Connect with us

Tokoh Inspiratif

Andre Wiredja dan Inspirasi Tanpa Batas

Awalnya, Andre hanya menjalani begitu saja hobby fotografi-nya. Tapi, semakin dijalani, kecintaannya pada seni membuatnya jatuh semakin dalam.

Altermedia.id – Anak pertama dari dua bersaudara, lahir di Bandung pada 1986, sejak kecil, Andre diasuh oleh Omanya. Meskipun terpisah dari kedua orang tua, Andre tidak lantas kehilangan pengajaran dan pendidikan dari orang tua. Oma yang membesarkannya mengenyam pendidikan Belanda, sehingga menempa Andre dengan kedisiplinan, kemandirian, ketepatan waktu, dan tanggung jawab.

Oma juga mengajarkan Andre menjadi anak yang cinta pada alam dan lingkungan sekitar. “Dulu Oma sering ajak gue ke pasar menemaninya belanja. Kadang Oma juga mengajak mencari lokasi wisata alam dan keluar kota,” kenangnya. Pengalaman-pengalaman itu membuatnya jadi banyak pengetahuan tentang tempat-tempat yang unik untuk berlibur.

Setiap kali Andre kangen pada pengalaman tersebut, Andre menyempatkan diri untuk berlibur jauh dari keramaian kota Jakarta atau sekadar pulang ke Bandung untuk bertemu teman-teman semasa kecil. Andre selalu tertawa geli ketika menceritakan masa kecilnya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu memiliki teman yang sama. “Kita rasanya enggak naik kelas. Temennya ini-ini aja,” ujarnya. Teman-teman itu pula yang membuatnya selalu merindukan pulang ke Bandung.

Oma membuat peraturan yang ketat yang mengatur kapan waktunya bermain dan kapan waktunya belajar. Meskipun begitu, Andre masih diizinkan untuk bermain video games di rumah temannya. “Bisa tiga sampai empat kali seminggu gue main video games,” kenangnya. Peraturan yang dibuat Oma membuatnya terbiasa berdisiplin, tepat waktu, tanggung jawab, dan selalu berusaha keras.

Baca juga:  Inspirasi Carolina Septerita, Dari SPG sampai jadi Chief of Art Wardah Cosmetics

“Jangan pernah puas. Begitu kita puas, kita akan berhenti berkarya,” kata Andre mengutip prinsip hidupnya menempa diri.

Andre memulai hobinya pada fotografi secara tidak disengaja. Ketika itu, salah satu teman kuliahnya membawa kamera digital, dan kemudian Andre tertarik untuk mengulik kreativitasnya menggunakan kamera tersebut. Masa awal Andre mengenal fotografi adalah masa saat Andre mencari jawaban atas kecintaannya pada seni. Kala itu, Andre sedang mengeksplorasi seni menggambar. Langkahnya mendalami seni sempat terhenti, sampai ketika ia menemukan ‘waktu’ eksplorasi seni fotografi.

Andre kecil memiliki kesukaan pada buku-buku ensiklopedia. Sering ia tenggelam dalam buku-buku. Ketika mulai mengeksplorasi seni fotografi, Andre banyak membaca buku dan majalah fotografi. Lanskap, potret, fesyen, dan banyak subkategori fotografi ia pelajari dan coba satu per satu hingga akhirnya menemukan fotografi fesyen sebagai salah satu jalannya.

Sayangnya, ketika itu di Bandung belum banyak memiliki tempat belajar mengenai fotografi fesyen. Karenanya, Andre memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari tempat belajar fotografi secara profesional sekaligus mencari pengalaman kerja. Berbekal referensi dari seorang teman dan portofolio yang ia kumpulkan, Andre memulai karier pertamanya di salah satu majalah fashion kenamaan di Jakarta. Dalam waktu 5 bulan, Andre mengasah dan menempa diri.

Sandra, salah satu mantan atasannya, kemudian menawarkan lowongan magang di NPM Studio milik Nicoline P. Malina. Dengan dukungan dari Sandra, Andre pun mendapatkan pekerjaan di NPM Studio. “Nicoline itu adalah orang yang memiliki persistence dan perseverance,” ungkapnya menggambarkan Nicoline. “Karena Nicoline, saya menjadi seperti saya yang sekarang ini,” tambahnya lagi. Berulang kalimat itu diucapkan selama wawancara dengan tim Altermedia.

