Connect with us

Motivasi Lifestyle

7 Negara Penghasil Kopi di Dunia

Kopi jadi minuman yang begitu disukai. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lain. Bahkan ada 7 negara yang jadi penghasil kopi terbesar.

latte art
Photo: Robby Firlian Doc

Altermedia.id – Kopi adalah minuman yang tidak asing lagi di seluruh dunia, bahkan telah menjadi menu yang harus dinikmati setiap harinya. Di negara-negara tertentu, kopi mempunyai cita rasa sendiri, tergantung dengan kondisi tanah, suhu, tanaman yang ada di sekitar biji kopi tersebut ditanam.

Indonesia sendiri termasuk dalam 7 Negara yang berpengaruh dalam pasokan kopi. Indonesia menduduki peringkat 4 dunia. Berikut tabel negara penghasil kopi dan rasanya.

7 Negara Penghasil Kopi di Dunia

kopi brazil

1. Kopi Santos

Dengan kekentalan sedang dan kadar asam yang cukup lembut, kopi ini terkenal nyaman di mulut karena meninggalkan kesan lembut lengkap dengan rasa asam khas kopi Arabika. 

kopi robusta dari vietnam

2. Kopi Robusta

Kopi Vietnam memiliki keunikan rasa yang mampu membuat pencinta kopi jatuh cinta. Karakteristiknya pahit dan harum, tetapi memiliki sensasi seperti cokelat.

kopi Colombian Milds dari colombia

3. Colombian Milds

Beraroma kakao dan ceri dengan rasa yang kaya dan berani menghasilkan kombinasi rasa ceri, karamel,dan cokelat.

Kopi Ethiopian Harrar dari ethiopia

4. Ethiopian Harrar

Aroma rempah-rempah seperti kayu manis dan kapulaga mendominasi kopi ini.

Kopi Catimor dari india

5. Catimor

Memiliki aroma yang harum, tapi tidak sebaik jenis kopi-kopi pada umumnya.

kopi Guatemala Huehuetenango dari Guatemala

6. Guatemala Huehuetenango

Kopi ini memiliki aroma floral dengan cita rasa fruity, dengan keasaman buah jeruk dan medium body.

7. Kopi Toraja (Kalosi)

kopi ini memiliki keasaman yang segar seperti apel hijau atau stroberi. Ada rasa cokelat yang tertinggal setelah menyesap kopi ini.

Kopi Khintamani

Kopi Kintamani memiliki rasa unik yaitu rasa buah-buahan yang asam dan segar sebagai pengaruh dari sistem tumpang sari. Selain rasa buah, kopi ini memiliki cita rasa yang lembut dan tidak berat hasil proses basah atau wet processed.

Kopi Aceh Gayo

Kopi Aceh Gayo memiliki rasa khas, yaitu rasa pahit yang tidak tertinggal di lidah. Rasa pahit itu nyaris tidak terasa pada kopi ini. 

Baca juga:  Cerita Jemi Ngadiono, Pendiri 1000 Guru yang Sempat Nyaris Putus Sekolah

Kopi Jawa

 Aroma rempah yang terasa secara alami menjadikan kopi jenis ini dapat dinikmati dengan karakteristik yang berbeda dari jenis kopi lain.

Mandheling (Lintong)

Rasa kopinya manis dengan keasaman yang halus dan aroma yang bertahan lama. 

Data dari: Mandatary.asia

Bagaimana Sobat Alter? Siap untuk mencoba? Baca juga artikel barista muda dari Indonesia yang telah menduduki peringkat 9 World Latte Art Championship Segelas Kopi buat Robby Goes to Brazil

Inspiring other people
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Motivasi Lifestyle

Siti Sumiati, Bidan Apung Kepulauan Seribu yang Sukses Mendunia

Siti Sumiati menjadi sosok bidan populer yang namanya mendunia berkat keberhasilannya menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia

ALTERMEDIA
Photo: Pexels

Alih-alih memilih menjalani masa pensiunnya dengan berkumpul bersama keluarga, Siti Sumiati justru memilih untuk tetap mengabdi sebagai bidan. Bahkan ia rela menjadi seorang bidan apung di Kepulauan Seribu.

