Connect with us

Motivasi Lifestyle

Cara Menghadapi Orang Tua Yang Terkena Post Power Syndrome

Orang tua biasanya sangat rentan terkena post power syndrome. Untuk itu perlu segera dicarikan solusi terbaik, salah satunya dengan cara berikut ini.

cara mengatasi post power syndrome

Altermedia.id Menghadapi masa pensiun bagi sebagian orang merupakan momok yang sangat menakutkan. Bagi mereka yang telah lanjut usia mengalami ketakutan-ketakuan akan kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Jabatan atau kekuasaan yang pernag dipegang sebelumnya harus berakhir kita masa pensiun itu telah tiba. Sebagian menganggap pensiun adalah berakhirnya karir dalam bekerja, padahal masih banyak bisa dilakukan setelah pensiun.

Jabatan atau kekuasaan dalam pekerjaan merupakan status sosial yang dimilikinya. Salah satu pengaruh kemampuan seseorang dalam menghadapi masa pensiunnya adalah status sosial.

Sudah tentu dalam bekerja pasti ada masa pensiun seiring usia pekerja yang terus bertambah. Perubahan status sosial akan lebih terasa bagi mereka yang memiliki kekuasaan atau jabatan selama bekerja.

Mereka akan mengalami kehilangan semua perlakuan khusus yang diberikan selama bekerja semisal penghormatan. Bagi yang tidak menerima kenyataan dan tentunya hanya memiliki pergaulan yang terbatas, hal ini akan berdampak sangat buruk.

Orang yang lanjut usia biasanya akan merasakan kesepian dalam usia tuanya. Disinilah pentingnya seseorang dalam menjalin pergaulannya sebagai mahluk sosial. Ketika kita baik dalam bermasyarakat, maka kelak kita akan merasakan perlakuan yang baik pula.

Dalam hal inilah peran keluarga terutama anak-anaknya yang akan mampu memberikan semangat agar orang tua mereka tetap mampu menjalani kehidupan.

Keluarga harus sangat memperhatikan sekali bagaimana kondisi kesehatan orang tua baik secara fisik maupun sacara psikis.

Baca juga:  Ini yang Kamu Perlukan untuk Jadi Creativepreneur Sukses

Peran keluarga sangat penting dalam menemani orang tua yang kemungkinan mengalami post power syndrome. Keluarga mampu memberikan yang terbaik bagi orang tuanya dengan cara berdiskusi, bertukar pikiran atau keluarga mampu melihat bagaimana orang yang lanjut usia membina hubungan baik dengan teman sebayanya.

Bisa juga dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan orang tua tidal merenung dan menyendiri di rumah. Semisal keluarga menemani dalam kegiatan olah raga pagi, kegiatan sosial atau sesekali mengajaknya pergi berlibur.

Inspiring other people
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Motivasi Lifestyle

Kisah Dede Oetomo, Perjuangkan Hak-Hak Kaum LGBT di Indonesia

Dede Oetomo, aktivis LGBT Indonesia, GAYa Nusantara
Photo: Pexels

Berbicara mengenai LGBT di Indonesia merupakan hal tabu bagi sebagian besar masyarakat. Perilaku dari kaum ini dianggap menyimpang dan tidak sesuai dengan norma baik norma sosial hingga norma agama. Adalah Dede Oetomo, seorang sosiolog, aktivis AIDS, dan aktivis gay di Indonesia yang salah satunya kerap memperjuangkan hak-hak kaum LGBT di Tanah Air untuk mendapatkan perlakuan yang sama di masyarakat. Bagaimana sepak terjangnya dalam memperjuangkan hak kaum LGBT dan kisahnya membangun organisasi gay di Indonesia? Inilah kisahnya yang bisa Sobat Alter ikuti!

Perjuangkan Hak Kaum LGBT

Sebagai aktivis yang getol memperjuangkan hak-hak kaum LGBT di Indonesia, Dede Oetomo sejak dulu dikenal telah melakukan berbagai macam jalur. Doktor linguistik lulusan Cornell University ini pun sejak dulu tidak segan-segan untuk terbuka mengenai keberadaannya sebagai seorang gay. Bahkan dia menjadikannya sebagai kebanggaan karena merasa berbeda dari masyarakat pada umumnya. Demikian seperti yang ditulis dalam Majalah Matra Edisi 104, Maret 1995 silam.