Baca juga:  Motivasi Robby Firlian untuk Go International

Andre berharap akan semakin banyak fotografer muda di Indonesia. “Jangan panas di awal-awal. Harus terus mencari jati diri, eksplorasi terus, karena fotografi itu luas. Banyak yang harus dipelajari dan dipraktikkan,” ujarnya berbagi tips. Semua teori itu bagus, tapi orang itu sendiri yang harus menemukan jalan atau karakternya di fotografi, tutupnya.

Inspiring other people
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tokoh Inspiratif

Nanda Ivens: Belajar Hal Baru Setiap Hari

The First Indonesian to be an APAC CEO of any multinational company. CEO XM GRAVITY/MIRUM dan sekarang QANDEO Asia Consulting.

mirum, xm gravity, unicaorn indonesia
Photo: Doc Altermedia.id

Altermedia.id – Pada suatu sore, tim Altermedia disambut hangat di kediaman Nanda Ivens, CEO Qandeo Asia Consulting. Sapaan hangat dan canda tawa membuka pintu lebar bagi kami untuk ngobrol santai mengenai kehidupan, inspirasi bisnis, dan motivasi kehidupan. Suguhan teh dan camilan ringan yang disajikan langsung oleh tuan rumah membuat kami bertanya, ke mana asisten rumah tangga (ART) beliau?

Dengan senyuman hangat, Nanda menjawab, “Kami tidak menggunakan ART. Di dalam rumah ini, kedua anak, saya dan istri mempunyai tugas masing-masing yang sudah terjadwal untuk mengeloka rumah. Saya bangun kebiasaan tersebut sedari muda.”

Lulusan Political Science, Boston University pada 1997 ini memegang prinsip bahwa sebagai seorang pebisnis harus bisa displin dan konsisten. Karena disiplin adalah fondasi dari sebuah kesuksesan, disiplin waktu, kesehatan, dan komitmen melatih kita memenuhi janji kepada klien, keluarga, tim, teman-teman, dsb.

Kata-kata inspiratif tersebut membuat kami tahu lebih dalam lagi mengenai tokoh digital yang sudah berpengalaman kurang lebih 25 tahun. Banyak inspirasi hidup dan bisnis yang beliau dapatkan dari membaca buku, konten-konten digital dan pembelajaran dari kehidupan. “You can never stop learning. The day you stop learning is the day that you die,” kata Nanda mengingat ucapan mendiang kakeknya.

Pengalaman Nanda sudah tidak diragukan lagi. Pun demikian, Nanda masih menemukan hal-hal baru seperti layaknya harta karun terpendam yang menunggu ditemukan. Tentu untuk menemukan hal tersebut, Nanda memiliki cara pandang dan pengalaman yang luas. Nanda juga belajar mendengar dan menyediakan waktu untuk siapa pun. Prinsip Nanda ini diterapkan kepada siapa pun untuk memperluas pandangan dan jangkauan pembelajaran.

Baca juga:  Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal Sampai Jadi Duta Besar

“I listen to learn, I learn to listen,” ujar The First Indonesian to be an APAC CEO of any multinational company.

Father Figure

Nanda akrab dipanggil Papi oleh anak-anak didiknya di beberapa agensi digital. Panggilan itu muncul karena Nanda adalah seseorang yang egaliter dan memegang prinsip open door policy yang ia terapkan kepada seluruh anggota tim. Nanda seperti seorang ayah yang care kepada seluruh anggota timnya dan menjadikan ruang kerjanya sebagai tempat mencurahkan isi hati dan kepala, berkeluh kesah dan bersandar ketika sedang patah semangat.

Nanda juga tidak segan untuk berbagi kebahagiaan dengan anggota timnya, sekadar kongkow dan bercanda. Cerita-cerita lucu pengalaman Nanda juga menjadi pembahasan hangat di tengah padat dan besarnya beban seorang CEO XM GRAVITY/MIRUM dan sekarang QANDEO Asia Consulting.

“Ada saatnya saya menjadi leader bagi mereka, ada saatnya saya menjadi teman bagi mereka,” ungkap Nanda. Tidak jarang anggota timnya datang untuk membicarakan hal-hal pribadi yang berhubungan dengan percintaan, masalah keluarga, ataupun masalah dengan orang tua. Nanda selalu menaruh posisi mereka sebagai keluarga kedua. “I am a servent of my troops. Saya bukan bos mereka, tapi saya adalah pelayan mereka,” imbuhnya.