Wanita kelahiran tahun 1950 itu kini memang sudah pensiun dari profesinya. Akan tetapi, jasa-jasanya sebagai bidan bagi para ibu hamil di sekitar kawasan Kepulauan Seribu masih terkenang.

Seperti apa kisah selengkapnya? Yuk, cari tahu di sini, Sahabat Alter!

Menjadi petugas kesehatan sejak 1970-an

Siti Sumiati atau yang lebih akrab disapa Bidan Sum ini merupakan sosok wanita tangguh dengan hati yang begitu tulus. Ia akan berjuang sepenuh jiwa dan raga tanpa membeda-bedakan warga yang membutuhkannya.

Sejak tahun 1970-an, ia sudah ditugaskan sebagai bidan di kecamatan
setempat. Namun, karena keterbatasan petugas kesehatan, maka Bidan Sum juga harus berkeliling Pulau Seribu untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Mengabdi dengan sepenuh hati

Meski tinggal di kawasan Pulau Pramuka, Siti Sumiati tidak pernah mengeluh untuk menyeberang ke pulau-pulau lain, mulai dari Pulau Panggang hingga Pulau Sebira, yang harus ditempuh dengan speedboat puskesmas keliling yang membutuhkan waktu selama kurang lebih tujuh jam perjalanan.

Selama lebih dari 38 tahun, Bidan Sum sudah membantu persalinan ibu hamil meski dengan fasilitas yang terbatas. Tak mengherankan jika banyak masyarakat sekitar Pulau Seribu selalu menantikan kehadiran Bidan Sum setiap harinya.

Baca juga:  Para CEO Sukses yang Bisa Kamu Contoh

Menurunkan angka kematian ibu melahirkan

Keberadaan Siti Sumiati sebagai bidan apung yang bertugas di kawasan Pulau Seribu ternyata juga berdampak cukup besar pada keselamatan persalinan di sana. Tercatat setidaknya sejak ada Bidan Sum, angka kematian ibu melahirkan bisa menurun hingga 0% di Kepulauan Seribu. Pencapaian ini tentu tidak terlepas dari kerja keras, perjuangan, dan keikhlasan Bidan Sum dalam melayani ibu-ibu hamil yang membutuhkan pertolongannya saat melahirkan.

Terpilih jadi wakil Indonesia di Kongres Bidan Sedunia

Sosok Siti Sumiati mencuri perhatian dunia lewat perjuangannya menyelamatkan banyak ibu melahirkan. Bahkan pada Juni 2008 silam, ia terpilih menjadi satu-satunya perwakilan bidan dari Indonesia yang hadir di Kongres Bidan Sedunia di Glasgow, Skotlandia.

Bidan Sum yang sudah mendunia ini pun tidak lantas berpuas diri dan menjadi tinggi hati. Sepulangnya dari kongres internasional tersebut, ia tetap bersemangat memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat di Kepulauan Seribu.

Mendapat penghargaan internasional

Selain diundang secara khusus untuk menghadiri Kongres Bidan Sedunia, rupanya Bidan Sum pulang tidak dengan tangan kosong. Ia berhasil membawa pulang dua penghargaan internasional yang membanggakan. Dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Bidan Sum diberi gelar “Penyelamat Ibu Melahirkan”. Sementara itu, Pemerintah Kuba juga memberikan piagam penghargaan untuk pencapaian Siti Sumiati menurunkan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Baca juga:  Cara Menghadapi Orang Tua yang Terkena Post Power Syndrome

Dua penghargaan internasional ini tentu tidak akan didapatkan tanpa kerja keras dan kesungguhannya.

