:

  1. 1. Pawon – Bangunan yang berfungsi sebagai dapur yang didalamnya terdapat lumbung padi serta tempat kecil untuk beristirahat. Pawon diangun keseluruhannya menggunakan bambu termasuk atap, dinding, tempat tidur, bahkan peralatan makan yang terdapat di dalamnya.
  2. 2. Bale Sakenem – Bangunan tempat dilaksanakannya upacara agama yang hanya dikhususkan untuk keluarga. Upacara uang sering dilakukan pada Bale Sakenem ini adalah upacara Pitra Yadnya (Ngaben) dan upacara Manusa Yadnya. Bangunan ini memakai bambu sebagai atapnya.
  3. 3. Bale Banjar – Bangunan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh masyarakat adat di Penglipuran. Bangunan ini tidak memiliki dinding, hanya memiliki tiang penyangga dan digunakan untuk prosesi upacara Ngaben masal dan pertemuan warga.

Sekian Review kita sobat, jadi kapan ni merencanakan berlibur ke Desa Penglipurann? Jangan lupa beli Souvenir, Jajanan dan Minuman, untuk mendukung Pariwisata Indonesia. Salam Alternative!

Mantan Karyawan Media, Advertising dan MarComm yang sekarang menggeluti Bidang Konsultan Komunikasi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Altermedia.id