Family Man

Menjadi kepala keluarga bagi Nanda Ivens berarti menjadi seseorang yang dapat mengayomi dan ikut terlibat dalam kegiatan rumah tangga. Kepala keluarga mesti dapat memberikan rasa aman, memberikan contoh yang baik, memberikan contoh displin dalam membersihkan rumah, dan mencontohkan bagaimana mengungkapkan kasih sayang kepada satu sama lain.

Baca juga:  Nanda Ivens: Belajar Hal Baru Setiap Hari

Lebih lanjut, kepala keluarga juga harus bisa membangun komunikasi yang baik antarorang tua dan anak. Mengantar anak hanya satu contoh tanggung jawabnya. Sebagai kepala keluarga, ia berusaha menjaga tradisi keluarga seperti kumpul dalam sebuah pertemuan atau makan malam untuk sekedar saling bertukar cerita tentang keadaan atau sekadar membahas peraturan rumah, rencana liburan dan lain-lain. Hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun keluarga besar Ivens. Ayah Nanda Ivens mengajarkan hal tersebut.

“Menjadi kepala keluarga itu seperti menjadi leader. Di agama Islam disebutnya sebagai imam. Banyak orang lupa dengan hal tersebut,” ungkapnya. Prinsip ini dipegang betul oleh Nanda. Karenanya, Nanda punya banyak keluarga di rumah, di kantor, dan bahkan keluarga yang terbentuk dari teman-teman kecilnya

Naluri Bisnis

Pengalaman Nanda Ivens menjadi konsultan bisnis sudah teruji dalam dunia profesional selama kurang lebih selama 25 tahun. Bakat ini ditumbuhkan dan dilatih oleh orang tua beliau yang menyekolahkan Nanda di St. Mary’s International School, Tokyo ketika Nanda berusia 14 tahun. Setiap Nanda memiliki permintaan untuk keperluan sekolah seperti laptop dan barang lainnya, Nanda harus membuat proposal yang detil dan rinci berikut manfaat barang yang dibutuhkan tersebut.

Ketika duduk di bangku kuliah, Nanda mulai mendapatkan latihan yang lebih mendalam soal intuisi bisnis tersebut. Nanda mencari uang jajan tambahan dengan mengadakan House Party yang mendapatkan profit yang bagus. Dari beragam pengalamannya, Nanda menyimpulkan bahwa setiap orang harus mempunyai business acumen, sebuah prinsip yang harus diterapkan untuk menjaga perkembangan bisnis.

Baca juga:  Motivasi Robby Firlian untuk Go International

Bisnis itu bukan sekadar mengambil barang, kemudian dinaikkan harganya, dan dijual lagi sehingga menjadikan profit. Bisnis bagi Nanda harus memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi banyak orang, paling tidak bagi ketiga anggota keluarganya.

Simak Video Motivasi & Inspirasi Bisnis dari Bpk. Nanda Ivens diatas

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal Sampai Jadi Duta Besar

Siapa yang menyangka jika seorang berandal jalanan pun bisa sukses? Harimawan Suyitno membuktikan lewat perjuangan hidupnya hingga menjadi Duta Besar. Begini kisahnya.

mantan duta besar pensiun 2017
Photo: Doc Altermedia.id

Altermedia.id – Sekolah kehidupan selalu mengajarkan seseorang menjadi lebih baik, jika orang tersebut bisa memetik pelajaran dari titik-titiknya. Itu inti kisah dari Harimawan Suyitno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka dan Maladewa. Berawal dari seorang berandalan di kota Jakarta, Harimawan ditempa oleh kota yang keras menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.

Awalnya, Harimawan bermimpi menjadi arsitek kenamaan. Tetapi keuangannya tidak mencukupi, Harimawan dibesarkan dalam keluarga yang besar. Ia memiliki 10 saudara kandung. Selepas SMA, akhirnya ia memilih untuk mengambil pendidikan di program Akademi Sandi Negara yang ketika itu diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri.

“Jaman itu dulu kami susah, ayah saya hanya PNS departemen perdagangan, pensiunan militer pangkat rendah. Jadi kami cari jalan sendiri-sendiri untuk bisa berhasil,” ujarnya mengenang masa-masa muda.

Ternyata pilihannya ketika itu tidak salah, perlahan namun pasti Harimawan meniti karirnya di Kementerian Luar Negeri. Tahun 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Sri Lanka. Harimawan menunaikan tugasnya hingga tahun 2017 dan memasuki masa pensiun.