Pengabdian Siti Sumiati layak menjadi inspirasi bagi Sahabat AlterMenjadi sosok wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah memang bukan hal yang gampang. Namun, dengan tekad dan ketulusan hati, kamu juga bisa meniru keberhasilan Bidan Sum dalam mengabdikan diri untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Melihat pengabdian Siti Sumiati, sudah tentu Sahabat Alter semakin terinspirasi. Menjadi sosok wanita yang kuat dan tidak mudah menyerah memang bukan hal yang gampang. Namun, dengan tekad dan ketulusan hati, kamu juga bisa meniru keberhasilan Bidan Sum dalam mengabdikan diri untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Terlepas dari apa pun bidang keilmuan yang kamu tekuni, pastikan bahwa nantinya kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Tokoh Pejuang Kelautan dan Perikanan Indonesia yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Ayo berkenalan dengan tiga tokoh yang membuat kelautan dan perikanan Indonesia bisa tetap kuat dan semakin berkembang hingga detik ini.

ALTERMEDIA
Photo: Pexels

Sebagai negara dengan wilayah perairan yang luas, julukan negara maritim disematkan kepada Indonesia. Hal ini tentu saja wajar karena kekayaan laut Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia dan bisa menarik perhatian dunia.

Ya, kekayaan laut Indonesia yang melimpah membuat sosok-sosok berikut ini bisa memperkenalkan negara ini kepada dunia. Mereka memperjuangkan kelautan dan perikanan Indonesia. 

Apakah Sobat Alter penasaran? Jika penasaran, ayo berkenalan dengan tiga tokoh yang membuat kelautan dan perikanan Indonesia bisa tetap kuat dan semakin berkembang hingga detik ini.

Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid 
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia pertama yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal sebagai Gus Dur. Jika mendengar nama beliau, pastinya banyak yang tidak menyangka bahwa pada masa kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4 ini, Gus Dur menciptakan Departemen Eksplorasi Laut yang merupakan cikal bakal Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ya, ketika pada masa sebelumnya sama sekali tidak ada yang peduli atau memfokuskan satu pemimpin di kabinet pemerintahan untuk mengurus kelautan dan perikanan, Gus Dur malah melihat faktor ini harus dipimpin oleh seorang menteri.

Ide brilian ini terus dieksekusi secara perlahan-lahan, walaupun awalnya sempat mengalami kesulitan juga. Bahkan ketika sudah tidak menjabat sebagai presiden, Gus Dur masih tetap membantu para nelayan tentang kebijakan penggunaan jaring batu yang hanya menguntungkan perusahaan besar saja pada 2006. Dari sikap dan dedikasi Gus Dur dalam kelautan dan perikanan Indonesia, sudah sangat jelas beliau layak masuk ke dalam daftar ini.

Baca juga:  Para CEO Sukses yang Bisa Kamu Contoh
Rokhmin Dahuri
Rokhmin Dahuri
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia kedua yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Rokhmin Dahuri. Jika Sobat Alter masih asing mendengar namanya, Rokhim adalah Menteri Eksplorasi Kelautan yang kemudian berganti menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2001 hingga 2004. Sejak kecil, beliau sudah sangat dekat dengan dunia laut dan perikanan Indonesia.

Kedekatan itu dikarenakan beliau lahir dengan ayah seorang nelayan tradisional dan ibu seorang pedagang ikan pasar. Perjalanan kariernya pun dibangun berdekatan dengan dunia yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Bahkan ketika masih menjadi Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil saat Gus Dur masih memerintah, Rokhmin terus mengemukakan perjuangannya kepada pemerintahan. Berkat usahanya ini, Rokhmin berhasil naik menjadi menteri di pemerintahan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti
Photo:  Wikipedia bahasa Indonesia

Tokoh kelautan Indonesia ketiga yang berhasil memperjuangkan kelautan dan perikanan adalah Susi Pudjiastuti. Jika Sobat Alter tidak mengikuti sepak terjang beliau selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Kerja, maka sangat disayangkan.

Ya, pernyataan di atas tidaklah berlebihan. Wanita yang akrab dipanggil Bu Susi ini terlihat sangat jelas memperjuangkan hak nelayan yang semakin terganggu para pengusaha besar. Nama beliau tidak hanya terkenal di Indonesia saja. Ia tersohor hingga ke dunia internasional berkat salah satu kebijakannya yang dianggap kontroversial, tapi sangat didukung masyarakat Indonesia, yaitu menenggelamkan kapal asing pencuri ikan.