Dede Oetomo tidak hanya memberikan advokasi kepada kaum LGBT secara terbuka. Dia pun juga pernah mendaftarkan diri menjadi komisioner komnas HAM pada 2012 lalu, dengan harapan suatu saat nanti mereka akan diakui eksistensinya sebagai manusia dan dihormati hak asasinya di bawah naungan HAM.

Dirinya juga pernah bercita-cita suatu saat nanti ada partai khusus bagi kaum LGBT. Dari sanalah diharapkan kaum LGBT ini bisa menyuarakan aspirasinya dalam roda pemerintahan dan politik. Hingga saat ini pemerintah masih bersikap dingin terhadap kelompok ini. Salah satu bentuk advokasi dan pelayanan konseling serta perlindungan terhadap kaum LGBT di Indonesia yang dilakukan Dede Oetomo ialah dengan membentuk organisasi GAYa Nusantara dan IDAHOT.

Baca juga:  Deddy Corbuzier, Sosok Penuh Inspirasi Di Balik Penampilan Sangar

Dirikan Organisasi GAYa Nusantara

GAYa Nusantara bisa dibilang sebagai pelopor gerakan LGBT di Surabaya. Organisasi ini didirikan pada 1 Agustus 1987 di Surabaya. Tujuan utamanya adalah sebagai wadah bagi para kaum LGBT untuk berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan sesama di Tanah Air. Lambat laun, organisasi ini pun juga didirikan di berbagai kota seperti di Jakarta, Bandung, Sidoarjo, dan Makassar.

Berbeda dengan organisasi lainnya, selain fokus melakukan advokasi, organisasi ini tidak menghimpun anggota. Jadi, dapat dibilang hanya menyediakan layanan saja kepada masyarakat mengenai kaum LGBT. Pelayanan itu mulai dari penerbitan majalah bulanan, memberikan bimbingan konseling bagi masyarakat tentang LGBT, hingga melakukan kampanye pencegahan terhadap penyakit HIV dan AIDS.

Organisasi ini pun juga akan memfasilitasi dan memberikan advokasi khususnya bagi para pria gay untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendapatkan penghasilan seperti mayoritas masyarakat pada umumnya.

IDAHOT di Indonesia

IDAHOT merupakan akronim dari International Day Against Homophobia and Transphobia. Gerakan ini diperingati setiap tanggal 17 Mei yang bertujuan untuk melawan adanya homofobia dan transfobia. Perayaan IDAHOT di Indonesia juga bisa dibilang menjadi hal yang cukup baru dan muncul pada 2012 lalu.

Di setiap tahunnya, organisasi dan kelompok LGBT menggelar aksi ini di depan masyarakat umum. Semangat IDAHOT seiring berjalannya waktu semakin menjadi relevan. Bahkan kini tidak hanya organisasi LGBT seperti GAYa Nusantara dan serupa saja yang melakukan aksi seperti ini, melainkan juga kelompok lain seperti kelompok perempuan yang menuntut adanya kesetaraan gender hingga kelompok-kelompok yang bergerak dalam ranah hak asasi manusia.

Baca juga:  Waspada Gejala Post Power Syndrome

Kisah Dede Oetomo bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus membantu memperjuangkan hak-hak kaum minoritas di Indonesia. Terlepas dari orientasi seksual, latar belakang agama, dan lainnya, pada dasarnya kita memiliki derajat yang sama. Jadi, tidak ada alasan untuk merendahkan atau menjatuhkan orang lain.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Unik, Inilah Cara Elan Jaelani Tingkatkan Minat Baca Anak Indonesia

Elan Jaelani ternyata punya cara unik untuk meningkatkan minat baca anak Indonesia, yakni melalui perpustakaan sampah, seperti apa?

perpustakaan sampah
Photo: PxHere

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya di kota Bogor, membuat hari Elan Jaelani tergerak. Dengan bermodalkan semangat, beberapa perlengkapan pendukung, dan tempat tinggalnya, dia memutuskan untuk membuka perpustakaan sekaligus bank sampah bagi masyarakat. Langkah kecil ini ternyata membuahkan hasil positif dan mengantarkannya ke berbagai prestasi dan penghargaan. Bahkan dirinya juga sempat diundang menjadi tamu kehormatan di Istana Negara.