“Tanpa kesulitan yang pernah dijalankan, kita pernah bisa sukses. Dengan kesulitan yang ada, hidup harus bisa mengikuti keadaan,” kenangnya lagi.

Pengalamannya jatuh bangun dengan 10 kakak beradik kandung, membuat Harimawan sangat menghargai keluarga. Baginya, harta yang paling berharga adalah keluarga. Ini pula yang ia ajarkan kepada ketiga anaknya.

Baca juga:  Inspirasi Carolina Septerita, Dari SPG sampai jadi Chief of Art Wardah Cosmetics

Simak cerita lengkapnya di channel video kami

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Motivasi Pengusaha Sukses Tito Jiester, yang Pernah Tidur Dijalan

Sukses memang butuh proses. Sama seperti yang dialami oleh Tito. Proses kehidupannya membuatnya bisa menikmati sukses. Berikut kisah Tito selengkapnya.

jiester
Photo: Dokumentasi Altermedia.id

Altermedia.id Lahir 38 tahun yang lalu dari keluarga berkecukupan di Riau, Sumatera Barat, Tito dianugrahkan dengan talenta akademis yang baik. Bertumbuh bersama 4 saudara, Tito memandang masa depan cerah dan penuh pengharapan.

Cahaya Redup

Pengharapan tersebut mulai sirna pada saat kenyamaan hidup terengut secara tiba –tiba dengan runtuhnya bisnis keluarga. Sekeluarga pindah ke Jakarta untuk memulai bisnis baru, namun mereka masih belum dapat mengembalikan kejayaan hidup.

Semakin terpuruknya keadaan, Tito mulai memberanikan diri untuk melangkah keluar dari rumah seiring dengan langkah kakak perempuannya untuk merantau keluar Kota Jakarta.

Merantau ke Kota kecil di Jawa Tengah, tidak menghasilkan buah yang baik, Tito semakin terpuruk, uang habis, Tito diusir dari tempat tinggal sementaranya.

Berbekal uang seadanya, Tito berusaha bertahan hidup dengan kerja serabutan dan beralaskan dipinggir jalan selama 4 bulan, Tito mulai merasakan kerasnya kehidupan yang tidak mengenal kasih lagi untuk anak rantau.

Awal kebangkitan

Usaha dan doa membuahkan hasil, Tito mendapatkan sebuah pekerjaan pada sebuah perusahaan IT Support. Berlangit genteng Gudang, Tito diperbolekan tidur bersama kawanan kecoa dan tikus yang berbisik bersama mimpi dimalam hari.

Ini awal dari ritme kehidupan yang mulai mengarahkan Tito kejalan Hidup sekarang.

“lu Cina tapi miskin!, kasian gw sama elu. Sini gw traktir makan”; begitu gurau Yandi seorang teman kantor, Tito hanya menangapinya dengan sebuah tawa yang lepas seolah tidak ada beban yang terpikul oleh ia.

Baca juga:  Motivasi Pengusaha Sukses Tito Jiester, yang Pernah Tidur Dijalan

Fast Forward

Hasil kerja keras Tito mulai terlihat dari omset perusahaan yang naik 50x lipat pertumbuhan client Software House diterima selama periode Tito berkerja, Tito menghadiahkan diri sebuah motor 150cc dan mulai hidup sebagai anak Kost.

Pertolongan dari sebuah klien untuk membuka toko modifikasi motor yang berawal dari garasi kost-kostan tempat Tito menetap. Usaha Tito berkembang pesat dan membuahkan hasil dengan melebarnya sayap JIESTER MOTOR MODIFICATION ke Ruko Jln Panjang.

Masih berlanjut

Genap 10 Tahun (2019) JIESTER terdengar dikalangan pecinta motor, Sudah 10 Tahun Tito memainkan peranannya layak berada dimeja judi dengan pertaruhan kembali tidur dipinggir jalan atau membeli tempat tidur yang lebih besar, Sudah 10 Tahun Tito membuktikan kecerdasan pemikiran Tito benar.

Sobat Alter, Tito berkata kepada saya;

Hidup cuma sekali, kita tidak bisa hidup selamanya, kalau kita hidup yang benar, rasanya sekalipun cukup.

by Tito Jiester

Cerita ini semoga menjadi inspirasi bagi Sobat Alter dimanapun, siapapun dan kapanpun anda membaca ini.