Baca juga:  Kecelakaan Pesawat di Dunia pada 2018 dan Penyebabnya

Dengan kebijakannya yang ingin menjaga kekayaan laut dan perikanan Indonesia dari pihak asing, Bu Susi tidak pernah setengah hati menjalankan tugasnya dan menjadi menteri yang dicintai oleh rakyat Indonesia yang senang melihat tugasnya selama ini.

Bagaimana? Apakah Sobat Alter sudah kenal dengan tiga tokoh di atas? Demi bisa menjaga kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia, Sobat Alter jangan lupa untuk turut ikut andil agar julukan negara maritim semakin kuat sepanjang waktu.

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Dandhy Laksono: Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Dokumenter

Mengenal Dandhy Laksono, sosok di balik Sexy Killers yang membuat banyak film dokumenter bertemakan isu lingkungan di Indonesia.

ALTERMEDIA
Photo: Instagram @dandhy_laksono

Nama Dandhy Laksono mencuat menjelang pelaksanaan pemilu pada April 2019 lalu. Hal yang menyebabkannya tiba-tiba populer di kalangan masyarakat adalah film dokumenternya yang mengangkat topik kondisi lingkungan dan alam Indonesia. Sexy Killers, film garapan Dandhy Laksono dan Ucok Suparta, ditonton sebanyak 21 juta kali oleh masyarakat Indonesia. Film dokumenter ini menjadi fenomenal karena tanggal perilisannya yang dekat dengan pelaksanaan pemilu. Beragam komentar dan tanggapan dilayangkan pada film dokumenter Dandhy ini. 

Bagaimanakah sosok Dandhy Laksono yang sebenarnya? Dan apa alasan terbesar Dandhy membuat film dokumenter Sexy Killers? 

Di balik Sexy Killers Dandhy Laksono

Pria dengan nama lengkap Dandhy Dwi Laksono ini memang menunjukkan kecintaannya terhadap film dokumenter sejak lama. Sexy Killers bukanlah film dokumenter pertamanya. Film ini hanya satu dari dua belas film yang digarap Dandhy Laksono dengan Ucok Suparta. Film yang resmi dirilis di YouTube pada 13 April 2019 ini merupakan secuil kisah perjalanan yang dilakukan Dandhy Laksono saat mengelilingi Indonesia, dalam Ekspedisi Indonesia Biru sepanjang 2015. 

Sebelum resmi dirilis melalui kanal berbagi video gratis Youtube, film Sexy Killer sudah ratusan kali ditonton oleh jutaan pasang mata melalui acara nonton bareng di 476 titik di kota-kota seluruh Indonesia pada rentang 5-11 April 2019. Bahkan setelah dirilis di Youtube pun, Sexy Killers masih ditonton dalam acara nobar yang dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga pesantren. 

Baca juga:  Ibu adalah Guru Terbaik

Alasan pemilihan judul Sexy Killers dan tema lingkungan yang diangkat

Sebagai penonton, mungkin Sobat Alter bertanya-tanya apa alasan pemilihan judul Sexy Killers untuk sebuah film dokumenter yang mengangkat tema pertambangan batu bara di Indonesia. Jika dilihat sekilas, memang judul Sexy Killers tidak menggambarkan film dokumenter tentang pertambangan batu bara. Namun, Dandhy Laksono memiliki pandangan sendiri tentang judul dan tema filmnya.

Film yang berlatar belakang pertambangan batu bara di Kalimantan Timur ini merupakan satu dari sekian banyak cerita perjalanan Dandhy Laksono dalam Ekspedisi Indonesia Biru. Dalam perjalanan tersebut, Dandhy Laksono menemukan banyak sekali cerita masyarakat terkait isu sosial yang dihadapi dan tidak pernah diangkat ke permukaan. Sebagai seorang jurnalis, Dandhy Laksono ingin Sobat Alter dan masyarakat lain mengerti bahwa ada banyak sekali masalah sosial di Indonesia. 