Melihat Dunia Lewat Sampah

Perpustakaan Elan Jaelani tampak sedikit berbeda dan unik bila dibandingkan dengan perpustakaan lainnya di mana pun. Perpustakaan yang berada di tempat tinggalnya di Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Bogor tersebut mengharuskan siapa saja termasuk anak-anak untuk menyumbangkan sampah plastik jika ingin membaca buku atau meminjamnya.

Semakin banyak sampah plastik yang dibawa, maka akan semakin baik. Perpustakaan yang didirikan pada 2015 ini memberikan bimbingan gratis kepada anak-anak sekitar untuk mengembangkan minat dan bakatnya masing-masing. Demikianlah perpustakaan milik Elan Jaelani juga menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca masyarakat di Indonesia sekaligus meningkatkan kepedulian mengenai lingkungan, khususnya dalam penanganan sampah plastik yang kian hari kian memperburuk kondisi lingkungan kita.

Biasanya perpustakaan mini ini ramai dikunjungi setelah jam pulang sekolah. Umumnya yang datang adalah pelajar SD di sekitar lingkungan perpustakaan. Namun, Elan Jaelani tidak membatasi hanya untuk pelajar. Baginya, siapa pun boleh membaca dan menambah wawasan di perpustakaannya asalkan membawa sampah plastik untuk ditabung.

Baca juga:  Deretan CEO Dunia dengan Gaji yang Bikin Kamu Ngiler

Membantu Masyarakat Sekitar

Apa yang dilakukan oleh Elan Jaelani mendapatkan respons positif bagi masyarakat. Pasalnya, tidak hanya lingkungan yang semakin bersih dan minat baca masyarakat yang meningkat, perpustakaan ini juga sangat membantu perekonomian masyarakat. Sampah yang dibawa warga atau pengunjung nantinya akan ditimbang. Sebagai gantinya, masyarakat bebas memilih berupa makanan, jajanan, atau uang. Akan tetapi, uang itu tidak diambil, melainkan ditabung.

Rata-rata sampah yang dibawa memang kurang dari satu kilogram. Maka, sampah perlu ditabung terlebih dahulu hingga mencapai satu kilogram. Per kilogramnya sampah itu dihargai Rp2.000 hingga Rp2.500. Anak-anak biasanya dapat menukarkannya dengan jajanan atau ditabung untuk keperluan besar seperti misalnya untuk Lebaran.

Selain anak-anak, perpustakaan milik Elan Jaelani juga diminati oleh para ibu rumah tangga. Para ibu rumah tangga di kampung Pamoyanan merasa sangat terbantu dengan adanya bank sampah. Dari situlah nantinya para ibu-ibu menukarkan sampah dengan produk kebutuhan sehari-hari seperti bumbu dapur dan sabun cuci.

Bertemu dengan Presiden

Upaya pria lulusan S-1 Sistem Informasi STMIK M.H. Thamrin Jakarta ini pun telah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain adalah peringkat dua lomba pelopor pengelolaan sampah 2016 oleh Pemerintah Kota Bogor. Di tahun yang sama, dia juga meraih penghargaan Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia dalam rangka Hari Keluarga Nasional XXII 2016 oleh GiGa Indonesia yang didukung oleh BKKBN, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta IPB.

Baca juga:  Waspada Gejala Post Power Syndrome

Tidak hanya itu, Elan Jaelani juga mendapatkan penghargaan bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo bersama rekan-rekan pegiat literasi lain se-Indonesia dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2017 lalu. Pada awalnya, Elan Jaelani sempat tidak percaya jika mendapatkan undangan khusus bertemu presiden. Setelah dikonfirmasi, ternyata hal itu benar dan Elan dapat memaparkan kegiatannya kepada para tamu undangan, termasuk Menteri Pendidikan kala itu, Muhadjir Effendi.

Setidaknya, apa yang dilakukan oleh Elan Jaelani ini dapat memotivasi kita untuk berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan dengan apa yang kita bisa. Semua bisa terwujud asalkan diawali dengan niat dan tekad yang kuat dalam membantu memperbaiki kondisi yang ada menjadi lebih baik.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Qory Sandioriva, Mantan Puteri Indonesia yang Kini Berjuang Melawan Lupus

Lama tidak terdengar karyanya, mantan Putri Indonesia Qory Sandioriva ternyata mengidap penyakit lupus. Seperti apa kisahnya?