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Inspirasi Carolina Septerita, Dari SPG sampai jadi Chief of Art Wardah Cosmetics

Wanita hebat yang satu ini memang sudah tidak asing lagi didunia MUA, Yuk simak Video Interview Ibu Carolina Septerita – Chief Of Team Art – Wardah Kosmetik

Carolina Septerita wardah
Photo: Instagram @carolinasepteritabeauty

Altermedia.id Inilah Carolina Septerita, make up artist (MUA) yang
mengawali kariernya sebagai sales promotion girl (SPG). Ia juga pernah menjadi waitress dan beauty advisor. Perjalanan karier dari bawah tidak lantas membuat nyalinya menciut. Niat membahagiakan orang tua dan keluarga menjadi mindset Carol sejak lulus SMA .

Hai Sobat Alter! Kali ini Alter ingin mengajak Sobat Alter untuk
mengenal lebih jauh sosok salah satu wanita Indonesia yang berpengaruh dalam memajukan local brand kosmetik di Tanah Air hingga berhasil merambah mancanegara.

Carol, sapaan akrab bagi wanita yang berusia 40 tahun ini, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Memiliki adik laki-laki dengan jarak usia yang lumayan jauh, yakni 4 tahun, membuat kedua orang tuanya lebih fokus menabung untuk membiayai kuliah adiknya .

“Orang tua saya memang sedang menabung untuk biaya kuliah adik saya. Maklum, yang diprioritaskan adalah anak laki-laki karena anak laki-laki kan yang akan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Jadi, saat itu memang laki-laki yang dinomorsatukan. Jadi saya harus membantu, setidaknya dapat meringankan beban orang tua dengan punya penghasilan sendiri,” begitu ucapnya.

Carol mengawali karier mejadi SPG. Ia pun sempat menjadi waitress dan BA. Ia berkisah pernah bergaji di bawah UMR, bahkan di bawah lima ratus ribu rupiah. Carol menilai, apa pun yang ia jalani, yang terpenting tidak merepotkan orang tua.

Mengurangi beban dan bisa memberikan orang tua sebagian hasil upahnya menjadi mindset utama bagi Carol dalam bekerja. Hanya, ternyata upah minimum tidak cukup untuk diberikan ke orang tua dan sebagian untuk kebutuhan kerja dan lain-lain. Akhirnya, ia berpikir tidak dapat membantu adiknya untuk kuliah kalau terus bekerja dengan upah kecil.

Perubahan karier Carol berawal dari mengambil brosur-brosur make up yang ada di pusat perbelanjaan. Kemudian ia mulai bekerja di salah satu merek lokal kosmetik yang baru saja meluncurkan produknya. Posisi awalnya adalah menjadi BA, lalu ia mengalami beberapa kenaikan posisi. Setelah BA, Carol menjadi koordinator promosi, field controller, sales and promotion supervisor, trainer, sampai terakhir menjadi make up artist.

Carol sempat pula merasa cukup bekerja selama 9 tahun mengingat gaji yang tidak kunjung naik. Padahal, menurut Carol, pekerjaannya banyak banget sehingga terasa tidak sesuai dengan jabatan.

Pada 2004, Carol memutuskan untuk move on karena melahirkan anak pertamanya, Khofifah Albena Akbar. Sempat berhenti bekerja hingga 2007 ternyata tidak bisa membuatnya mudah melupakan dunia kerja.

Baca juga:  Kisah Harimawan Suyitno: Dari Berandal Sampai Jadi Duta Besar

Pada 2007, Carol bekerja di PT. Paragon yang membawahi produk kecantikan dengan merek Wardah. Saat awal masuk ke Wardah, ia menjadi kordinator BA. Pada saat itu, Wardah pun masih baru. Struktur organisasinya belom sekuat produsen kosmetik-kosmetik lain.

Pada 2007 hingga 2009, Carol mendapat tugas mengurusi penjualan, promosi-promosi di mal, pasar tradisional, pasar modern, sampai memberikan kursus kecantikan di institusi-institusi.

Tanda-tanda kesuksean Carol dan Wardah sudah terlihat pada 2009. Saat itu, Carol diberikan tugas membentuk team art. Ia kemudian menyewa MUA untuk promosi di televisi-televisi nasional.

Momentum merebaknya hijaberdari Wardah yang tak luput. Kesuksesan itu tak luput dari peran Carolina Septerita. Hingga sekarang, Wardah tetap konsisten memberikan yang terbaik untuk para konsumennya.