Menurut Dandhy Laksono, judul Sexy Killers digunakan untuk menggambarkan batu bara sebagai komoditas yang murah, masif, mudah, terjangkau, dan menghasilkan banyak keuntungan. Secara bisnis, batu bara ini dianggap seksi. Maka dari itu, diberikanlah judul Sexy Killers untuk film dokumenter yang mengangkat isu pertambangan batu bara. 

Mengenal sosok Dandhy Laksono dan rumah produksi WatchDoc 

Bagi yang tidak tahu, mungkin kamu akan bertanya-tanya siapa Dandhy Laksono dan bagaimana sepak terjang kariernya di bidang pembuatan film dokumenter hingga berhasil membuat film yang memukau jutaan masyarakat Indonesia. 

Baca juga:  Cerita Jemi Ngadiono, Pendiri 1000 Guru yang Sempat Nyaris Putus Sekolah

Dandhy Laksono awalnya dikenal sebagai salah satu jurnalis senior dan profesional di sebuah media massa. Ia pernah bekerja di media cetak, online, televisi, dan radio. Ia adalah wartawan, aktivis, sekaligus pendiri rumah produksi film dokumenter WatchDoc. Setelah bertahun-tahun menjalani profesi sebagai jurnalis, Dandhy Laksono ingin lebih mengangkat tema dan isu sosial di Indonesia yang masih tersimpan rapat dan tidak pernah dibawa ke ruang publik. 

Dengan mendirikan rumah produksi WatchDoc, Dandhy Laksono membuat 125 episode film dokumenter dan 540 feature televisi, bersama sesama rekan mantan wartawan, Andhy Panca Kurniawan. Sebanyak 40 karya Dandhy Laksono yang dibuat di WatchDoc pernah mendapat berbagai macam penghargaan. 

Bisa dikatakan, hampir seluruh karya Dandhy Laksono di WatchDoc mengangkat isu lingkungan dan sosial Indonesia. Ini karena sebagai seorang jurnalis, Dandhy Laksono ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa masih banyak sekali hal yang tidak Sobat Alter ketahui. Melalui film dokumenternya, Dandhy Laksono ingin mengajak Sobat Alter dan masyarakat agar tidak menutup mata pada masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. 

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Belajar Jadi “Orang Bodoh” yang Sukses dari Bob Sadino

Ada banyak pelajaran dan motivasi yang bisa dipetik dari kehidupan pengusaha sukses Bob Sadino. Termasuk jadi “orang bodoh” yang sukses!

altermedia indonesia
Photo: Wikipedia bahasa Indonesia

Pengusaha sukses asal Lampung, mendiang Bob Sadino, memang memiliki kisah hidup yang selalu menarik untuk dibahas. Selain penampilannya yang selalu terlihat nyentrik, Bob Sadino juga punya kiat-kiat nyeleneh agar bisa menjadi seorang yang sukses secara finansial. Tertarik untuk bisa sukses seperti Bob Sadino? Simak perjalanan hidup beserta wejangan-wejangan dari mendiang Bob Sadino berikut ini, Sobat Alter!

Lahir dari keluarga berkecukupan

Sebenarnya Bob Sadino lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan. Warisan dari orang tuanya yang didapat saat ia berusia 19 tahun bahkan mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Namun, alih-alih memilih hidup tenang dengan harta warisan, Bob justru memilih untuk berkeliling dunia.

Setelah puas menjelajah dunia, Bob memutuskan untuk tinggal di Belanda dan bekerja untuk Djakarta Lloyd. Di sana ia kemudian memutuskan untuk menikahi Soelami Soejoed. 

Sembilan tahun berselang, Bob dan keluarga kecilnya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air pada 1967. Kepulangan Bob saat itu bisa dibilang sangat mewah karena ia juga mengangkut dua buah mobil Mercedes miliknya. Sesampainya di Tanah Air, ia bahkan membeli tanah di kawasan elite Kemang, Jakarta Selatan.