Qory Sandioriva, penyakit autoimun, penyakit lupus
Photo: @qorysandioriva

Nama Qory Sandioriva mungkin pernah terdengar beberapa tahun lalu. Perempuan kelahiran Jakarta ini sempat terpilih menjadi Puteri Indonesia 2009 dan mewakili Indonesia dalam ajang internasional Miss Universe. Pascakeikutsertaannya dalam ajang tersebut, Qory selalu mendapat banyak tawaran tampil on air dan off air. Namun, tiba-tiba saja ia menghilang. Ternyata Qory kini sedang berjuang melawan lupus. Bagaimana kisahnya kini?

Mulai terkenal sejak ikuti Puteri Indonesia

Qory Sandioriva mulai dikenal masyarakat sejak mengikuti ajang kecantikan Puteri Indonesia 2009. Saat itu, Qory mewakili Daerah Istimewa Aceh. Keikutsertaan Qory saat itu bisa dibilang cukup mengundang kontroversi. Ia dianggap tidak mampu mewakili nilai-nilai yang selalu ada di Aceh.

Walau mendapat banyak tekanan, Qory justru keluar sebagai pemenang ajang Puteri Indonesia 2009 dan berhak mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe 2010. Namun, di ajang kecantikan level internasional tersebut, Qory gagal mempersembahkan gelar ratu sejagad untuk Indonesia.

Menjadi artis yang menghiasi layar kaca

Meski Qory tidak berhasil membawa pulang mahkota Miss Universe, ia menjadi sangat terkenal setelah pulang ke Indonesia. Tawaran untuk membintangi film, sinetron, atau iklan terus mengalir hingga wajahnya saat itu bolak-balik muncul di layar kaca Indonesia,

Beberapa karya terkenal yang ia bintangi adalah film Purple Love (2011) dan Mother Keder: Emakku Ajaib Bener (2012). Namun, setelah pernikahannya dengan Ramon Y. Tungka pada November 2012, ia seolah menghilang dari dunia selebriti. Banyak yang beranggapan bahwa Qory ingin lebih fokus menjadi seorang istri dan ibu. Ternyata, alasannya bahkan lebih rumit dari itu.

Baca juga:  Deddy Corbuzier, Sosok Penuh Inspirasi Di Balik Penampilan Sangar

Terdiagnosis penyakit autoimun

Mundurnya Qory Sandioriva dari dunia keartisan pada saat itu tidak hanya dilatari oleh keinginannya untuk fokus menjadi istri Ramon Y. Tungka. Namun, ternyata Qory terdiagnosis suatu jenis penyakit autoimun yang sering disebut sebagai lupus. Tanda-tanda adanya penyakit tersebut bahkan telah dirasakannya sejak mengikuti ajang Putri Indonesia 2009. Ia kerap pingsan saat merasa terlalu kelelahan.

Untuk mengobati penyakit tersebut, Qory bahkan rela terbang ke Korea Selatan. Temannya yang seorang dokter menganjurkan untuk terbang ke Korea karena di sana sudah ada teknologi terbaru untuk menangani penyakit autoimun.

Kehidupan setelah menjadi penderita lupus 

Qory Sandioriva mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak banyak perubahan yang terjadi pada fisiknya. Mungkin perubahan yang paling terlihat adalah pertambahan berat badan karena mengonsumsi steroid untuk menekan penyebaran autoimun meluas dalam tubuh.

Terlebih pada saat itu ia sedang mengandung, maka pertambahan berat badannya pun sangat terlihat. Selain itu, kulit Qory pun terkadang mengeluarkan ruam-ruam merah yang terasa nyeri saat disentuh.

Walau begitu, hal tersebut tidak pernah menghalanginya untuk mencurahkan kasih saying pada buah hatinya. Ia justru merasa diberi waktu yang lebih banyak untuk merawat buah hatinya dengan tangannya sendiri. Keluarga pun selalu memberikan dukungan yang melimpah untuknya. Jadi, ia pun selalu bersemangat untuk menjalani hari-harinya.