Meledaknya iklan TVC yang dibintangi oleh Dewi Sandra pada 2013
memberikan kesempatan bagi Wardah untuk ekspansi ke luar negeri. Tugas berat menanti.

“Butuh waktu, ketelitian, kesabaran untuk membangun perusahaan yang baru. Apalagi, Wardah merupakan produk kosmetik halal pertama di Indonesia. Enggak gampang memberikan edukasi tentang halal product ke
masyarakat.

Di situlah PR bagi saya. Awalnya produk kami memang untuk muslimah, tetapi makin ke sini, orang-orang sudah mulai aware dengan halal product. Jadi sebenarnya produk halal itu aman dan nyaman untuk digunakan.

Dari proses pembuatan hingga pengemasannya pun mendapat sertifikat dari MUI”, begitu penjelasan dari Carol. Di balik kesuksesan ibu satu anak ini dalam meniti kariernya, ada hal yang membuatnya tersentuh, yaitu ketika disinggung tentang anak.

Ketika siang itu Alter mendatangi rumahnya, ia membagikan kisah hidupnya dari sisi lain. Yang terlihat ceria dan riang, belum tentu ia
setegar batu karang. Begitulah kira-kira yang dapat digambarkan untuk
seorang Carolina Septerita.

Ketika ditanya tentang anak, langsung matanya berkaca-kaca.

“Saya memang suka melankolis kalau sudah disinggung soal anak. Pekerjaan promosi itu bisa membuat saya pulang malam terus. Hampir setiap hari saya punya hanya sedikit waktu untuk quality time dengan anak. Jadi, saya merasa kurang waktu bersama anak dan kehilangan momen-momen berharga waktu dia kecil,” pungkasnya.

Khofifah Albena Akbar, gadis kecil cantik keturunan Belanda Jerman, adalah penyemangat hidup bagi Carol. Bagi wanita kebanyakan, menjadi ibu sekaligus wanita karier tidaklah mudah untuk dijalani.

Baca juga:  Motivasi Robby Firlian untuk Go International

Karier dan keluarga seharusnya seimbang. Carol sebagai ibu pastilah
menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Sejak kecil, Ofi, panggilan si kecil, selalu diajak ke toko buku untuk belajar membaca atau bermain setiap minggunya.

Hingga sang putri tumbuh menjadi gadis remaja pun Carol selalu mengajaknya ke toko buku. Sampai-sampai ketika Carol berpergian ke luar negeri, buku menjadi oleh-oleh untuk anaknya.

Siapa yang menyangka, anak cantik yang mungil dan tumbuh menjadi remaja ini pernah mendapatkan perlakuan bullying. “Waktu itu kan Ofi masih kecil,. Saya tuh seneng banget melihat anak gemuk.

Jadilah saya selalu kasih dia makan. Saat ada pertanyaan, hadiahnya pun makanan. Nah, sampai pada waktu kelas 4 SD, Ofi overweight.

Beberapa temannya merundung dengan sebutan-sebutan yang gak pantas didengar. Saya enggak tahu, sampai akhirnya mendapati Ofi lagi di dalam selimut sambil menangis. Ketika ditanya, dan dengar langsung penjelasannya, langsung saya menangis.

“Ternyata salah. Ibu tidak boleh egois dengan mendesakkan keinginannya untuk anaknya sehingga terlihat baik di matanya. Orang lain akan melihat dengan cara yang berbeda,” terangnya.

Sejak saat itu, Carol selalu berusaha memberikan waktu berkualitas termasuk sharing kepada anaknya. Ia juga memiliki trik yang jitu, yaitu mengikuti kemauan anak tanpa harus memaksanya, dan memberikan kepercayaan pada anak.

“Yang penting anak tetap dalam pengawasan meskipun kita bebaskan,” tambahnya.

Tips lainnya adalah menggali potensi yang ada dalam diri anak. Itu ternyata lebih bagus dibanding memaksa anak untuk mempelajari apa yang menjadi kelemahaan dalam pelajarannya.

“Ofi itu suka sekali dengan bahasa. Jadi saya mendukung penuh. Contohnya dengan mengikutkannya dalam lomba speech. Dia suka speech, dan pertama kali ikut lomba speech Ofi menang se-Al Azhar Jabodetabek. Di situ saya merasa bangga banget. Sekarang bahasa Inggris Ofi sudah casciscus. Ia juga bisa bahasa Belanda, tapi belum casciscus. Kemampuannya bisa ditambah lagi. Sekarang ia sedang mengikuti les bahasa Mandarin,” sambungnya ketika diwawancara oleh team Alter.