Keluar dari pekerjaan kantoran

Pulang ke Indonesia juga membuat Bob terbuka akan pemikiran-pemikiran baru. Salah satunya adalah keinginan untuk mulai merintis usaha sendiri dan berhenti menjadi karyawan. Ide tersebut pun ia jalani. Ia keluar dari perusahaan yang memberinya gaji besar dan memutuskan untuk menyewakan dua mobil mewahnya.

Baca juga:  Keikhlasan Pengantin dalam Pernikahan Sederhana, Kamu Bisa?

Sayang, pada suatu saat, mobil-mobil mewah tersebut harus mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan lagi. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, Bob pun tidak bisa memperbaiki mobilnya seperti sedia kala. Ia akhirnya memilih untuk menjadi seorang kuli bangunan dengan gaji Rp100 setiap hari.

Rintis bisnis baru tanpa pikir panjang

Perubahan karier dari seorang pekerja kantoran menjadi kuli bangunan tentu membuat mental Bob jatuh. Ia bahkan sempat merasa depresi di masa-masa itu.

Beruntung, seorang rekan menyarankan Bob Sadino untuk memulai bisnis telur ayam negeri. Bob, yang memang terkenal tidak suka membuat perencanaan, pun langsung mengiyakan ide tersebut. Dengan modal seadanya, ia mulai merintis bisnis telur ayam negeri untuk bersaing dengan telur ayam kampung yang populer saat itu.

Namun, lama-kelamaan bisnis nekat Bob mulai mendapat pasar tersendiri. Para ekspatriat dan orang Indonesia yang lama bermukim di luar negeri sangat menyukai telur dagangannya. Harga telur ayam negeri yang cukup bersahabat pun lama-kelamaan menarik lebih banyak pembeli lokal. Siapa sangka, kesuksesan tersebut dimulai dari pemikiran “bodoh” karena diambil dalam waktu singkat?

Segera kembangkan bisnis baru

Meski bisnis telur ayam negeri miliknya bisa dibilang tidak selalu mulus, Bob tidak kapok untuk memulai bisnis baru yakni berjualan daging ayam kampung. Pada awal-awal perluasan bisnis ini sudah bisa diduga. Bob selalu merugi karena orang-orang tidak terlalu tertarik dengan daging ayam negeri.

Baca juga:  8 Film Kartun yang Mendidik untuk Anak-Anak

Namun, dalam buku Belajar Goblok dari Bob Sadino, justru hal itulah yang dicarinya. Ia menganggap bahwa kerugian dan kegagalan adalah sebuah hal yang wajib dilalui sebelum mencapai kesuksesan. 

Sebenarnya masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan mendiang Bob Sadino. Namun, dari sini saja Sobat Alter bisa belajar bahwa pemikiran-pemikiran nyeleneh atau bahkan bodoh seperti mencari kegagalan pun bisa mendatangkan kesuksesan. Bagaimana, Sobat Alter, tertarik untuk mengikuti tips bisnis ala orang bodoh dari Bob Sadino?

Inspiring other people
Continue Reading

Motivasi Lifestyle

Kisah Dede Oetomo, Perjuangkan Hak-Hak Kaum LGBT di Indonesia

Dede Oetomo, aktivis LGBT Indonesia, GAYa Nusantara
Photo: Pexels

Berbicara mengenai LGBT di Indonesia merupakan hal tabu bagi sebagian besar masyarakat. Perilaku dari kaum ini dianggap menyimpang dan tidak sesuai dengan norma baik norma sosial hingga norma agama. Adalah Dede Oetomo, seorang sosiolog, aktivis AIDS, dan aktivis gay di Indonesia yang salah satunya kerap memperjuangkan hak-hak kaum LGBT di Tanah Air untuk mendapatkan perlakuan yang sama di masyarakat. Bagaimana sepak terjangnya dalam memperjuangkan hak kaum LGBT dan kisahnya membangun organisasi gay di Indonesia? Inilah kisahnya yang bisa Sobat Alter ikuti!