Kembali ke layar kaca

Baca juga:  Mengenal Profesi Make Up Artist

Dengan dukungan penuh dari keluarga serta pengobatan yang dijalaninya, Qory Sandioriva pun lebih percaya diri untuk kembali berkarya. Ia bahkan kembali bermain film pada 2018. Di samping itu, Qory juga mulai menerima tawaran untuk tampil di acara talk show dan bercerita tentang penyakit yang diidapnya.

Sekarang, Qory sudah bisa beraktivitas seperti biasa dan membesarkan buah hatinya. Semua tidak lepas dari lingkungan yang selalu mendukungnya untuk sembuh. Semoga sehat selalu!

Apa yang bisa dipelajari dari cerita Qory Sandioriva dan penyakitnya? Sobat Alter mungkin sempat melihat beberapa kata “dukungan” dimunculkan. Ya, itulah yang amat dibutuhkan oleh orang yang sedang sakit, terutama yang mengidap penyakit serius seperti lupus. Ingat, jauhi penyakitnya, bukan orangnya ya!

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Cerita Jemi Ngadiono, Pendiri 1000 Guru yang Sempat Nyaris Putus Sekolah

Sebagai penggagas gerakan yang mendukung pendidikan hingga ke pelosok negeri, siapa sangka bahwa Jemi Ngadiono ternyata pernah mengalami masa sulit dimana terancam putus sekolah?

seribu guru
Photo: Seribuguru.org

Sobat Alter, pernah dengar gerakan 1000 Guru? Ini adalah sebuah gerakan yang menggagas penyebaran ilmu ke pelosok Indonesia demi perataan pendidikan? Tahu, tidak, bahwa ternyata Jemi Ngadiono, sang penggagas gerakan 1000 Guru, adalah orang yang dulunya sempat terancam putus sekolah dan pernah tinggal di panti asuhan demi bisa melanjutkan pendidikan.

Mungkin benar kata pepatah, bahwa orang yang memiliki pengalaman pahit akan tumbuh menjadi sosok yang lebih peduli dan mengerti. Seperti Jemi Ngadiono, karena pernah memiliki kehidupan pendidikan yang tidak mudah, kini ia bertekad untuk memberikan akses pendidikan kepada seluruh anak di pelosok negeri. Bagaimana sosok Jemi Ngadiono dan cerita mengajarnya bersama gerakan 1000 Guru?

Kisah pahit Jemi Ngadiono sewaktu kecil 

Jemi Ngadiono, lahir pada 11 Mei 1984. Sebagai anak kecil yang polos, ia tidak terlalu paham dengan kondisi orang tuanya pada saat itu. Ia juga tidak terlalu mengerti bahwa ia terancam putus sekolah karena ketidakmampuan orang tuanya dalam hal finansial. Di sisi lain, orang tua Jemi Ngadiono ingin anaknya terus mendapatkan pendidikan yang layak.

Berangkat dari keinginan kuat orang tua Jemi Ngadiono demi memberikan pendidikan yang layak pada anaknya, maka Jemi terpaksa harus dititipkan di panti asuhan. Dengan dititipkan di panti asuhan, Jemi Ngadiono akhirnya bisa terus melanjutkan pendidikannya. Pada saat itu, ia mengerti bahwa pendidikan tidak bisa dengan mudah didapat oleh siapa pun. Ada banyak anak tidak beruntung di luar sana yang tidak merasakan bagaimana serunya belajar di sekolah bersama dengan teman-teman.

Baca juga:  Unik, Inilah Cara Elan Jaelani Tingkatkan Minat Baca Anak Indonesia

Dari pemahaman itulah Jemi Ngadiono bertekad bahwa suatu hari, ketika sudah dewasa, ia akan membantu anak-anak untuk bersekolah. Ia tidak ingin anak-anak di seluruh pelosok negeri mengalami nasib pahit yang pernah menimpa dirinya.

Menggagas gerakan 1000 Guru

Pada 2012, keinginan Jemi Ngadiono bisa terwujud. Ia menggagas komunitas sekaligus gerakan 1000 Guru untuk menyebarkan pendidikan gratis setiap bulan pada anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Ia merekrut berbagai kalangan, tidak hanya akademisi, untuk ikut bersamanya menjelajahi pelosok negeri dan memberikan pendidikan gratis pada anak-anak di sana.