Ketika Ofi mengalami perundungan (bullying), Carol sangat terpukul dan berusaha untuk tetap ada di sampingnya. Untuk menebus momen-momen yang terlewatkanpada waktu Ofi kecil, sekarang Carol membalasnya dengan curahan kasih sayang kepada anak semata wayangnya tersebut.

Baca juga:  Inspirasi Carolina Septerita, Dari SPG sampai jadi Chief of Art Wardah Cosmetics

“Sekarang, setiap Ofi mau tidur, aku selalu minta maaf dan membisikkan
ke telinganya, ‘I love you so much‘. Aku enggak pernah merasa malu
atau gengsi untuk mengungkapkan perasaanku. Kalau memang salah
aku selalu minta maaf. ‘Maafin mama, ya nak’.

Saya juga enggak pernah gengsi untuk bilang terima kasih. Intinya, kalau kita salah, kita minta maaf. Kalau dia membantu, kita juga mesti berterima kasih. Ungkapan itu memang harus diutarakan. Jadi, ketika anak salah, dia juga akan meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Saya sebisa mungkin buat dia merasa nyaman. Kayak teman saja. Jadi enggak ada yang ditutup-tutupin.” Begitu penjelasannya saat ditemui di kediamannya.

Tantangan terberat bagi Carol adalah ketika anak mulai kritis dan
banyak bertanya. Sebisa mungkin ia memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak.

Anak tidak bisa ditakut-takuti, apalagi dengan mitos-mitos yang tidak baik bagi perkembangannya. Sedini mungkin, orang tua juga harus memberikan pemahaman tentang sex education. Banyak kasus pelecehan seksual terjadi karena sex education dinilai masih tabu.

“Kita tidak tahu remaja sekarang. Semua bisa diakses lewat internet. Kita sebagai orang tua tidak dapat mengawasi anak 24 jam. Daripada dia penasaran, aku kasih tahu dan enggak ada yang aku tutup-tutupi. Yang penting anak juga harus terus terang kepada kita. Makanya Saya berusaha untuk menjadi teman juga untuk Ofi,” sambungnya saat ditanya tentang tantangan terberat pada saat memiliki anak yang tumbuh remaja.

Sebagai penutup, Carol berkata bahwa saat ini apa yang ia lakukan adalah berbuat baik kepada siapa pun. Ia berpendapat bahwa apa yang dilakukan akan kembali kepada dirinya. Namun, Carol berkata pula bahwa untuk setiap kebaikan yang ia lakukan saat ini, ia berharap akan kembali ke anaknya.

“Semua, apa pun yang saya lakukan buat anak, perbuatan baik, saya minta kepada Allah semoga berkahnya kembali untuk anak. Aku tuh sayang banget sama dia,” tutupnya dengan berlinangan air mata.

Nah, Sobat Alter, kita bisa memetik pelajaran dari satu pengalaman baik yang kita dapat. Apa pun yang kita lakukan, apa pun yang kita perbuat akan kembali ke diri kita. Berbuat baiklah agar kebaikan itu tumbuh dalam
diri kita sehingga kita dapat menuai kebaikan lagi dari semesta.

Inspiring other people
Continue Reading

Tokoh Inspiratif

Motivasi Robby Firlian untuk Go International

Photo: Robby Private Collection

Altermedia.id – Karena kepo kepada kopi, Robby Firlian menemukan bakat yang mengantarkannya kepada kesuksesan. Hai Sobat Alter, kali ini Alter akan membahas tentang perjalanan karier Robby Firlian (26). Berawal dari perjalanan karier yang berliku, akhirnya Robby menemukan bakatnya yang terpendam dan dapat mengeksplorasi hobinya menggambar.

Awal Karier

Latar belakang pendidikan yang ia ambil adalah jurusan F&B Product. Setelah lulus ia sempat bekerja di hotel sebagai chef. Tuntutan rapi dan bersih tanpa brewok, membuat Robby merasa agak jemu. Ia senang dengan grooming asal tidak mewajibkan untuk mencukur brewoknya. Kebetulan ada beberapa coffeeshop yang memperbolehkan barista memelihara brewok tetapi tetap good looking. Akhirnya ia memutuskan untuk sedikit keluar jalur dari produk makanan dan minuman dan pindah menjadi barista.