Perjuangkan Hak Kaum LGBT

Sebagai aktivis yang getol memperjuangkan hak-hak kaum LGBT di Indonesia, Dede Oetomo sejak dulu dikenal telah melakukan berbagai macam jalur. Doktor linguistik lulusan Cornell University ini pun sejak dulu tidak segan-segan untuk terbuka mengenai keberadaannya sebagai seorang gay. Bahkan dia menjadikannya sebagai kebanggaan karena merasa berbeda dari masyarakat pada umumnya. Demikian seperti yang ditulis dalam Majalah Matra Edisi 104, Maret 1995 silam.

Dede Oetomo tidak hanya memberikan advokasi kepada kaum LGBT secara terbuka. Dia pun juga pernah mendaftarkan diri menjadi komisioner komnas HAM pada 2012 lalu, dengan harapan suatu saat nanti mereka akan diakui eksistensinya sebagai manusia dan dihormati hak asasinya di bawah naungan HAM.

Dirinya juga pernah bercita-cita suatu saat nanti ada partai khusus bagi kaum LGBT. Dari sanalah diharapkan kaum LGBT ini bisa menyuarakan aspirasinya dalam roda pemerintahan dan politik. Hingga saat ini pemerintah masih bersikap dingin terhadap kelompok ini. Salah satu bentuk advokasi dan pelayanan konseling serta perlindungan terhadap kaum LGBT di Indonesia yang dilakukan Dede Oetomo ialah dengan membentuk organisasi GAYa Nusantara dan IDAHOT.

Baca juga:  Keikhlasan Pengantin dalam Pernikahan Sederhana, Kamu Bisa?

Dirikan Organisasi GAYa Nusantara

GAYa Nusantara bisa dibilang sebagai pelopor gerakan LGBT di Surabaya. Organisasi ini didirikan pada 1 Agustus 1987 di Surabaya. Tujuan utamanya adalah sebagai wadah bagi para kaum LGBT untuk berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan sesama di Tanah Air. Lambat laun, organisasi ini pun juga didirikan di berbagai kota seperti di Jakarta, Bandung, Sidoarjo, dan Makassar.

Berbeda dengan organisasi lainnya, selain fokus melakukan advokasi, organisasi ini tidak menghimpun anggota. Jadi, dapat dibilang hanya menyediakan layanan saja kepada masyarakat mengenai kaum LGBT. Pelayanan itu mulai dari penerbitan majalah bulanan, memberikan bimbingan konseling bagi masyarakat tentang LGBT, hingga melakukan kampanye pencegahan terhadap penyakit HIV dan AIDS.

Organisasi ini pun juga akan memfasilitasi dan memberikan advokasi khususnya bagi para pria gay untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendapatkan penghasilan seperti mayoritas masyarakat pada umumnya.

IDAHOT di Indonesia

IDAHOT merupakan akronim dari International Day Against Homophobia and Transphobia. Gerakan ini diperingati setiap tanggal 17 Mei yang bertujuan untuk melawan adanya homofobia dan transfobia. Perayaan IDAHOT di Indonesia juga bisa dibilang menjadi hal yang cukup baru dan muncul pada 2012 lalu.

Di setiap tahunnya, organisasi dan kelompok LGBT menggelar aksi ini di depan masyarakat umum. Semangat IDAHOT seiring berjalannya waktu semakin menjadi relevan. Bahkan kini tidak hanya organisasi LGBT seperti GAYa Nusantara dan serupa saja yang melakukan aksi seperti ini, melainkan juga kelompok lain seperti kelompok perempuan yang menuntut adanya kesetaraan gender hingga kelompok-kelompok yang bergerak dalam ranah hak asasi manusia.

Baca juga:  Qory Sandioriva, Mantan Puteri Indonesia yang Kini Berjuang Melawan Lupus

Kisah Dede Oetomo bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus membantu memperjuangkan hak-hak kaum minoritas di Indonesia. Terlepas dari orientasi seksual, latar belakang agama, dan lainnya, pada dasarnya kita memiliki derajat yang sama. Jadi, tidak ada alasan untuk merendahkan atau menjatuhkan orang lain.

Inspiring other people
Continue Reading

Topics

Trending

Copyright © 2019 Altermedia.id