Siapa pun bisa menjadi guru. Jemi Ngadiono mengundang semua orang dari berbagai profesi seperti polisi, pengusaha, guru, dokter, bahkan mahasiswa, untuk traveling bersamanya dan membagikan ilmu secara cuma-cuma pada anak-anak daerah. 

Bukan hal yang mudah memang mengajak orang untuk mau memberikan pendidikan ke berbagai penjuru Indonesia. Saat awal didirikan, Jemi Ngadiono hanya berhasil mengajak tiga orang bergabung bersamanya. Lalu, jumlah tersebut meningkat menjadi tujuh. Tak hilang akal, Jemi Ngadiono membagikan keseruan menjadi pengajar di pelosok melalui akun Instagram 1000 Guru. Dari sanalah ia berhasil merekrut ratusan orang hingga akhirnya 1000 Guru terlibat di 40 regional di seluruh Indonesia.

Traveling and teaching 

Gerakan 1000 Guru yang digagas oleh Jemi Ngadiono ini menerapkan konsep traveling and teaching. Dengan begitu, para volunter 1000 Guru tidak hanya diajak untuk mengajar, tetapi juga mengeksplorasi keindahan negeri dari berbagai pelosok. Jemi ingin setiap volunter 1000 Guru tidak merasa terbebani dengan tugasnya sebagai pengajar. Maka dari itu, sembari mengajar, relawan akan diajak jalan-jalan oleh Jemi. Dengan begini, 1000 Guru menjadi sebuah komunitas seru sekaligus ajang berbagi dengan sesama.

Baca juga:  Deretan CEO Dunia dengan Gaji yang Bikin Kamu Ngiler

Jemi Ngadiono ingin agar 1000 Guru berkembang menjadi tempat untuk saling memberi inspirasi. Volunter belajar semangat pantang menyerah dari anak-anak daerah yang kurang beruntung dalam pendidikan. Sementara anak-anak pelosok negeri bisa terinspirasi untuk menjadi sosok yang sukses menggapai cita-cita seperti para pengajar di 1000 Guru.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Deddy Corbuzier, Sosok Penuh Inspirasi Di Balik Penampilan Sangar

Di balik sosoknya yang kuat dan gahar, ternyata Deddy Corbuzier memiliki perjalanan hidup yang sarat akan motivasi. Seperti apa?

Mentalis indonesia
Photo: Instagram mastercorbuzier

Siapa yang tidak kenal dengan sosok mentalist yang kini banting setir menjadi YouTube content creator, Deddy Corbuzier? Sosok yang dulu menghiasi layar kaca dengan menghadirkan trik sulap yang memukau mata, kini tetap hadir dengan “sentilan” terhadap situasi terkini dalam kanal YouTube pribadinya.

Namun, di balik segala kepiawaiannya menarik perhatian penonton, sosok Deddy Corbuzier sejatinya merupakan sosok dengan kisah hidup yang penuh inspirasi. Lika-liku kehidupannya, hingga kini meraih kesuksesan, tidak bisa dianggap sepele. Mari simak perjalanan hidupnya hingga kini menjadi entertainer dunia hiburan Tanah Air sekaligus sosok ayah untuk putra semata wayangnya.

Berasal dari keluarga sederhana

Kehebatan Deddy Corbuzier menampilkan aksi sulap dan ilusi pada saat awal kariernya dulu mungkin membuat Sobat Alter merasa bahwa ia berasal dari keluarga berada. Peralatan sulap dan triknya tentu tidak murah harganya, bukan?

Namun anggapan tersebut justru salah. Alih-alih berasal dari kalangan berada, Deddy justru merupakan anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Saat dulu pertama tiba di Jakarta, ayah Deddy yang berasal dari Banyuwangi adalah seorang supir angkutan umum mikrolet dengan penghasilan pas-pasan. Ibunya membantu perekonomian rumah tangga dengan menjadi tukang jahit rumahan yang mendapat penghasilan hanya saat mendapat pesanan.

Profesi tersebut ditekuni kedua orang tua Deddy Corbuzier bahkan saat ia beranjak dewasa. Walau begitu, Deddy tidak pernah mengeluh dan justru bersyukur karena berada di keluarga yang penuh kasih sayang.