“Awalnya kepo sama kopi. Sekarang kan coffeeshop sudah menjamur tuh di mana-mana. Terus gue nongkrong di salah satu coffeeshop dengan brand internasional. Gue pesan hot latte waktu itu. Pas gue perhatikan foam-nya, gue hirup aroma kopinya, dan gue cicip, kayak ada yang beda. Dari situ gue kepo“, ucap Robby.

Karena rasa penasarannya tersebut, Robby memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan di coffeeshop ternama itu. Dengan diterimanya menjadi barista tidak membuatnya langsung cinta kepada kopi. “Gue mulai terjun di dunia kopi pada awal 2015, cuma masih belum suka banget sama kopi”, ujarnya. Ia kemudian menganggap pekerjaan barista menjadi membosankan. Lalu, Robby memutuskan resign dan mencari coffeeshop lain yang lebih memberikan tantangan. “Akhirnya gue masuk St. Ali pada 2016. Nah, di sana gue mulai benar-benar tertarik dengan kopi,” ucap Robby.

Baca juga:  Nanda Ivens: Belajar Hal Baru Setiap Hari

The Coffee Art Making

Karier Professional

Berawal rasa penasaran dengan teknik yang ribet dalam membuat kopi latte, ia pun menekuni latte art di St. Ali, yang membantunya dengan memberikan pelatihan. “Dari roastery lab St.Ali gue belajar banyak tentang kopi dari pertumbuhan, jenis kopi, proses kopi sampai menjadi sebuah minuman. Gue pun mulai mendalami kopi,” ucapnya kembali.

Rasa ingin tahu dengan proses teknik manual brew membuatnya berpikir bahwa teknik tersebut ribet. Ternyata, ada satu teknik lagi yang unik dan memiliki tantangan tersendiri baginya. “Gue jadi teringat waktu order latte di gerai kopi brand internasional itu. kok bisa ya buat seperti itu? Bagaimana ya caranya? Gue pun tertarik latte art. Gue memang aslinya suka gambar. Jadi, kenapa enggak gue tuangkan saja ya di secangkir kopi. Hehehe. Dengan banyak orang yang suka latte, mereka mungkin tambah suka kalau gue gambar sesuatu di atasnya. Menurut gue, membuat latte art yang rapi dan drinkable adalah tantangan. Awal gue buat latte art enggak langsung rapi. Gue terus belajar untuk memperbaiki latte art sampai bisa menggambar apa pun yang ingin gue gambar di secangkir kopi itu,” tutur Robby.

Cute Art latte

Kompetisi Barista

Dengan latihan dan kerja keras, Robby lantas tertarik untuk bisa mengikuti kompetisi. Di St. Ali, Robby mendapat kesempatan untuk mengikuti kompetisi tersebut. St. Ali kerap mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional. Mereka memiliki ketentuan dan syarat yang berlaku bagi setiap barista mereka. Untuk bisa menjadi perwakilan, tes diadakan buat seluruh barista St. Ali. Apabila memang layak, mereka yang lolos dapat mendaftar dan mulai latihan secara intens di roastery lab St. Ali.

Baca juga:  Inspirasi Carolina Septerita, Dari SPG sampai jadi Chief of Art Wardah Cosmetics

“Sebelumnya gue juga pernah mengikuti tes, tapi cakupan kompetisinya belum nasional. Dari pengalaman itu, gue mulai percaya diri. Follower gue terus bertambah banyak sampai gue sekarang bisa menerima endorse produk. Hehehe. Setelah itu, St. Ali Australia ngelirik gue. Gue diminta untuk kerja di sana. Tapi, menurut St. Ali di sini, gue adalah aset mereka. Jadi nanti dulu, dan alhamdulillah gue juga mau fokus untuk kejuaraan di Brasil dulu untuk menaikan nama Indonesia di Industri kopi. Yaa semoga gue menang lalu jadi dirotasi deh ke St. Ali Aussie,”  ucapnya ditutup dengan derai tawa.

Sobat Alter, kita dapat menarik kesimpulan dari cerita Robby di atas kalau Sobat Alter masih berpikir bagaimana meraih kesuksesan. Kesuksean itu tidak dapat kita tunggu dengan melipat tangan saja atau bekerja secara monoton tapi jiwa Sobat Alter tidak di sana. Ada baiknya melihat peluang, dan menaruh hasrat Sobat Alter dalam pekerjaan tersebut. Teruslah berusaha, berjuang sampai kesuksesan yang Sobat Alter inginkan tercapai. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Inspiring other people
Continue Reading

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id