Baca juga:  Jenis Asuransi Yang Ada di Indonesia

Sejak kecil tertarik pada sulap

Bakat Deddy Corbuzier untuk menampilkan trik sulap ternyata bukanlah sebuah hal yang muncul tiba-tiba. Ketertarikannya terhadap dunia sulap bahkan sudah muncul saat ia masih kecil. Deddy pertama bersinggungan dengan seni sulap saat menonton pertunjukan sulap yang ditayangkan di TVRI.

Ketertarikan tersebut tidak hanya sambil lalu. Saat duduk di bangku SMA,
Deddy mulai belajar secara otodidak tentang seni sulap. Meski ketekunannya untuk belajar sulap sering disepelekan banyak orang, ia tidak menyerah. Deddy justru merasa lebih bersemangat untuk membuat sulap menjadi lebih populer di Indonesia.

Berkat ketekunannya tersebut, Deddy Corbuzier akhirnya mampu meraih ketenaran. Ia akhirnya menjadi seorang pesulap yang menampilkan trik-trik penuh risiko dan kerap muncul di televisi nasional.

Melebarkan sayap ke dunia presenter

Setelah merasa cukup puas dengan pencapaiannya di dunia sulap, Deddy Corbuzier kemudian merambah ke dunia presenter. Ia bahkan menggagas sebuah ajang pencarian bakat untuk mencari bakat-bakat sulap di Tanah Air. Lewat acara tersebut, Deddy bahkan berhasil menemukan pesulap berbakat yang kini kerap menghiasi layar kaca.

Di puncak ketenarannya ini, Deddy memilih untuk memulai bahtera rumah tangga bersama Kalina Oktarani pada 2005. Dari pernikahan tersebut, Deddy dan Kalina dikaruniai seorang anak laki-laki, Azkanio Nikola. Sayangnya, mereka memutuskan untuk bercerai pada 2013 lalu.

Berhenti menjadi pesulap

Baca juga:  Makna Hari Ibu Bagi Kaum Milenial

Pada 2014, Deddy Corbuzier sempat dirawat di rumah sakit karena syaraf tulang ekornya terjepit. Hal tersebut merupakan efek dari kecelakaan yang dialami Deddy pada 2009. Dengan kondisi kesehatan yang demikian, ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karier sebagai pesulap.

Titik balik kehidupan Deddy Corbuzier

Banyak yang menganggap hidup Deddy hancur berantakan pascaperceraian dan keputusannya untuk pensiun dari dunia sulap. Namun, hal tersebut justru menjadi titik balik baginya. Ia justru belajar lagi untuk melimpahkan kasih sayang kepada buah hatinya meski terhalang perceraian. Tipsnya adalah sebisa mungkin memberi Azka ruang dan tidak membuatnya tertekan. Terlebih Azka adalah anak yang spesial karena memiliki disleksia.

Deddy membebaskan anaknya untuk mengetahui hal-hal yang menimbulkan rasa penasaran. Dengan catatan, ia selalu mendampingi agar anak bisa langsung bertanya saat merasa kebingungan. Cara ini dinilainya lebih efektif daripada mengekang dan melarang anak. Hasilnya terlihat. Saat lulus dari bangku SD, Azka berhasil menjadi lulusan terbaik. Azka juga bisa menciptakan sebuah karya yang membanggakan, Story of My Life #azkacorbuzier.

Selain lebih memperhatikan buah hatinya, pensiun dari dunia sulap ternyata juga membuat Deddy menjadi lebih produktif. Ia menekuni profesi presenter yang dulu hanya menjadi pekerjaan sampingan. Selain itu, Deddy juga mulai menjajaki karier sebagai penulis. Buku pertamanya berbagi kisah tentang tips diet OCD (Obsessive Corbuzier’s Diet). Buku tersebut laku di pasaran dan tips dietnya diterapkan oleh banyak orang.

Baca juga:  Mengenal Profesi Make Up Artist

Itulah perjalanan hidup seorang sosok yang selama ini dianggap sangar dan misterius oleh kebanyakan orang. Dari sosok Deddy remaja, Sobat Alter bisa belajar bahwa ketekunan pasti akan membuahkan hasil. Sosok Deddy dewasa pun mengajarkan agar kita bisa tetap menyeimbangkan antara karier dan keluarga.

Inspiring other people
Continue Reading

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id